Monday, 16 April 2012

TEORI BERPIKIR PSIKOLOGI


BERPIKIR

A.   PENGERTIAN BERPIKIR
Kegiatan berpikir dan berjalan adalah sebuah kegiatan yang aktif. Setiap penampilan dari kehidupan bisa disebut sebagai aktivitas. Seseorang yang diam dan mendengarkan musik atau tengah melihat televisi tidak bisa dikatakan pasif. Maka situasi dimana sama sekali sudah tidak ada unsur keaktifan, disebut dengan mati. Menurut sudut pandang behaviorisme khususnya fungsionalis berpendapat bahwa berpikir sebagai penguatan antara stimulus dan respons. Demikian juga menurut kaum asosiasionis memandang berpikir hanya sebagai asosiasi antara tanggapan atau bayangan satu dengan yang lainnya yang saling kait mengait. Secara lebih formal, berpikir adalah penyusunan ulang atau manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang disimpan dalam long term memory.
Berpikir adalah sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa atau item (Khodijah, 2006:117). Sedangkan menurut Drever (dalam Walgito, 1997 dikutip Khodijah, 2006:117) berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Solso (1998 dalam Khodijah, 2006:117) berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah.
Dari pengertian tersebut tampak bahwa ada tiga pandangan dasar tentang berpikir, yaitu (1) berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku, (2) berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif, dan (3) berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi.

B.   PROSES BERPIKIR
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu:
1.      Pembentukan Pengertian
Pengertian, atau lebih tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:
a.   Menganalisis ciri-ciri dari sejumalah obyek yang sejenis. Obyek tersebut kita perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu. Misalnya maupun membentuk pengertian manusia. Kita ambil manusia dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-ciri misalnya:
-          Manusia Indonesia, ciri-cirinya: mahluk hidup, berbudi, berkulit sawo matang, berambut hitam dan sebagainya.
-     Manusia Eropa, ciri-cirinya: mahluk hidup, berbudi, berkulit putih, berambut pirang atau putih, bermata biru terbuka dan sebagainya.
-     Manusia Negro, ciri-cirinya: mahluk hidup, berbudi, berkulit htam, berambut hitam kriting, bermata hitam melototn dan sebagainya.
-     Manusia Cina, ciri-cirinya: mahluk hidup, berbudi, berkulit kuning, berambut  hitam lurus, bermata hitam sipit dan sebagainya.
b.      Membanding-bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri-ciri mana yang sama atau yang tidak sama, mana yang selalu ada atau yang tidak selalu ada, mana yang hakiki atau yang tidak hakiki.
c.       Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki, menangkap cirri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas ciri - ciri yang hakiki itu ialah: Makhluk hidup yang berbudi.

2.      Pembentukan Pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat. Selanjutnya pendapat dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a.       Pendapat Afirmatif atau positif, yaitu pendapat yang menyatakan keadaan sesuatu, Misalnya Sitotok itu pandai, Si Ani rajin dan sebagainya.
b.      Pendapat Negatif, yaitu Pendapat yang menidakkan, yang secara tegas menerangkan tentang tidak adanya seuatu sifat pada sesuatu hal. Misalnya Sitotok itu bodoh Si Ani malas dan sebagainya.
c.       Pendapat Modalitas atau kebarangkalian, yaitu pendapat yang menerangkan kebarangkalian, kemungkinan-kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal. Misalnya hari ini mungkin hujan, Si Ali mungkin tidak datang. dan sebagainya.

3.      Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada 3 macam keputusan, yaitu:
a.       Keputusan induktif yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum. Misalnya: tembaga dipanaskan akan memuai, perak dipanaskan akan memuai,
besi dipanaskan akan memuai, kuningan dipanaskan akan memuai. Jadi kesimpulannya yaitu semua logam kalau dipanaskan akan memuai (Umum).
b.      Keputusan Deduktif ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus, jadi berlawanan dengan keputusan induktif. Misalnya: semua logam kalau dipanaskan memuai (umum), tembaga adalah logam. Jadi kesimpulan yaitu tembaga kalau dipanaskan akan memuai.
c.       Keputusan Analogis adalah keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada. Misalnya: Totok anak pandai, naik kelas (Khusus). Jadi kesimpulannya Si Nunung anak yang pandai itu, tentu naik kelas.

C.   KONSEP ATAU PENGERTIAN
Pengertian atau konsep merupakan konstruksi simbolik yang menggambarkan ciri atau beberapa ciri umum sesuatu objek atau kejadian. Misalnya pengertian manusia, merah, segitiga, belajar dan sebagainya. Dengan kemampuan manusia untuk membentuk konsep atau pengertian memungkinkan manusia untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan benda-benda atau kejadian-kejadian. Misalnya manusia dapat menggolongkan yang merah dan yang bukan merah, manusia dan bukan manusia, demikian juga yang lain-lain. Karena itu konsep atau pengertian merupakan alat (tool) yang baik atau tepat (convenient) dalam berpikir atau problem solving.
Dalam pengertian atau konsep didapati ada beberapa macam konsep yaitu:
1.   Konsep-konsep atau pengertian-pengertian yang sederhana (simple concept). Pengertian yang sederhana yaitu pengertian yang dibatasi ciri atau atribusi tunggal, seperti “merah”.
2.   Konsep-konsep yang kompleks (complex concepts). Pengertian atau konsep yang digunakan dalam berpikir dibatasi oleh ciri yang tidak tunggal.

D.   CARA MEMPEROLEH KONSEP ATAU PENGERTIAN
Untuk memperoleh pengertian ada beberapa macam  cara yaitu:
1.   Dengan sengaja. Pengertian yang diperoleh dengan sengaja yaitu usaha dengan sengaja untuk memperoleh pengertian atau konsep, yang kadang-kadang disebut dengan sengaja, maka pengertian ini dibentuk dengan penuh kesadaran. Prosedurnya melalui beberapa tingkatan (misal untuk mendapatkan pengertian atau konsep mengenai gas): (1) tingkat analisis (2) tingkat mengadakan komperasi (3) tingkat abstraksi (4) tingkat menyimpulkan.
2.   Dengan tidak sengaja. Pengertian yang diperoleh dengan  tidak disengaja ini sering disebut pengertian pengalaman, artinya pengertian yang diperoleh dengan secara tidak sengaja diperoleh sambil lalu dengan pengalaman-pengalaman. Misalnya pengertian anak pada umumnya diperoleh melalui proses generalisasi, kemudian atas daya berpikirnya timbul proses diferensiasi, yaitu proses membedakan satu dengan yang lain.

E.    PROBLEM SOLVING
Secara umum dapat dikemukakan bahwa problem itu timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan satu dengan yang lain dalam rangka untuk mencapai tujuan, atau juga sering dikemukakan apabila ada kesenjangan antara das Sein dan das Sollen. Contohnya apabila ada problem terhadap seorang siswa mendapatkan tugas dari gurunya, maka siswa yang mendapat problem tersebut akan berpikir untuk mencari pemecahannya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa dalam problem solving itu ada directed, yang mencari pemecahan dan dipacu untuk mencapai pemecahan tersebut.
Dalam mencari pemecahan terhadap problem solving itu ada kaidah atau aturan (rules) yang akan membawa seseorang kepada pemecahan masalah tersebut. Aturan ini akan memberikan petunjuk untuk pemecahan masalah. Banyak aturan satu kaidah dalam memecahkan masalah. Ada dua hal yang pokok, yaitu aturan atau kaidah algoritma dan horistik.
Algoritma merupakan suatu perangkat aturan, dan apabila aturan ini diikuti dengan benar maka akan ada jaminan adanya pemecahan terhadap masalahnya. Misalnya apabila sesorang harus menaglikan dua bilangan, maka orang tersebut harus mengikuti aturan dalam hal perkalian dengan benar, akan ada jaminan orang tersebut memperoleh hasil terhadap pemecahan masalahnya. Namun demikian, banyak persoalan yang dihadapi oleh seseorang tidak dikenakan aturan atau kaidah horistik yaitu merupakan strategi yang biasanya didasarkan atas pengalaman dalam menghadapi masalah, yang mengarah pada pemecahan masalahnya tetapi tidak memberikan jaminan akan kesuksesan. Sedangkan strategi umum horistik dalam menghadapi masalah yaitu bahwa masalah tersebut dianalisis atau dipecah-pecah menjadi masalah-masalah lebih kecil, masing-masing mengarah atau mendekati pemecahannya.

F.    THORNDIKE VS. KOHLER
Dalam kaitan dengan problem solving terdapat perbedaan yang cukup menarik antara pendapat Thorndike sebagai salah satu seorang tokoh aliran behaviorisme dengan Kohler sebagai seorang tokoh aliran Gestalt. Masing-masing mengadakan percobaan sendiri-sendiri dan kesimpulannya berbeda satu dengan yang lainnya.
Thorndike mengadakan eksperimen dengan kucing yang dilaparkan ditaruh dalam sangkar dan pintu dapat terbuka apabila grendel yang berhubungan dengan pintu itu ditrarik atau tertarik. Dalam eksperimen pertama, kucing membuat sedemikian rupa, lari-lari, menggaruk-garuk dan sebagainya. Hingga pada suatu waktu kucing menyentuh tali yang berhubungan dengan grendel hingga pintu dapat terbuka dan kucing keluar menuju makanan yang ada di luar kandang atau sangkar. Percobaan dilakukan berkali-kali, dan ternyata makin lama makin berkurang waktu yang digunakan kucing untuk keluar dari kandang untuk memperoleh makanan. Dari eksperimen tersebut, Thorndike menarik kesimpulan bahwa dalam pemecahan problem yang dihadapi oleh kucing tersebut dengan cara-cara (trial and error). Adanya latihan akan memperkuat hubungan stimulus dan respon.
Kohler menggunakan eksperimen dengan menggunakan simpanse. Model eksperimennya seperti Thorndike yang menaruh simpanse kelaparan dalam kandang, dan di luar kandang ditaruh makanan yang tidak bisa dijangkau dengan tangan, tetapi akan dapat diambil apabila simpanse menggunakan tongkat (stick) yang disediakan oleh Kohler dalam kandang. Setelah beberapa kali simpanse mencoba mengambil makanan menggunakan tangan saja tidak dapat, maka setelah berjalan kian kemari dan tongkat, terjadi perubahan dalam wajah simpanse, yaitu adanya “AHA’ tanda menemukan pemecahan yang benar, yaitu simpanse mengambil tongkat terebut untuk mengambil makanan dan ternyata dapat. Dari percobaan tersebut, Kohler sampai pada kesimpulan bahwa dalam problem solving yang berperan adalah insight bukan coba-salah, sekalipun Kohler juga mengaku adanya coba-salah dalam eksperimennya khususnya yaitu dalam presolution, namun yang penting adalah insght atau pengertian.

G.   CARA MENARIK KESIMPULAN
Tujuan berpikir adalah mencari pemecahan masalah yang dihadapi. Berdasarkan data yang ada maka ditariklah kesimpulan sebagai pendapat akhir atas data atau pendapat-pendapat yang mendahului.
Cara yang digunakan dalam penarikan kesimpulan yaitu:
1.     Kesimpulan yang ditarik atas dasar analogi
Kesimpulan yang ditarik atas dasar analogi, yaitu kesimpulan yang ditarik atas dasar adanya kesamaan dari suatu keadaan atau peristiwa dengan keadaan atau peristiwa yang lain.
2.    Kesimpulan yang ditarik atas dasar cara induktif
Kesimpulan yang ditarik atas dasar cara induktif, yaitu kesimpulan yang ditarik dari peristiwa menuju ke hal yang bersifat umum.
3.    Kesimpulan yang ditarik atas dasar cara deduktif
Kesimpulan yang ditarik atas dasar cara deduktif, yaitu kesimpulan yang ditarik atas dasar dari hal yang umum ke hal yang bersifat khusus atau peristiwa.

H.   BERPIKIR KREATIF
Dalam berpikir kreatif, ada beberapa tingkatan atau stages sampai seseorang memperoleh sesuatu hal yang baru atau pemecahan masalah.
Tingkatan-tingkatan itu adalah:
1.    Persiapan (preparation)
Yaitu tingkatan seseorang memformulasikan masalah, dan mengumpulkan fakta-fakta atau materi yang dipandang berguna dalam memperoleh pemecahan yang baru.
2.    Tingkat inkubasi
Yaitu berlangsungnya masalah tersebut dalam jiwa sesorang, karena individu tidak sengaja memperoleh pemecahan masalah.
3.    Tingkat pemecahan atau iluminasi
Yaitu tingkat mendapatkan pemecahan masalah, orang mengalami “Aha”, secara tiba-tiba memperoleh pemecahan tersebut.
4.    Tingkat evaluasi
Yaitu mengecek apakah pemecahan yang diperoleh pada tingkat iluminasi itu cocok atau tidak. Apabila tidak cocok lalu meningkat pada tingkat berikutnya.
5.    Tingkat revisi
Yaitu mengadakan revisi terhadap pemecahan yang diperolehnya.

Orang yang berpikir kreatif mempunyai beberapa macam sifat mengenai pribadinya yang merupakan original person, yaitu:
1.    Memilih fenomena atau keadaan yang kompleks
2.    Mempunyai psikodinamika yang kompleks, dan mempunyai skope pribadi yang luas.
3.    Dalam jugment-nya lebih mandiri.
4.    Dominan dan lebih besar pertahanan diri (moreself-assertive).
5.    Menolak suppression sebagai mekanisme kontrol.

I.      HAMBATAN DALAM PROSES BERPIKIR
Hambatan-hambatan yang mungkin timbul dalam proses berpikir dapat disebabkan antara lain karena data yang kurang sempurna sehingga masih banyak lagi data yang harus diperoleh, dan data yang ada dalam keadaan confuse (data yang satu bertentangan dengan data yang lain) sehingga hal ini akan membingungkan dalam proses berpikir.
Kekurangan data dan kurang jelasnya data akan menjadikan hambatan dalam proses berpikir seseorang, lebih-lebih jika datanya bertentangan satu dengan yang lain, misalnya dalam cerita-cerita detektif. Karena itu ruwet tidaknya suatu masalah, lengkap tidaknya data akan dapat membawa sulit tidaknya dalam proses berpikir seseorang.


REFERENSI


Muhammad Baitul Alim. “Pengertian Ilmu Psikologi”. Online. http://www.psikologizone.com/pengertian-ilmu-psikologi/0651110. Diakses 12 Desember 2011.


Walgito, Bimo. 2005. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang