Monday, 23 April 2012

PEMULUNG CILIK DAN MIMPI BESARNYA


Siang itu seorang gadis kecil terlihat begitu gembira dengan menenteng sebuah karung kusam di tangan kanannya dan tas kecil melingkar di pundaknya. Dilaluinya sebuah trotoar panjang yang menjadi tempat tapak kakinya dengan panas terik yang membakar kulitnya siang itu. wajahnya tak kalah kusam dengan karung yang dipegangnya tetapi wajahnya tetap mekar bagaikan tidak memikul beban apapun. setelah berjalan cukup jauh, sampailah Dia depan gerbang tinggi yang menjulang ke langit. dipandangi rumah itu penuh seksama, celingak-celinguk kepalanya seperti sedang mencari sesuatu. beberapa menit kemudian muncullah seorang gadis kecil kecil yang lain yang jauh sangat berbeda penampilannya dengan anak yang tadi. rambutnya dikepang dan terlihat bando berwarna merah muda di kepalanya, bajunya bersih dan terlihat indah, dan kulitnya putih bersinar.
Gadis Kecil II: kamu sudah datang rupanya
Gadis Kecil I: iya, tadi Bapak sudah memberi saya izin untuk kesini
Gadis Kecil II: kalau begitu silahkan masuk, ada yang ingin ku tunjukkan padamu (sembari melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam halaman pagar tinggi tadi. tapi seketika Ia berhenti) eh tapi karung itu di simpan di sini saja, takut Ibuku nanti melihatnya.
akhirnya mereka berdua masuk ke dalam halaman rumah yang berpagar tinggi tersebut, Gadis Kecil I sangat takjub melihat segala yang ada di balik pagar tinggi yang sering dilaluinya sejak beberapa bulan yang lalu. Gadis Kecil II membuka pintu rumah dan segera menuju kamarnya. Segera dia mengambil tas yang ada di meja belajarnya, dikeluarkannya beberapa buku pelajaran yang dibawanya dari sekolah siang tadi, beberapa kertas berwarna, pulpen, penggaris, dan tak lupa sebuah cemilan Ia keluarkan.

Gadis Kecil I hanya memandang ke langit-langit kamar dan beberapa kali matanya mengitari isi kamar tersebut.
Gadis Kecil II: Kita mulai sekarang saja ya Kasma? (Kasma adalah nama Gadis Kecil I)
Gadis Kecil I: baiklah, kita ingin mulai dari mana? matematika atau IPA?
Gadis Kecil II: Kita mulai dari matematika saja, soalnya aku paling buntu di pelajaran itu, guruku selalu saja memasang mimik kurang enak setiap kali PR-ku dikumpul.
Gadis Kecil I: Ah itu tidak susah kok, yang penting kamu menguasai rumus dan pasti dalam berhitung. Sini bukumu, biar aku lihat.
keduanya pun belajar, dengan Kasma sebagai mentor di siang itu. lama mereka belajar, sampai menyelesaikan tugas matematika dan IPA di Gadis Kecil II. Jam dinding di kamar Gadis Kecil II sudah menunjukkan pukul 16.07 Wita, Kasma pun meminta izin untuk segera pulang.
Kasma: Putri, aku pamit pulang ya. Bapak pasti sudah mencariku, dan aku juga harus ke tempat penimbangan bahan daur ulang. (Putri adalah nama Gadis Kecil II)
Putri: Oh iya, kalau begitu hati-hati ya. besok kamu kesini lagi, aku akan mengajarimu bahasa inggris. Ini ambillah buku pelajaran kelas IV-ku, pelajarilah ini di rumah. Ambil juga kardus bekas milik Ibuku di gudang, lumayan untuk tambahan barang bekasmu.
Kasma: oh iya, terima kasih banyak Putri. Besok pasti aku akan datang kembali.
keduanya bersalaman, dan keluarlah Kasma dari rumah berpagar tinggi itu dengan karung yang sudah terisi penuh, begitu juga tasnya yang terisi penuh dengan buku pemberian Putri.

Hari ini betul-betul hari yang membahagiakan oleh Kasma, selain bisa belajar gratis, mendapat buku gratis, dia juga mendapat penghasilan yang lumayan hari ini. Rp. 37.000-. sepertinya sudah cukup tinggi nilainya dibandingkan dengan penghasilan di hari sebelumnya. Ya, Kasma adalah seorang pemulung cilik. Usianya baru berusia 11 tahun, Ia tidak bersekolah karena terkendala di biaya. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan program belajar 9 tahun, tetapi Kasma adalah salah satu anak yang tidak bisa merasakan program pemerintah tersebut. Hal ini dikarenakan Ayah Kasma hanya seorang mantan buruh pambrik yang belakangan mengidap penyakit yang tidak jelas. Badannya kurus kering, susah untuk berbicara, dan hanya bisa terbaring di tempat tidur selama delapan bulan terakhir ini. Ibu Kasma seorang tukang cuci, tetapi karena mengidap penyakit Asma akut maka Ia berhenti dari pekerjaannya. Sedangkan Kasma adalah anak sulung dan mempunyai 3 orang adik. Hal yang harus Ia lakukan untuk membantu perekonomian orangtuanya adalah dengan bekerja. Awalnya Ia masih sempat bersekolah pagi, tetapi karena makin hari perekonomian mereka makin terdesak, akhirnya Kasma berhenti bersekolah di bangku kelas 3 SD, bekerja sebagai pemulung di pinggiran kota yang beroperasi dari pagi hingga petang, dan pulangnya kadang tidak membawakan hasil yang cukup untuk keluarganya.

Patut disayangkan memang karena Kasma sewaktu masih bersekolah adalah juara kelas, nilainya selalu bagus, daya tanggapnya saat belajar selalu dipuji gurunya, Ia juga adalah teman yang baik. Ia tidak segan-segan membantu temannya yang kesulitan dalam berlajar. Sekarang, sudah hampir 2 tahun Ia tidak merasakan lagi bangku sekolah. Hal lain yang membuatnya harus keluar dari sekolah tersebut karena para siswa harus membeli LKS seharga Rp. 9.000.- untuk beberapa mata pelajaran. Tentunya itu sangat memberatkan untuk Kasma yang bukan dari notabene keluarga berkecukupan. Uang Rp. 9.000.- bisa menjadi uang makan mereka sekeluarga selama sehari, bahkan bisa sampai satu setengah hari. Oleh karena itu, Kasma lebih memilih untuk berhenti bersekolah daripada harus menambah beban orangtuanya.

Sesampai di rumah, Kasma langsung disambut dengan penuh suka cita oleh ketiga orang adiknya. mereka langsung menghampiri Kasma yang kebetulan pada saat itu sedang membawa sebungkus gorengan. Adik bungsu Kasma hanya tersenyum manis padanya, Kasma kemudian mengeluarkan 3 susu botol yang sengaja Ia belikan untuk ketiganya. Kasma sengaja membelikan susu untuk ketiga Adiknya karena di hari sebelumnya, adik bungsu Kasma sampai menangis  gemetaran meminta susu saat melihat anak tetangga mereka yang meminum susu sambil memamerkannya kepada adik-adik Kasma. Kasma memang baru berusia 11 tahun, tetapi berbicara soal pengalaman hidup mulai dari makan jadi tidak makan, sekolah jadi tidak sekolah, bermain jadi kerja, istirahat jadi mengurus rumah, mungkin lebih banyak makan garam dibandingkan remaja-remaja berusia 17 tahun ke atas yang hanya bisa hidup dengan menadahkan tangan kepada orang tuanya. Kasma melangkahkan kaki menuju kamar orangtuanya, dibukanya tirai kamar tersebut sembari berkata "Bu, Pak, Kasma sudah pulang. Kasma bawa makanan untuk kita semua. Ayo Bu, Pak, makan dulu". tetapi ibu Kasma tidak memberikan reaksi apapun, sementara Ayah Kasma menatapnya dengan penuh rasa harap. Kasma mulai mendekati tempat tidur ibunya, diucapkannya sekali lagi kalimat tersebut tidak lagi-lagi reaksi. Kasma mulai panik, diucapkannya lagi berkali-kali namun dan tetap saja tak ada reaksi. Kasma menangis, berteriak memanggil ibunya, meraung menyebut nama ibunya, hingga ketiga adiknya pun masuk ke kamar dan ikut menangisi ibu mereka..


*bersambung*

2 comments:

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang