Thursday, 10 May 2012

BUKAN CERITAKU


Malam ini kembali kesunyian menghampiriku. beberapa kali kunyalakan dan kumatikan kembali notebook-ku, memainkan beberapa game favoritku beberapa menit lalu kumatikan lagi. berulang kali ku cek handphone-ku, berharap ada sms atau missedcall yang masuk tapi ternyata nihil. ku putar lagu yang ada di playlist handphone-ku sambil menggunakan  headset berharap kesunyian akan hilang tap ternyata malah semakin menjadi-jadi. beberapa potong lirik lagu menginatkanku pada seseorang, seseorang yang pernah begitu dekat denganku namun kini tak kutemukan sosoknya lagi. Mungkin aku galau? ya aku galau malam ini! dalam hati aku bergumam "Ternyata begini ya rasanya galau? sungguh tidak enak ya?"

Kubuka kembali daftar kontakku, ku susuri nama satu persatu yang tercantum di kontakku, hingga aku berhenti pada satu nama yang telah berhasil membuatku galau malam ini, segera ku mengetik pesan singkat, “Assalamualaikum. Kak apa kabar? Gimana kuliahnya? Organisasinya masih aktif?”, ingin segera ku pencet tombol send tapi keraguan tiba-tiba menghantuiku mengingat perubahan 180 derajat yang terjadi padanya selama 1 tahun terakhir ini. Kuingat kembali kapan terakhir kali komunikasi kami yang melalui SMS, yah itu sekitar 3 bulan yang lalu ketika buku yang pernah ku pinjam padanya hendak ku kembalikan lagi. Kuingat lagi kapan terakhir kali Ia mengirimkan sebuah pesan singkat padaku, hal ini membongkar habis long time memory-ku. Yahh, kejadian itu sekitar 1,5 tahun yang lalu, ketika aku masih kelas 3 SMA dan dia baru saja berstatuskan mahasiswa.
“Assalamualaikum. Apa kabar dek? Gimana sekolahnya? Sudah ujian semester belum?” dan waktu ku balas dengan agak ketus karna itu adalah pesan singkat yang Ia kirimkan padaku setelah 2 bulan lamanya tak menghubungiku lagi. “Waalaikumsalam. Alhamdulillah baik kak” kembali lagi Ia membalas, “Alhamdulillah kalau begitu. Kakak apa kabarnya? Keluarga yang lain juga apa kabar? Masih sering marahan ya sama kakak? Hehe”, pesannya kali ini membuatku sedikit tersenyum, entah karena kata “hehe” yang ada dalam pesannya atau karena aku teringat akan segala curahan hatiku yang ku tumpahkan padanya ketika sedang bermasalah dengan kakakku. “Alhamdulillah baik semua kak. Hehe masih ingatkah? Padahal saya sudah lupa loh :D” dan teruslah kami saling berbalas pesan hingga pukul 10 malam itupun ketika Ia mengingatkanku untuk segera tidur karena besoknya akan bersekolah lagi.

1 minggu kali kembali discommunication, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan. Hingga ketika aku mendapat tugas yang sangat berhubungan dengan jurusannya di perkuliahan. Agak gengsi sebenarnya waktu itu, tapi karena dia adalah orang yang tepat untuk dimintai pertolongan maka ku kirimkanlah dia sebuah pesan singkat “Assalamualaikum. Kak lagi sibukkah? Mau tanya sesuatu” tetapi tak ada balasan. Berulang kali aku mengecek handphone-ku berharap ada balasan darimya yang masuk tapi hasilnya mengecewakan. Jujur saja aku merasa sangat kesal waktu itu, ini adalah kali pertamanya aku mengirimkan pesan duluan padanya, biasanya aku akan menunggu hingga dia yang meng-SMS duluan. Bukannya aku sok atau apa, tapi aku memang tipikal orang yang cukup gengsian untuk hal-hal tertentu. Setelah 3 hari pesan itu ku kirim, barulah Ia membalas, “Bismilllah. Mohon maaf dek baru balas smsnya, soalnya kemarin lagi ada kerjaan. Mau tanya apa?” cukup kaget aku waktu itu ketika melihat pesannya yang diawali dengan kata basmalah, sungguh ini bukan dia yang biasanya. Tapi aku tak terlalu mengkritisi itu, ku balas saja pesannya dengan rada cuek “Waalaikumsalam, sudah kak. Tugas sekolah” dan kembali balasan pesannya membuatku mencair saat itu, “Astaga kenapa tidak bilang kalau mau tanya tugas sekolah dek? Saya kira cuma iseng. Lain kali kalau mau tanya tugas sekolah, langsung bilang saja supaya saya bisa usahakan untuk langsung balas SMS-nya adek”, selanjutnya kembali ku balas dengan seramah mungkin.

Setelah kejadian itu kembali lagi kami discommunication. Tak pernah ku kirimkan pesan singkat lagi, begitupun dirinya. Hingga UN, menunggu pengumuman UN, pendaftaran SNMPTN.. untuk kedua kalinya kukirimkan pesan singkat duluan padanya, “Assalamualaikum, kak pendaftaran SNMPTN kapan kah?” dan hanya balasan singkat darinya “Waalaikumsalam, kurang tau dek” maka ku hentikan komunikasi kami saat itu. Jengkel diriku waktu itu, tak ada keramahan yang ku dapat darinya. Langsung saja ku hapus nomornya dari kontak handphone-ku. KAU TIDAK PENTING BOY!!! Begitulah yang ada di otakku. Hingga ketika pengumuman lulus UN dan seleksi PTN keluar, hanya dia yang tak memberi selamat padaku. Sedih, kecewa, jengkel bersatu dalam emosiku saat itu. Apakah aku mencarinya? Ya, jelas! Bagaimanapun juga dia adalah salah satu alasanku untuk bergabung dalam keluarga besar kampusnya selain karna memang aku sangat menginginkan jurusan yang telah aku jalani saat ini. Walaupun kami beda fakultas dan jurusan, tapi hanya dialah yang berhasil menghilangkan sedikit paradigma di pikiranku tentang citra buruk kampus kami sekarang.

Kuliah pertama, aku sempat kaget mendengar informasi dari dosen bahwa ada ruang kelas jurusanku yang bertempat di fakultasnya. Bahkan bersebelahan kelas dengannya. Ku kirimkan lagi sebuah pesan singkat, “Assalamualaikum, kak lagi dimana? Sekarang saya ada di fakultas kakak soalnya ada ruang kelas jurusan saya di sini”. Nomornya ku ambil dari facebook saat itu, toh dia juga tidak tahu bahwa nomornya pernah ku hapus (begitu gumamku saat itu). Kali ini pikiranku tentang hal-hal menyebalkan tentang dirinya telah kubuang jauh karena mungkin aku akan sangat membutuhkannya di dunia perkuliahan. Tapi ada kembali berapi-api, kembali pesanku tak dibalasnya lagi. Aku merasa diacuhkan saat itu. Aku berusaha mengintrospeksi diri, mungkinkah pernah ada kata atau perbuatan yang membuatnya tersinggung sehingga Ia menjauhiku? Begitu gumamku. Malam harinya kira-kira pukul 12 malam, handphone-ku berdering, sontak aku terbangun dan segera mengecek handphone­-ku. Ternyata ada pesan darinya, “Bismillah, mohon maaf dek baru balas, baru ada pulsa soalnya. Oia, memang jurusan adek punya kelas di fakultasku. Tapi tadi saya tidak kuliah dek, hari senin depan jadwalnya baru kuliah. Apa kabar dek? Bagaimana rasanya jadi mahasiswa?” kembali aku kegirangan, ternyata apa yang kupikirkan tadi siang tak seperti kenyataan. Langsung kubalas pesannya, kutunggu balasannya namun tak ada. Kecewa!

Pertemuan pertama di kuliah yang lagi-lagi berhubungan dengan jurusannya ku kirimkan lagi sebuah pesan singkat karena memang saat itu aku sangat membutuhkan buku yang pastinya sudah Ia miliki semenjak MABA. Setelah kami janjian pada hari kamis besoknya untuk mengambil buku yang Ia janjikan, aku disuruh menunggu di depan ruang kelasku yang ada di fakultasnya. Mataku mengelilingi koridor lantai 2 di fakultasnya, dan berhenti pada sosok yang sepertinys ku kenal. Sosok itu mengampiriku, dan pada saat itu juga aku yakin bahwa itu dia! Subhanallah.. sungguh Ia berbeda dengan yang dulu, Ia yang setahun lalu penampilannya berhasil membuatku terkagum, kini berubah 180 derajat. Kemeja coklat yang dikenakannya, celana kain tergantung di atas mata kaki, sepatu pantofel dan kaos kaki, serta jenggot yang menghiasi dagunya. Bibirnya terlihat tersenyum padaku, dan aku berusaha bersikap ramah seperti biasanya ketika Ia menyodorkanku buku, “Makasih kak? Kapan saya kembalikan bukunya?” kataku. Dan dibalasnya “Pakai saja dulu, nantilah baru dikembalikan. Saya tidak pake kok”. “Oh iya kak, makasih ya. Saya masuk kelas dulu”. Ku perhatikan sekelilingku, ternyata ada banyak pasang mata yang melihat ke arah kami, sepertinya mereka adalah teman-temannya, atau mungkin orang-orang yang heran melihat akhi sepertinya sedang mengobrol dengan perempuan yang berpenampilan biasa bukan dari kalangan ukhti. Cukup singkat memang pertemuan kami saat itu, sepertinya tak cukup 5 menit. Tapi kejadian itu begitu melekat di pikiranku di pikiranku hingga saat ini. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya aku melihatnya dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dengan dahulu.

Jujur saja, sejak saat itu aku kagum dengan perubahannya. Kekagumanku dulu akan sosoknya yang begitu wibawa dan sopan kini bertambah dengan penampilannya yang Islamiah. Ya aku kagum! Tidak banyak laki-laki yang bisa seperti dia, di mataku kini Ia mendapat nila 9.9. Namun seketika aku down, terlintas di fikiranku bahwa aku tak akan menemukan sosoknya yang dulu. Dia yang selalu ada di saat aku butuh. Ketika aku ingin meluapkan segala uneg-uneg di hatiku, ketika aku kesusahan mengerjakan tugas, ketika aku membutuhkan siraman rohani dan nasihat  layaknya seorang adik yang diceramahi kakaknya, ketika aku membutuhkan dukungan, penyemangat, dll. Banyak teman-teman yang heran padaku, bahkan ada yang dengan blak-blakan menanyakan hal yang berhasil membuatku ketawa terbahak-bahak “Kamu suka sama laki-laki yang celananya tergantung dan berjenggot ya? Kok bisa?”, aku hanya tersenyum menahan tawa mendengar pertanyaan temanku. Bagiku, penampilannya yang sekarang adalah nilai plus darinya, dan aku tetap kagum dengan sosoknya yang mungkin tidak keren lagi seperti apa yang dikatakan teman-temanku. Dia yang dulu dan dia yang sekarang akan tetap keren di mataku. Walaupun aku sendiri sadar bahwa aku tak pantas untuknya. Ada banyak ukhti yang menunggunya diluar sana, seperti ketika Ia masih SMA dulu dan itu kutahu dari temaku. Makasih kak sudah banyak membantuku selama 2 tahun terakhir ini. Kamu tetap inspirasiku dan motivatorku!!

2 comments:

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang