Monday, 16 April 2012

APLIKASI PSIKOLOGI SOSIAL DALAM BIDANG POLITIK

Share it Please

Tugas Kelompok Psikologi Sosial II

PSIKOLOGI SOSIAL II
Aplikasi Psikologi Sosial dalam Bidang Politik
KELOMPOK 3 TEMA 2
                            1171040001                        ANDI WAHYUNI PRATIWI
                            1171040002                        AZMUL FUADY IDHAM
                            1171040009                        SRI UTAMI HALMAN
                            1171040010                       ANDI DIAN FAJRIAH
                            1171040071                        NOOR FAJRYANTI
                            1171040070                        ANDI RAMLAN

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2011-2012


KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas Berkat, Rahmat, karunia dan izin-Nya-lah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Psikologi Sosial II ini yang berjudul APLIKASI PSIKOLOGI SOSIAL DALAM BIDANG POLITIK. Tak lupa pula kami kirimkan salam dan shalawat kepada Nabi Besar junjungan kita Muhammad SAW yang membawa kita dari alam kegelapan ke alam terang-benderang. Makalah Psikologi Sosial II ini kami susun secara praktis, objektif, ilmiah serta disesuaikan dengan perkembangan mahasiswa di Indonesia saat ini, sehingga rekan-rekan mahasiswa dapat dengan mudah memahami, mengkaji dan menganalisis keseluruhan isi makalah ini.
Terima kasih kepada Bapak dan Ibu Dosen mata kuliah Psikologi Sosial II atas ilmu dan bimbingan yang diberikan untuk kelancaran penyusunan makalah ini. Terima kasih juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang ikut membantu dalam penyelesaian tugas makalah Psikologi Sosial II ini. Kami menyadari bahwa makalah ini tidaklah dapat dikatakan sempurna, kami masih membutuhkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun agar makalah ini bisa menjadi bahan bacaan yang berguna, berbobot, menarik dan bermanfaat sesuai dengan tujuan disusunnya makalah ini sebagai bahan belajar pendidikan Kewarganegaraan.
Amin.

­­­­­      Makassar, 12 April 2012  

KELOMPOK 2 TEMA 3


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di era globalisasi ini, banyak ditemukan berbagai konflik politik yang merajalela di Indonesia. Hampir sebagian besar tokoh politik di Indonesia dipersepsikan oleh masyarakat sebagai orang-orang yang tidak memiliki paradigma yang baik, tetapi paragidma-paradigma para politikus bisa diubah dengan adanya pengaplikasian psikologi sosial. Psikologi sosial sempat dianggap tidak memiliki peranan penting, tapi kini hal itu mulai berubah. Dalam psikologi modern, psikologi sosial mendapat posisi yang penting. psikologi sosial telah memberikan pencerahan bagaimana pikiran manusia berfungsi dan memperkaya jiwa dari masyarakat kita. Melalui berbagai penelitian laboratorium dan lapangan yang dilakukan secara sistematis, para psikolog sosial telah menunjukkan bahwa untuk dapat memahami perilaku manusia, kita harus mengenali bagaimana peranan situasi, permasalahan, dan budaya.
Serge moscovici seorang psikolog sosial Perancis menyatakan bahwa psikologi sosial adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Sebab psikologi sosial mengakui pentingnya memandang individu dalam suatu sistem sosial yang lebih luas dan karena itu menarik kedalamnya sosiologi, ilmu politik, antropologi, dan ekonomi. Psikologi sosial mengakui aktifitas manusia yang rentangnya luas dan pengaruh budaya serta perilaku manusia dimasa lampau. Dalam mengambil fokus ini psikologi sosial beririsan dengan filsafat, sejarah, seni dan musik. Selain itu psikologi sosial memiliki perspektif luas dengan berusaha memahami relevansi dari proses internal dari aktivitas manusia terhadap perilaku sosial.

B.     Rumusan Masalah
a.       Apa definisi dari psikologi sosial dan politik?
b.      Apa hubungan antara psikologi sosial dan ilmu politik?
c.       Bagaimana mengaplikasikan psikologi sosial dalam bidang politik?

C.    Tujuan
a.       Mengetahui definisi psikologi sosial dan politik
b.      Mengetahui hubungan antara psikologi sosial dan ilmu politik
c.       Menjelaskan pengaplikasian psikologi sosial dalam bidang politik

  

BAB II
PEMBAHASAN
a.      Definisi Psikologi Sosial dan Politik
Psikologi berasal dari bahasa Yunani “psycos” yang berarti jiwa dan “logos” yang berarti ilmu, jadi psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia. Psikologi sosial adalah suatu studi tentang hubungan antara manusia dan kelompok. Psikologi sosial juga sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha memahami asal usul dan sebab-sebab terjadinya perilaku dan dan pemikiran individual dalam konteks situasi sosial.
Sedangkan politik berasal dari bahasa Belanda politiek dan bahasa Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani τα πολιτικά (politika - yang berhubungan dengan negara) dengan akar katanya πολίτης (polites - warga negara) dan πόλις (polis –negara kota). Secara etimologi kata "politik" masih berhubungan dengan polisi, kebijakan. Kata "politis" berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Kata "politisi" berarti orang-orang yang menekuni hal politik.  Jadi dapat disimpulkan bahwa politik adalah poses pembentukan dan pembagiankekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud prosespembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

b.      Hubungan Psikologi Sosial dan Ilmu Politik
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi sosial adalah pengkhususan psikologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dan masyarakat, khususnya faktor-faktor yang mendorong manusia untuk berperan dalam kelompok atau golongan, karena psikologi pada umumnya memperhatikan tentang kehidupan perorangan. Hubungan psikologi sosial dalam analisis ilmu politik dapat diketahui bila kita sadar bahwa analisa sosial politik secara makro dan diperkuat dengan analisa yang bersifat mikro. Psikologi sosial mengamati kegiatan manusia dari segi ekstern maupun segi intern. Dengan itu ilmu politik dapat menganalisis secara lebih mendalam makna dan peran orang kuat, kondisi sosial ekonomi serta ciri-ciri kepribadian yang memungkinkannya memainkan peran besar itu. Psikologi sosial juga dapat menjelaskan bagaimana kepemimpinam tidak resmi turut menentukan suatu hasil keputusan dalam kebijakan politik dan kenegaraan. Psikologi sosial menjelaskan pula kondisi-kondisi apa yang akhirnya dapat meredakan sikap dan reaksi masyarakat terhadap gejala baru yang dihadapinya itu.
Jika dahulu psikologi agak diabaikan dalam penyelidikan ilmu politik, dewasa ini keadaan itu berubah. Pengetahuan psikologi diperlukan dimanapun dan kapanpun diadakan penyelidikan politik secara ilmiah. Menurut Lasswell, di AS kini ilmu politik sedang mengalami peninjauan kembali atas metode serta peristilahannya. Peninjauan kembali ini terutama disebabkan oleh pengalaman dalam pelaksanaan prosedur-prosedur psikologis dalam penyelidikan ilmu politik. Menurut Lasswell, psikologi akan memainkan perannya yang lebih besar lagi di masa depan, karena bertambah intensifnya perjuangan untuk mempertahankan dan memperoleh kebebasan individu.

c.       Aplikasi Psikologi Sosial dalam Bidang Politik
Persoalan agama merupakan hal yang sensitif karena menyangkut hubungan pribadi antar manusia dan Tuhan. Jadi keimanan beragama merupakan suatu hal yang tidak dapat dipaksakan. Setiap usaha memaksa, dengan cara mewajibkan agama tertentu merupakan pelanggaran serius terhadap hak pribadi (siagian,1987). Oleh karena itu penghinaan atau penghujatan terhadap agama tertentu menjadi persoalan serius yang sulit untuk diatasi, apalagi hanya memandang dari persfektif hukum positif, indonesia merupakan negara pertemuan agama-agama di dunia.
Keanekaragaman agama yang ada di Indonesia dapat dikatakan tidak menimbulkan permasalahan namun menunjukkan adanya saling toleransi. Adi subroto 1993, menjelaskan hanya indonesia yang mempunyai rasa keagamaan yang monoteisme demikian menyatu secara alamiah dengan masyarakatnya, contohnya ada beberapa tempat yang masih menghormati hewan yang di sakralkan oleh agama tertentu. Jadi pada dasarnya umat agama yang berbeda-beda di Indonesia mempunyai dasar untuk hidup rukun dan berdampingan bersama. Namun demikian, searah dengan perubahan yang terjadi di masyarkat menyebabkan perubahan pola dalam hubungan kehidupan keagamaan, antara lain ada banyak kasus kerusuhan besar yang disebabkan oleh faktor perbedaan agama.
Moderenisasi dalam masyarakat adalah suatu proses transformasi; suatu perubahan dalam segala aspeknya (Schoorl, 1991). Perubahan tersebut antara lain meliputi
a.       Bidang politik;
Dari sistem yang menganut kekuasaan kepala adat yang sederhana digantyikan dengan sistem pemilihan umum perwakilan dan birokrasi.selain itu persoalan agama dilariakan menjadi persoalan politik, karena dukungan politik sangat diperlukan untuk membesarkan suatu kelompok agama tertentu. Maka akhirnya persoalan agama menjadi kendaraan politik bagi pemimpinnya.
b.      Bidang sosial;
Adanya mobilitas geografis dan sosial cenderung merenggangkan sistem hirarki yang sudah ada. Anggota masyarakat yang sebelumnya mempunyai sikap kebersamaan dan keterikatan yang tinggi pada desa/adat istiadat serta pada tetua adat atau sesepuh, sekarang sikap tersebut menjadi semakin berkurang dan bahkan hilang sama sekali.
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses moderenisasi dan globalisasi ini lambat laun tentu akan terjadi pada setiap bangsa / masyarakat yang di dunia. Kemajuan-kemajuan teknologi dari negara-negara barat mau tidak mau akan terus merambahh deras kenegara-negara lain di dunia ini terutama negara-negara yang sedang berkembang . karena masyarakat dunia akan menganggap bahwa modernisasi sangat diperlukan untuk memajukan kehidupan, dimana modernisasi di segala bidang kehidupan dianggap mempunyai pengaruh positif. Masyarakat menjadi lebih efektif dan efisien dalam menyelesaikan pekerjaannya. Namun demikinan seperti dua sisi mata uang dampak negatif dari adanya perubahan sosial menyertai hubungan sosial atau keberagamaan.
1.      Faktor penyebab pertentangan antar umat beragama
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan / pertentangan antar umat beragama, antara lain:
a.       Adanya prasangka sosial; prasangka merupakan fenomena yang terjadi antar kelompok yang cenderung berkonotasi negatif (kappuswany, 1973 ). Prasangka bisa muncul karena adanya konflik atau kompetisi antar kelompok. Prasangka tersebut terkait dengan stereotip negatif pada kelompok lain atau stigma yang akan melekat dan diturunkan terus menerus sehingga akan menjadi prasangka tersebut terlihat sebagai dosa turunanyang akan selalu ditularkan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Pada akhirnya prasngka yang tak kunjung selesai akan menciptakan keinginan untuk melakukan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan.
b.      Fanatisme yang berlebihan dan keliru dalam kehidupan beragama bisa muncul bila terjadi adanya pandangan yang mengagung-agungkan agamanya, namun menganggap rendah agama lain. Maka segala hal yang menyangkutg agama lain di anggap sebbagai sesuatu yang negatif atau bahkan  lebih jauh di anggap sebagai musuh yang harus di hormati.

2.      Menggalang toleransi sebagai solusi efektif dalam penyelesaian konflik anntar umat beragama
Permasalahan-permasalahan konflik antar umat beragama seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih serius dari semua pihak karena penyelesaiannya persoalan ini harus lebih komprehesif. Beberapa solusi tersebut antara lain.
a.       Lebih cepat dan tanggap dalam memperhatikan berbagai ketidakpuasan yang terjadi di masyarakat, sebagaimana diketahui ketidakpuasaan menjadi faktor utama munclnya gerakan sosial, selama masih banyak persoalan tentang ketidakadilan, penganguran dan tekanan ekonomi dikaitkan atau dijadikan dasar munculnya konflik antar umat beragama.
b.      Perlu tindakan hukum yang lebih tegas dan transparan pada pemicu kerusuhan, selama ini kesan pelaku kerusuhan tidak pernah mendapatkan law enforcement yang sepadan, karena adanya kendala bukti dan saksi dalam kegiatan masa sulit didapatkan serta dukungan dari tokoh agama dan anggota kelompok agamanya membuat pollisi sulit untuk memberikan punishment kepada mereka.
c.       Meningkatkan komunikasi diantara umat bergama untuk mengurangi prasangka serta mempererat kerukunan, komunikasi ini dalam bentuk dialog interaktif secara kontinu dengan tujuan untuk membangun kesadaran sebagai bagian dari masyarakat plural kegiatan bersama untuk membangun rasa percaya diantara umat beragama sertya refleksi dan renungan keagaman untuk mensikapi perbedaan visi keagamaan.
d.      Kesadaran dari pemuka agama untuk tidak menjadikan agama sebagai alat politik, hal ini memang tidak mudah karena politik berarti kekuasaan dan agama merupakan kendaraan politik yang paling ampuh untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal sebagian besar pemeluk agama tergolong pada masyarakat level bawah. Yang mengedepankan emosi pada para pemimpin agama pollitiknya. Ditambah dengan kekurang mampuan mengulas konflik dengan lebih bijaksana dalam tataran wacana sehingga mudah sekali digiring pada aksi brutal untuk mempertahankan agamanya. Oleh karena itu para pemimpin keagamaan diharapkan mengurangi perannya dalam politik atau tidak memunculkan pendapat yang dirasuki oleh kepntingan politik.
Dari berbagai model penyelesaian diatas, sebenarnya penyelesaian yang terfokus pada peningkatan kesadran kelompok keagamaan merupakan cara yang paling efektif dalam menurunkan konflik antar agama. Pembinaan pada pemeluk agama diarahkan pada peningkatan kualitas akan nilai-nilai kebenaran dan menumbuhakan sikap toleransi adalah suatu yang paling efektif dari pada mengkonsentrasikan pada penambahan jumlah pengikutnya. Namun pada kehidupan sosila yang semakin penuh dengan kompetisi maka penghayatan akan toleransi masih merupakan wacana yang sulit untuk diimplementasikan pada tingkat realitas.
Di dalam kehidupan bermasyarakat ada kecenderungan orang masih berfikir “ senang melihat orang lain sakit, atau sakit hati bila meliahat orang lain senang “Padahal toleransi harus didasari oleh kebutuhan kita untuk share saling berbagi persoalan dengan yang lain tanpa saling manghalangi, mampu merasakan apa yang sedang terjadi pada ornag lain, kemampuan empati seperti ini memang tidak mudah mudah untuk dilakukan selama tidak ada keterbuakaan hati dan fikiran kita akan keberadaan orang lain, simpati pada apa yang dilakukan orang lain selalu melihat bahwa apa yang dilakukan orang lain pun patut kita hargai; menghormati pendapat, pandangan, keyakinan, perilaku, agama, suku dan segala atribut orang atau kelompok lain. Kondisi seperti ini bisa tercapai apabila kita terbiasa untuk mengkomunikasi dengan berbagai tipikal orang yang  berbeda, fanatisme menggumpal karena jarang ada interaksi dan komunikasi dengan orang atau kelompok lain berdasarkan subjektivitas dirinya, bahaya menggunakan ini adalah semakin menyulitkan kita  untuk menerima kehadiran dan perubahan yang terjadi pada orang lain, karena setiap orang mau tidak mau akan selalu berubah, sehingga pandangan kita pin akan berubah.
Objektifitas muncul apabila kita mampu beriinteraksi mengedepankan consensus dari pada konflik dengan individu lain, selama inipenyelesaian dengan konflik dianggaap lebih sesuai dalam mencapai tujuan diri dan kelompok. Padahal sekali konflik miuncul akan semakin sulit kita mengendalikan untuk tidak berkonflik atau akan muncul jenis konflik lain yang semakin parah, yang menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam tentang segala persoalan yang terjadi pada orang lain,  memahami tidaklah mudah karena harus didasari oleh kkebersihan nurani untuk melihat segala persoalan dengan lebih hati-hati dan jernih, tidak ada keinginan untuk mengalahkan orang lain, dalam arti tidak selalu melihat kelompok lain sebagi musuh namun lebih menekankan pada kemenangan semua pihak, karena semua pihak adalah mitra dalam kehidupan sehari-hari serta menetapkan bahwa kerja sama adalah modal sosial yang paling utama dalam membangun interaksi bersama.


PENUTUP
Pada dasarnya psikologi sosial sangat berhubungan dengan ilmu sosial lain nya, dimana psikologi sosial merupakan bagian dari semua cabang ilmu sosial lainnya Peran politik sebagai determinan dari perilaku karakteristik psikologi, maupun sebaliknya perilaku dan karakteristik psikologi seseorang akan mempengaruhi konteks sosio politik. Konteks sosio politik bersinergi dengan konteks ekologi akan mengarahkan pada akulturasi, adaptasi biologis atau adaptasi budaya, sehingga muncul perilaku yang teramati (observable behavior) dan ciri-ciri psikologi yang tersimpulkan dari seseorang.
Selanjutnya perilaku dan karateristik psikologis itu akan memberi dampak pada perubahan konteks ek ologis dan konteks sosio-politik. Psikologi sosial juga dapat menjelaskan bagaimana kepemimpinam tidak resmi turut menentukan suatu hasil keputusan dalam kebijakan politik dan kenegaraan. Psikologi sosial menjelaskan pula kondisi-kondisi apa yang akhirnya dapat meredakan sikap dan reaksi masyarakat terhadap gejala baru yang dihadapinya itu.
  

REFERENSI
Baron. Robert A, Byrne Donn. 2003. Psikologi sosial edisi kesepuluh. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Blog Phonk. “Hubungan Ilmu Politik dengan Ilmu Lainnya”. Online. http://phonk.student.umm.ac.id/2010/01/28/hub-ilmu-politik-dengan-ilmu-lainnya/. Diakses 8 April 2012.
Matulessy, Andik . 2005. Psikologi politik. Surabaya: Dieta persada.
Novita Bloskadit. “Hubungan Ilmu Politik dengan Psikologi Sosial”. Online. http://hanoi5b.wordpress.com/2009/09/12/hubungan-ilmu-politik-dan-ilmu-ilmu-sosial-lainnya/. Diakses 8 April 2012.

No comments:

Post a Comment