Friday, 17 August 2012

KURAIH GAUN SARJANAKU


karya: Indriana Halman
            Dinginnya angin malam, tidak menyurutkan hati Mala untuk beranjak dari terasnya. Mala hanya duduk diam dan terpaku memandangi sinar rembulan yang kian redup seiring dengan kegundahan yang berkecamuk dan mengutak-atik hati Mala. Dadanya kian sesak hingga tak mampu lagi untuk  berkata-kata. Hatinya keluh tak berdaya untuk memilih antara menggapai impian atau memenuhi kehendak ayahnya. Sementara di ruang tengah, sayup-sayup terdengar suara kedua orang tuanya yang berselisih paham.
            “Pokoknya Mala tidak boleh melanjutkan kuliahnya ke perguruan  tinggi!” kata ayah dengan nada marah.
            “Ayah, mengapa kamu tidak mau mengerti jika anak kita ingin seperti anak yang lain, Mala punya mimpi dan dia ingin menggapai impiannya,” tukas ibu Mala.
            “Buat apa anak perempuan  sekolah tinggi-tinggi jika pada akhirnya dia jatuh di dapur,”  balas ayah lebih geram lagi.
“Tapi ayah tahu bukan, jika besok adalah kesempatan terakhir Mala untuk mendaftar ulang  dan jika Mala melepaskan kesempatan itu, mungkin dia tidak akan pernah bisa mengenyam bangku kuliah. Kuharap ayah bisa mengerti. Dan seharusnya ayah bangga karena anakmu bisa lulus di universitas ternama itu. Sungguh aku tidak mengerti jalan pikiran ayah,” kata ibu dengan lemasnya seraya tak sanggup membendung air matanya melihat keegoisan suaminya.
            Perdebatan itu terus terjadi, ayah dan ibu Mala saling mengungkapakan argumennya masing-masing. Mala hanya bisa mendengar sayup-sayup suara mereka. Namun, Mala sendiri pun tak berdaya karena dihatinya ada satu pertanyaan yang tak mampu dijawabnya. Haruskah dia mengorbankan impian yang dirajutnya sejak SMP atau mengikuti kehendak ayahnya untuk menikah dengan orang yang telah dipilihkan untuknya.
                                    dan bila aku berdiri tegar
                                    sampai hari ini
                                    bukan karena kuat dan hebatku
                                    semua karena cinta...
Lirik lagu favoritnya mengalun indah di alarm GSM-Mala. Suara alarm itu membangunkan Mala di pagi yang berat ini. Ya, ini adalah hari terberat yang harus dilaluinya, karena hari ini ayah akan menjatuhkan putusannya. Pening rasanya kepala Mala jika harus mengingat-ingat lagi masalah yang menghimpitnya. Tak lama kemudian dari balik pintu terdengar suara ibunya,”Mala...Mala..! Bangun sayang, hari sudah mulai siang. Nggak baik loh anak gadis bangun kesiangan.”
“Iya bu, Mala sudah bangun,” jawab Mala dari dalam kamarnya dengan nada malas.
Setelah bangun dan merapikan tempat tidurnya. Mala pun segera menuju ke kamar mandi. Dia ingin mendinginkan kepala dan hatinya untuk mendengar keputusan ayah, sebab sekeras apapun Mala dengan pendiriannya, tetap saja ia tidak bisa menentang keputusan ayahnya. Mala hanya bisa pasrah pada yang Mahakuasa dan juga takdirnya serta berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Tak lama kemudian Mala sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi bersama orang tuanya. Awalnya suasana sarapan pagi mereka begitu hening,  semuanya hanya diam menikmati hidangan yang disajikan oleh ibu. Kemudian ayah mulai bertanya kepada Mala. “Jadi, bagaimana keputusanmu Mala, apa kamu telah menentukan pilihan?” tanya ayahnya datar.
“ Belum ayah, Mala sangat bingung. akan tetapi jika aku diberi kesempatan untuk memilih, maka kumohon agar ayah mengijinkanku untuk kuliah. Ayah, aku ingin seperti teman-temanku yang lain. Aku paham dengan keinginan ayah namun rasanya aku belum siap untuk menikah sedini ini. “Pinta Mala dengan memelas”.
“Jika keinginanmu memang sudah seteguh itu, ayah tidak bisa melarangmu dan ayah harap kamu bisa mempertahankan pilihanmu. Ingat Mala, ini adalah pilihanmu! Jadi jangan salahkan ayah jika suatu saat nanti kamu menyesal.
Dengan mimik tak percaya, Mala berdiri dan memeluk ayahnya dan membisikan satu kata di telinga ayahnya, “Terima kasih Ayah! Aku berjani akan menjaga kepercayaan ayah dan membuktikan pada ayah bahwa Mala adalah anak ayah yang bisa ayah banggakan. Ibunya pun turut bahagia menyaksikan kebahagiaan Mala. “Sudah dong pelukannya, ingat Malah hari ini kamu kan harus mendaftar ulang!”
“Baiklah ibu! Jawab Mala singkat seraya meninggalkan ruangan itu karena dia ingin segera bersiap-siap untuk pergi mendaftar ulang. Akhirnya lengkap sudah kebahagiaan Mala hari ini. kini Mala dapat bernafas lega dan kembali menapaki hari-harinya untuk menggapai impiannya.
Tak terasa enam tahun telah berlalu. Rasanya baru kemarin Mala mengemis dihadapan ayahnya untuk melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi. Akan tetapi, hari ini dia sudah berhasil menyematkan toga wisuda di kepalanya. Sungguh ini merupakan perjuangan terberat Mala untuk menggapai mimpinya. Masih terngiang-ngiang di ingatan Mala bagaiman sulitnya dia menghadapi pilihannya. Mala pernah merangkak, tertatih-tatih bahkan terjatuh dalam menjalani kuliahnya, disebabkan Mala dihimpit oleh prmasalahan ekonomi. Memang Mala bukanlah anak dari golongan atas. Tetapi hal itu tidak pernah menyurutkan keinginannya untuk menjadi seorang dokter.
Kini Mala sudah dapat berdiri dan membuktikan bahwa wanita pun bisa menggapai mimpinya, tetapi setinggi apapun pangkat, popularitas, dan kedudukan seorang wanita dia tetaplah seorang wanita yang kodratnya diciptakan untuk mengurus rumah tangga.
Genap dua tahun sudah Mala menyelesaikan S1-nya dan bekerja pada instansi kesehatan di daerahnya. Dan di tahun itu pula Mala melengkapi kodratnya sebagai wanita yang sempurna. Mala disunting oleh seorang mantri muda yang kebetulan magang di instansi kesehatan tempat Mala bekerja. Lengkap sudah kebahagiaan Mala dan orang tuanya. Perjalanan hidup dan keajaiban Tuhan memang di luar kuasa manusia. Sekarang Mala dapat membuktikan pada dunia, bahwa dia mampu menggapai cita dan cintanya serta mempersembahkan segalanya untuk kedua orang tuanya. Sebab Mala bisa berdiri sampai hari ini karena cinta dan doa orang tuanya. Seperti dalam lirik lagu kesukaannya “Karena Cinta”

dan bila aku berdiri tegar
                                    sampai hari ini
                                    bukan karena kuat dan hebatku
                                    semua karena cinta...

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang