Tuesday, 6 December 2011

KAIDAH TANDA BACA DALAM BAHASA INDONESIA

Share it Please


1.        Tanda Titik (.)
a.      Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh:
1.      Sulaiman pergi ke Surabaya.
2.      Biarlah mereka pergi semua.
3.      Budi menanyakan kapan adiknya datang.
b.      Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Contoh:
1.      A. Irmayanti
2.      Muh. Arifin
c.       Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
1.      Ir.         = Insinyur
2.      Dr.       = Doktor
3.      dr.        = Dokter
4.      Drs.      = Dokturandus
5.      Sdr.      = Saudara
d.      Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah dianggap umum. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Contoh:
1.      a.n.      = atas nama
2.      u.b.      = untuk beliau
3.      u.p.      = untuk perhatiannya
4.      dkk.      = dan kawan-kawan
5.      dsb.      = dan sebagainya
e.      tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Contoh: pukul 5.20.10 (pukul 5 lewat 20 menit 10 detik).

2.        Tanda Koma (,)
a.      Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Contoh: Budi membeli buku, pena, dan penggaris.
b.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan.
Contoh:
1.         Pak Anto bukan ayah saya, melainkan ayah Budi.
2.         Saya ingin datang, tetapi hari masih hujan.
c.       Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
Contoh: karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
d.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimatnya.
Contoh: Andi tidak naik kelas karena tidak rajin belajar.
e.      Tanda koma dipakai di belakang ungkapan atau kata penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya, oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Contoh: oleh karena itu, kita harus berangkat sekarang.
f.        Tanda koma dipakai dibelakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Wah, bukan main hebatnya!
g.      Tanda Koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dari kalimat.
Contoh: Kata ayah, “saya senang sekali.”
h.      Tanda koma dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh: Surat-surat ini harap dikirim kepada Dekan Fakultas Hukum, Universitas Airlangga, Jalan Airlangga 4, Surabaya.
i.        Tanda koma dipakai untuk memidahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh: Siregar, Merazi, Azab dan Sengsara, Weltevreden: Balai Pustaka, 1920.
j.        Tanda koma dipakai di antara tempat penerbit, nama penerbit,dan tahun penerbit.
Contoh: Siregar, Merazi, Azab dan Sengsara, Weltevreden: Balai Pustaka, 1920.
k.       Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan dan di antara sen dalam bilangan.
Contoh: Rp15,05 dan 14,50 kg.
l.        Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
Contoh: Guru saya, Pak Sultan, pandai sekali.
m.    Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakan dari singkatan nama keluarga atau marga.
Contoh:
1.      B. Sitomorang, S.H.
2.      Ny. Jamilah, M,Sc.

3.        Tanda Titik Koma (;)
a.      Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara si dalam majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh :
Ayah bekerja di Kantor Penerangan; ibu mengajar di SMA Negeri; adik belanja di pasar bunga; saya sendiri membersihkan rumput di halaman rumah.
b.      Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: Malam semakin larut; kami belum juga tidur.

4.        Tanda Titik Dua (:)
a.      Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Contoh: yang sedang kita butuhkan sekarang adalah barang-barang sebagai berikut: meja, kursi, bangku, lemari, dan papan tulis.
b.      Tanda titik dua dipakai sesudah ungkapan atau kata yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua:             Dr. H. Achmad Tolla, M.Pd.
Sekretaris:      Drs. Ramly, M.Hum.
Bendahara:    Dra. Hj. St. Hadijah, M.Hum.
c.       Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Ayah: “Bawah buku ini, Ri!”
Rini: “Baik, Pak.”
d.      Tanda titik dua dipakai di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci atau di antara judul dan anak judul suatu karangan.
Contoh:
1.      Tempo, I (1971), 34:7
2.      Surah Al-Baqarah: 19
3.      Siregar, Merazi, Azab dan Sengsara, Weltevreden: Balai Pustaka, 1920.

5.        Tanda Hubung (-)
a.      Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
Contoh: ... mari kita menumbuhkan budaya belajar efektif di lingk-
         ungan sekolah kita.
b.      Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Contoh:
1.      ... cara yang baik meng-
ambil udara.
2.      ... merupakan alat pertahan-
an tubuh yang baik.
c.       Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh: anak-anak                 berulang-ulang
         lauk-pauk                 bersama-sama
d.      Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh:
1.        p-r-e-s-i-d-e-n
2.        17-7-2007
e.      Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan –an, dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.
Contoh:
Se-Sulawesi Selatan               KTP-nya nomor 176859 A
Se-Indonesia                           sinar-X
Hadiah ke-4                            tahun 70-an
f.        Tanda hubung dapat dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh: di-export                               di-charter
         Pen-tackle-an                       me-recruit
g.      Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas bagian-bagian ungkapan.
Bandingkan:
ber-evolusi dengan ber-revolusi
istri-bupati yang pandai dengan istri bupati-yang pandai.

6.        Tanda Tanya (?)
a.      Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Contoh: kapan kamu berangkat?
b.      Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Contoh: Budi dilahirkan pada tahun 1828 (?)

7.        Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.

Contoh:
1.         Alangkah hebat permainanmu itu!
2.         Bersihkan halaman rumah ini sekarang juga!
3.         Merdeka!

8.        Tanda Kurung ( )
a.      Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Contoh: Dia Sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa.
b.      Tanda kurung mengapit angka atau hurufyang memerinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
Contoh:
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang harus dipikul secara bersama oleh unsur:
(1)   Pemerintah                                  a) Pemerintah
(2)   Masyarakat                                  b) Masyarakat
(3)   Orangtua murid                           c) Orangtua murid
c.       Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian integral dan pokok pembicaraan.
Contoh:
Memang diakui bahwa untuk dua jenis pelajaran (menurut kami harus dikatakan: ‘pengajaran’) ini adalah metode sistemnya.

9.        Tanda Garis Miring (/)
a.      Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
Contoh: No. 4280/j38.1.4/TU/2005
b.      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.
Contoh:
1.      Putra/putri
2.      Mahasiswa/mahasiswi
3.      Jalan Muhammad Yamin VI/2
4.      Harganya Rp3.000/lembar

10.    Tanda Petik Ganda (“...”)
a.      Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
Contoh:
“Sudah pergi?” tanya Salman.
“Belum, masih berpakaian,” jawab Hana “tunggu saja!”
b.      Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
contoh: Bacalah “Belajar Membaca” dalam buku Yuk Membaca.
c.       Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh: kata Mira, “Saya akan dapat juga.”
d.      Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh:
Anton memakai celana panjang yang dikenal dengan warna “cutbrai”. Penemu “vaksin hepatitis” itu telah mendapatkan penghargaan dari WHO.
e.      Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
Contoh: Karena warna bulunya, kuvingku diberi julukan “si Putih”.

11.    Tanda Pisah (-)
a.      Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat.
Contoh:
Kemerdekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai-diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
b.      Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Contoh:
Rakyat Indonesia-pria, wanita, orang-orang dewasa, dan anak-anak-menyambut gembira hasil penelitian umum.
c.       Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan berarti “sampai dengan” sedangkan bila dipakai antara dua tempat atau kota berarti ke atau sampai.
Contoh:
1.      2001-2005
2.      Tanggal 10-11 Juni 2007
3.      Makassar-Toraja

12.    Tanda Elipsi (... )
Tanda elipsi (titik-titik) yang dilambangkan dengan tiga titik ( . . . ) dipakai untuk menyatakan hal-hal berikut:
a.      Untuk menyatakan ujaran yang terputus-putus, atau menyatakan ujaran yang terputus dengan tiba-tiba.
Contoh:
1.      Ia seharusnya . . . seharusnya . . . sudah berada di sini.
2.      Tadi aku dengar dia berkata, seolah-olah lelaki yang diincarnya itu ada di sekitar ini . . . , ya, ya, dia berkata begitu.
b.      Tanda elipsi dipakai untuk menyatakan bahwa dalam suatu kutipan ada bagian yang dihilangkan.
Contoh:
Mental menjalankan kekuasaan dalam negara modern . . . perlu dibina.
Tanda elipsi yang dipergunakan pada akhir kalimat karena menghilangkan bagian tertentu sesudah kalimat itu berakhir, menggunakan empat titik, yaitu satu sebagai titik bagi kalimat sebelumnya, dan tiga bagi bagian yang dihilangkan.
Contoh:
Demi kelancaran tata tertib hal ini sungguh ... sehingga tiap orang yang “keluar dari rel,” lantas ditindak.
c.       Tanda elipsi dipergunakan juga untuk meminta kepada pembaca mengisi sendiri kelanjutan dari sebuah kalimat.
Contoh:
Gajinya kecil. Tetapi ia memiliki sebuah mobil luks, rumah yang mewah, malah sebuah bungalow di Puncak. Entahlah dari mana ia dapat mengumpulkan semua kekayaan itu.. .!

13.    Tanda Kurung Siku ([ ... ])
a.      Dipakai untuk menerangkan sesuatu diluar jalannya teks, atau sisipan keterangan (interpolasi) yang tidak ada hubungan dengan teks.
Contoh:
Sementara itu lingkungan pemuda dari kampus interhubungan [maksudnya: berhubungan] dengan kenyataan-kenyataan di luar, kampusnya.
b.      Mengapit keterangan atau penjelasan bagi suatu kalimat yang sudah ditempatkan dalam tanda kurung.
Contoh:
(Hanya menggunakan nada atau kombinasi nada dan apa yang saya sebut persendian [atau mungkin kata lain perjedahan atau juncture itu]).


14.    Tanda Petik Tunggal (‘...’)
a.      Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh:
Yanto berkata, “Tiba-tiba saya mendengar suara berseru ‘siapa itu?’ ” atau Yanto berkata, ‘Tiba-tiba saya mendengar suara berseru “Siapa itu?”’
b.      Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit terjemahan atau penjelasan sebuah kata atau ungkapan asing.
Contoh:
Teriakan-teriakan binatang dan orang primitif oleh Wundt disebut LAUTGEBARDEN ‘gerak-gerik bunyi’.

15.    Tanda Ulang (2) (angka 2 biasa)
Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.
Contoh:
1.         Mata2
2.         Marah2
3.         sia2
4.         hari2
5.         hati2

16.    Tanda Penyingkat (apostrof) (‘)
Tanda apostrof menunjukkan, menghilangkan bagian kata.
Contoh:
  1.  Lita ‘kan kujemput (‘kan = akan) 
  2. Hari ‘lah larut malam (‘lah = telah)

3 comments: