Tuesday, 7 August 2012

PEMULUNG CILIK DAN MIMPI BESARNYA II

Koridor Rumah Sakit Umum begitu sesak dipenuhi oleh orang-orang perkampungan, orang-orang itu adalah tetangga Kasma, semuanya cemas menunggu di depan ruang ICU, kasma dan tiga orang adik kecilnya terisak terus menerus memanggilkan kata “Ayah”, beberapa wanita paruhbaya yang ada di sana mencoba menenagkan keempat anak tersebut, sementara ibu mereka sendiri telah tersandar kaku di salah kursi yang ada di koridor rumah sakit tersebut. Setelah beberapa lama menunggu keluarlah seorang pria paruhbaya berjas putih dan sedikit beruban, “Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya” ujarnya. Sontak semuanya menangis, meratapi kepergiaan seorang ayah dari 3 orang anak dan suami dari istri yang sedang dilanda sakit keras. Terlihat Kasma meronta dan begitu terpukul dengan perkataan dokter tadi, Ia segera masuk ke ruang ICU menghampiri jasad ayahnya, “Pak.. Bapak.. kenapa Bapak pergi begitu cepat? Ibu sakit Pak.. Ibu sakit.. Kasma juga masih ingin sekolah lagi, Bapak belum liat Kasma jadi guru kan? Bangunlah Pak.. Bangun.. kasian Ibu Pak, kasian adik-adik Kasma.. Pakkk!!!!!!!!” , kasma tak henti meraung di samping jasad ayahnya, dipeluknya erat tubuh beku itu, dikecup kening dan pipinya, begitu lama sehingga membuat orang-orang yang ada di ruangan tak sedikit yang ikut menangis. Ketiga adik Kasma juga tak henti menangisi jasad Ayahnya, sementara ibunya yang sedari tadi hanya tersandar di kursi, kini jatuh pingsan melihat jasad suaminya yang begitu pucat dan kaku.

Keesokan harinya, pemakaman jasad Ayah Kasma dilaksanakan. Ibunya tak hadir dalam pemakaman tersebut, Ia harus di rawat di rumah sakit karena fisiknya yang juga melemah. Adik pertama dan kedua Kasma menunggui ibu mereka di rumah sakit, sementara adik bungsunya ikut dengannya di acara pemakaman Ayahnya. Begitu banyak tetangga dan mantan rekan kerja ayahnya yang simpatik pada mereka, semuanya memeluk dan mengelus mereka dengan penuh rasa iba, “Sabar ya Nak, Bapak kalian di sana baik-baik saja kok”, Kasma hanya bisa sedikit tersenyum sedangkan adik bungsunya hanya menyimpan setuja keheranan di wajahnya. Ketika jenazah Ayah mereka agak diangkat ke pemakanan, tiba-tiba Adik bungsu kasma bertanya, “Kak Kasma, Bapak kok diangkat sih? Bapak main ayunan ya? Kok tidak ajak kita? Aku mau ikut Bapak ya?”, Kasma sedikit menahan tangis sembari berkata, “Bapak itu sudah mau pergi jauh Dik, mau mengahadap Tuhan. Kamu tidak boleh ikut, kan kasihan Bapak kalau musti sempit-sempitan di ayunan sama kamu”, adik Kasma hanya mengangguk mendengarkan penjelasan dari kakaknya.
 
Setelah semua orang meninggalkan pemakaman, tinggallah Kasma dan adiknya di samping makan Ayahnya. Dipandanginya Kasma batu nisan yang tertuliskan nama Ayahnya, setitik butiran air mata keluar dari ujung matanya. Perlahan diulurkannya tangannya menuju batu nisan tersebut, disentuhnya dengan penuh keharuan, “Pak, Kasma janji, Kasma akan jadi guru”, begitu kata Kasma yang diikuti dengan air mata keharuan yang sudah tak bisa dibendungnya lagi, dipeluknya batu nisan tersebut sambil terisak-isak. Adik Kasma yang sedari tadi ada di sana hanya diam dan memperhatikan tingkah kakaknya, Ia tak mengerti dengan skenario hidup yang kini dialami oleh keluarganya, yang Ia tahu pasti adalah bapaknya telah meninggal dunia, meninggal dunia bearti tidak ada di rumah untuk selamanya.

bersambung...

 
 
nb: maaf sepertinya untuk cerita kali ini Admin kurang kreatif, bagi yang punya kritik dan saran silahkan kirim melalui email sriutamihalman@yahoo.com terima kasih :D

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang