Monday, 21 May 2012

AKU BUKAN ORANG LAIN


Namaku Ari, aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku bernama kak Nia, sekarang beliau sedang melanjutkan pendidikan profesi Psikolog S2 di Rusia, ayahku seorang pejabat di salah satu kota besar di Indonesia, dan ibuku mempunyai usaha salon, butik, dan restorant. Sedangkan aku sendiri adalah mahasiswa semester 4 di salah satu Perguruan Tinggi Negeri favorit dan terkenal di Indonesia jurusan manajemen. Banyak yang bilang kalau keluargaku cukup kaya dengan status pekerjaan kami semua. Aku juga merupakan salah satu pria idaman para wanita-wanita pemburuh rupiah. Wajar saja, aku telah beberapa kali ganti mobil semenjak kuliah, jadi paradigma para wanita mengatakan bahwa aku orang cukup kaya raya. Banyak wanita yang sering mengajakku jalan dan nge-date tapi aku cukup pilih-pilih juga dalam bergaul dengan teman wanita. Bukannya apa, tetapi orangtua dan kakakku sering berpesan untuk menjaga nama baik keluarga.
Aku selalu menjadi awasan orangtua dan kakakku, mereka bahkan suka mengorek informasi kegiatanku selama tak sedang di rumah kepada beberapa teman dekatku. Wajarlah mereka begitu, aku ini cukup bandel, aku sering clubbing dan beberapa kali tidak pulang ke rumah, aku juga pernah berurusan dengan polisi. Berbeda dengan orangtua dan kakakku yang memang cukup taat beribadah. Mereka selalu taat beribadah walaupun jadwal mereka yang sangat sibuk, mereka juga masih sering memperhatikanku meskipun aku kadang tak menghiraukan mereka. Mereka yang sudah beberapa kali melakukan ibadah haji dan umroh, sedangkan aku tak pernah sekalipun. Aku lebih memilih untuk liburan di Eropa bersama teman-temanku dibanding dengan keluargaku. Tapi tidak untuk kakakku, beliau adalah orang paling dekat denganku semenjak kecil, bukan ibuku! Maklum saja, ibuku sejak kecil selalu sibuk mengurusi bisnisnya, jadi hanyak kakak yang selalu menemani hari-hariku selama ini sebelum beliau kuliah S2 di luar negeri. Orangtuaku baru menunjukkan perhatiannya setelah aku kuliah dan sempat melakukan hal-hal nekat ketika aku kesepian dan butuh perhatian mereka. Aku sempat benci pada orangtuaku, tapi kakakku berhasil mengubah paradigmaku tentang mereka walaupun hingga saat ini belum sepenuhnya bisa kuterima.
Suatu hari ibuku memintaku untuk mengantarnya ke acara arisan kompleks, karena waktu itu supirnya sedang sakit maka kuturuti saja perintah ibuku, aku juga tak tega jika harus melihatnya pergi sendiri menggunakan taksi. Ibuku memang sangat hobi berarisan, entah itu dengan ibu-ibu kompleks, dengan ibu-ibu majelis ta’lim, dengan pengusaha-pengusaha terkenal, atau bahkan dengan sesama istri pejabat. Ibuku juga tidak sombong, walaupun suaminya seorang pejabat tinggi, tapi Ia masih ingin bergaul dengan ibu-ibu kompleks kami yang beberapa bukan dari kalangan orang kaya raya. Setelah sampai di rumah teman ibuku, namanya ibu Rahmi, semua ibu-ibu serentak menyapa dan menyuruhku masuk, mungkin karena mereka jarang melihatku makanya mereka bersikap begitu. Aku cukup kaget juga, ternyata ibu-ibu yang lain banyak yang mengajak anaknya, dan sebagian besar adalah anak perempuannya, cukup risih aku waktu itu, tapi apa boleh buat aku harus menunggui ibuku sampai kegiatan mereka yang sebenarnya cuma banyak gossip selesai.
Aku hanya duduk di kursi teras rumah ibu Rahmi sambil memainkan handphone-ku untuk menghilangkan kejenuhan, beberapa mata anak perempuan yang ada di sana sepertinya sedang melihatku dalam-dalam, aku cuek saja karena ini bukan pertama kalinya wanita bersikap begitu padaku. Salah satu dari mereka menghampiriku, dengan ramahnya ini memperkenalkan nama dan kutahu dari dia bahwa namanya Dessy, dia adalah anak ibu Rahmi, seorang pelajar kelas 2 SMA.  Wajar jika hanya dia yang berani berbicara denganku, secara aku adalah tamu di rumahnya saat ini. Tiba-tiba datang lagi seorang ibu-ibu lagi masuk ke dalam pagar rumah yang ternyata adalah anggota arisan juga. Ia datang bersama seorang gadis cantik berjilbab merah muda, sontak aku terpesona. Kulitnya begitu putih merona, bibirnya merah, dan sepertinya orang yang cukup sabar. Ia tersenyum ke arahku dan aku membalas senyumannya, tapi betapa salah tingkahnya aku ketika kutahu ia tersenyum kepada Dessy  yang memang ada di sampingku bukan kepadaku. Hal ini membuatku seperti orang bodoh, aku langsung saja membuang muka, dan kulihat Dessy begitu akrab dengannya. “Kak Tiara apa kabar? Kapan baliknya? Wah kakak tambah cantik deh”, begitu kata Dessy, dan dari situ kutahu bahwa namanya adalah Tiara. “Alhamdulillah baik sayang. Kamu apa kabarnya? Baru juga kemarin sampe di Bandung. Kamu sekolahnya baik kan? Kamu juga tambah cantik kok, tambah dewasa”. “Ah kakak bisa aja, lebih cantik kakak kok”.  Begitulah kira-kira percakapan mereka yang sempat terlintas di hadapanku, mereka sepertinya tak menganggapku ada di sana, sial sekali!
Setelah Tiara masuk ke rumah, aku mulai mengorek-orek informasi tentangnya dari Dessy, dan kutahu bahwa Ia adalah mahasiswa Kedokteran di salah satu PTN terkenal di Jogja semester 2. Tiara adalah kakak kelas Dessy waktu SMA dulu, jadi sangat wajar jika mereka akrab, ditambah lagi orangtua mereka juga adalah teman arisan. Aku berusaha membujuk Dessy untuk memberikan nomor HP Tiara, awalnya Ia tak mau tapi setelah kubujuk dan sedikit memaksa serta berjanji untuk mentraktirnya barulah Ia memberikannya padaku, “Tapi kakak jangan bilang-bilang ya kalau itu dari aku” begitu katanya, dan dengan semangat kuiyakan saja. Sepulang dari rumah Dessy langsung ku sms nomor yang Dessy berikan padaku tadi sore, “Hai Tiara, boleh kenalan gak? Ini gue Ari anaknya tante Fitri teman arisan nyokap lo”, kutunggu balasannya tapi ternyata tak ada sampai aku terbangun keesokan harinya. Aku menjadi agak dongkol waktu itu, tapi rasa penasaran ingin mengenalnya lebih jauh masih sangat melekat pada diriku. Tiga hari berturut-turut aku selalu mengirimkannya sms tapi tak pernah diresponnya, beberapa kali ku telepon juga namun tak pernah dijawabnya. Bukannya menyerah, aku tambah penasaran dibuatnya.
Suatu hari ku telepon kakakku, aku ingin berkonsultasi degannya. Sejak kecil ia selalu menjadi pendengar dan penasehatku yang baik, maka dari itu aku sangat mendukugnya sewaktu ia ingin kuliah di jurusan psikologi. Walaupun orangtua kami waktu itu menginginkan kakak untuk kuliah kedokteran, tapi kakakku tetap ngotot dan akhirnya sekarang ia telah melanjutkan S2nya lagi sehingga membuat orangtua kami sangat bangga padanya.
“Haloo.. Assalamualaikum”, sapanya dari telepon.
“Waalaikumsalam, kakak .. aku kangen berat nih”
“haha kok tiba-tiba kangen? Emang ada apa? Udah gak usah basa-basi bilang aja langsung”
“ hehe kok tau sih kalau aku pengen bilang sesuatu?”
“Iyalah, kan kamu telepon kakak kalau lagi pengen curhat doang”
“hehe nggak juga kok, memang aku kangen loh sama kakak, sekalian curhat juga hehe”
“haha udah buruan curhatnya sebelum pulsa kamu keburu abis”
“tenang kak tenang, aku udah isi banyak kok. Jadi gini, waktu aku anter mama arisan kompleks aku ketemu sama anaknya tante Ita yang teman arisannya mama itu loh”
“maksud kamu Tiara? Yang kuliah di kedokteran kan sekarang? Yang pake jilbab itu”
“Iya, loh kok kakak tau?”
“iyalah, kakak kan akrab sama dia. Kakak sering ngobrol sama dia kalau lagi ikut mama arisan. Sampe sekarang kakak masih sering kontek-kontekan kok, dan kakak tau kalau dia kuliah di kedokteran juga dari dia. Kemarin malam kakak sempat sms-an juga sama dia, katanya pengen ketemu kakak karna lagi balik ke Bandung”
“what??? Kakak kok nggak pernah bilang sih kalau kakak kenal akrab sama Dia? Padahal aku udah keluarin duit loh buat dapat nomornya dari Dessy. kok kakak bisa sms-an sama Dia? Padahal aku sms-in sama telfonin tapi nggak ada respon”
“haha iyalah, kamu nggak sopan kali smsnya. Lagian dia itu berjilbab dek, dia mana mau pacaran. Dia juga pernah cerita sama kakak kalau dia nggak mau pacaran dulu, katanya nanti aja langsung nikah. Setau kakak sih emang dia nggak mau pacaran”
“ah masa sih? Tapi aku bakal buktiin kok kalo aku bisa dapetin dia, kakak tenang aja. Tunggu aja kabarnya”
Aku sempat kaget juga mendengar penjelasan kakakku tentang Tiara, tapi rasa penasaranku semakin membara, aku makin tertarik padanya, tak banyak perempuan semacam dia di jaman modern seperti ini.

2 comments:

  1. sepertinya mendalami sekali peran sebagai laki-lakinya haha
    keren (y) good posting lah ..

    ReplyDelete
  2. hahaha iya tapi tidak tau apa nanti endingnya ini bela, kehabisan ideka. masih bersambung itu nah haha

    ReplyDelete

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang