Friday, 17 August 2012

Terluka Di Penantian

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
para agan dan aganwati yang ganteng dn cantik, apa kabar? Semoga saja baik :D pada postingan kali ini admin akan menceritakan sebuah kisah nyata yang dihiperbolakan oleh admin dari seorang sahabat yang tidak usah disebutkan namanya. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, waktu, dan jalan ceritanya sekali lagi saya katakan itu semua adalah kuasa Allah swt. Oia, belakangan ini admin lebih banyak memposting cerita dibanding teori psikologi dikarenakan lagi libur semester gan, jadi stop belajar dan mari menulis B) hohoho
postingan kali ini admin akan mencoba berperan sebagai laki-laki, jadi jika ada hal-hal yang terkesan berlebihan dan tidak sesuai mohon kritik dan sarannya di sriutamihalman@yahoo.com, atau mention di http://www.twitter.com/@sriutamihalman danke danke :D


Sebut saja namaku Andri (nama samaran) mahasiswa semester III di salah satu universitas terkenal di kotaku, tapi walaupun sudah semester III, usia lebih muda dibanding teman-teman sebayaku karna aku sempat tersaring dalam kelas akselerasi semasa sekolah dulu. Yah, tidak heran jika bayak teman atupun adik kelas yang mengidolakanku karna mereka menganggap aku orang yang cukup smart. Walaupun begitu aku tak cukup smart dalam menjalin cinta seperti teman laki-lakiku lainnya, entah karena aku kurang beruntung atau memang tak jodoh.

*flashback

Akhirnya seragam putih abu-abu kini melekat di badanku, rasa puas dan bangga saat kulihat diriku di cermin telah menggunakan celana panjang abu-abu, bukan lagi celana pendek warna biru yang memang telah lama sangat ingin kutinggalkan. Walaupun begitu, seragam putih biruku juga menjadi saksi bisu antara aku dan Winda (nama samaran) yang kini tak kutahu lagi keberadaannya. Sejak pengumuman UN itu dan mendaftar di sekolah yang berbeda, maka aku dan dia betul-betul lost cantact. Hubunganku yang kurang delapan hari genap setahun ternyata unhappy ending dan menjadi kenangan belaka. Whatever-lah, aku tak mau terbebani dengan fikiran-fikiran tentangnya lagi, sekarang aku adalah anak SMA, seorang anak laki-laki SMA yang siap mendapatkan kebahagiaan yang baru. cheerio my past. welcome my bliss ;;)

Di awal sekolahku di SMA, ternyata aku juga tersaring menjadi bagian dari kelas unggulan kelas X di masaku, hal ini bukan sesuatu yang wow bagiku, apalagi aku yang meninggalkan sekolah terbaik di  kotaku dan memilih masuk ke sekolah ini. Awalnya aku agak sulit bergaul karna cuma aku seorang yang berasal dari sekolah SMPku, berbeda dengan lainnya yang memang mempunyai banyak teman se-SMP. Waktu itu aku sebangku dengan Angga (nama samaran) yang menurutku salah satu laki-laki keren di kelasku, dan lagi jabatannya sebagai ketua kelas waktu itu. Kuamati semua teman-teman kelasku satu persatu dan terhenti pada satu wanita yang berhasil membuatku tak berkedip selama beberapa saat. Dia cantik, dan bisa kutebak dia memiliki sifat yang lembut. Ternyata bukan cuma aku yang memperhatikannya, teman sebangkuku Angga juga memperhatikan gadis itu. Belakangan kutahu namanya Dini, Andini Ika Putri. Saat itu Angga langsung bisa akrab dengannya, ya maklumlah posisinya sebagai ketua kelas pasti akan membuatnya bisa dekat dengan seluruh teman-teman kelasku. Sedangkan aku? Aku hanya laki-laki yang gengsian yang sangan menjaga image sebagai pria baik-baik. Walaupun aku iri pada Angga, aku tak akan bisa seperti dia yang memang memiliki predikat playboy dari teman-reman SMPnya dulu.

Seiring berjalannya waktu, aku pun bisa mengakrabkan diri dengan Dini yang sampai saat ini tak mengetahui perasaanku yang kupendam padanya. Angga dan Irfan (nama samaran) yang kebetulan menjadi teman seiya sekataku tahu bahwa aku memendam rasa padanya, mereka mengerti dan sangat mendukungku, tapi aku terlalu gengsi untuk mengungkapkannya secepat ini. Komunikasi dan Dini bisa dibilang cukup baik, apalagi kutahu dari temanku Tami (nama samaran) dan Arin (nama samaran) yang memang sahabatnya bahwa diam-diam ia juga beberapa kali memujiku. “katanya kamu itu manis, smart lagi” begitulah pengakuan kedua sahabatnya. Kutahu dari mereka juga bahwa Dini belum pernah menjalin hubungan spesial dengan seorang laki-laki, hal ini membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkannya, mungkin dialah wanita yang dikirimkan Tuhan untuk sebagai ganti sakit hati yang diberikan oleh Winda dulu. Kerja tugas bersama dan komunikasi lewat sms kini kuterapkan dalam hubungan kami.

Penaikan kelas XI, aku sangat gembira karena bisa sekelas lagi dengannya di XI. Ipa1, bisa sekelas dengan sahabat-sahabatku dan sahabat-sahabatnya yang menjadi mata-mataku untuk Dini. Beberapa bulan menjalani sekolah di kelas XI, kedua temanku Angga dan Irfan mulai mendesakku untuk segera mengungkapkan perasaanku pada Dini, begitu juga teman-temanku yang lainnya. Awalnya aku tak mau, aku masih belum siap menerima konsekuensi yang akan kudapatkan nanti, tapi kata-kata Irfan berhasil membuat egoku runtuh dan tentu saja itu sebenarnya dilatarbelakangi oleh harga diri dan gengsiku “kamu BANCI kalau tidak bisa ungkapkan perasaanmu”. Akhirnya aku, Angga, Irfan dan Arin mulai menyusun strategi untuk acara katakan cinta yang akan kulakukan nanti siang sepulang sekolah. Gugup, ya tentu saja. Ini adalah pertama kalinya aku akan menyatakan cinta pada seorang perempuan, maklum saja dulu ketika bersama Winda suasananya tidak seperti ini karna usia kami dulu yang terbilang masih kecil dan kenak-kanakan.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku tak langsung pulang begitu juga Angga, Irfan, Arin, dan tentu saja Dini. Tapi ternyata semua tidak seperti yang direncanakan, ketiga temanku ternyata keluar dari garis strategi. Mereka meninggalkan aku dan Dini berdua di dalam kelas, yaaa hanya berdua, berdua! Kulihat Dini telah duduk manis di bangkunya, sepertinya Ia juga sudah tahu rencanaku siang ini. Keringan dingin mulai membanjiri tubuhku, ya aku gugup melebihi ulangan lisan bahasa arab. Suasana di kelas waktu itu begitu hening dan hikmat, ingin rasanya aku segera menghilang dari keadaan seperti ini karna tak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana. BOHOH kamu Andri! Begitu makiku pada diri sendiri. Setelah beberapa menit menenangkan diri, kudekati Dini pelan-pelan, jantungku berdebar kencang dan kumulai mengeluarkan kata demi kata yang sejak setahun lalu ingin kukatakan padanya.

“Din, aku mau bilang sesuatu”
“mau bilang apa?”
Kuatur nafasku agar teratur dan kuucapkanlah segala isi hatiku, “sebenarnya aku suka sama kamu. Pertama kali aku liat kamu aku sudah langsung suka. Perasaanku ke kamu itu aku pendam sejak setahun yang lalu tapi aku berani bilangnya baru sekarang. do you want to become my girlfriend?
Kulihat ia tersenyum manis sekali, semoga saja jawabannya seperti yang aku harapkan. “Maaf ya Andri, bukannya aku nolak kamu tapi aku belum mau pacaran dulu, aku belum siap. Aku mau sekolah dulu, dan aku harap kamu juga begitu. Maaf ya kita temenan aja dulu” *Jlebbbbbbbbbbbbb

Kecewa? Jelas aku kecewa, ternyata jawabannya tak sesuai dengan yang kuharapkan, padahal aku cukup yakin bahwa dia akan menerima cintaku. “kita temenan aja dulu
-______- tapi tak apalah, setidaknya aku lega karna akhirnya bisa mengungkapkan perasaanku padanya, ditambah lagi teman-temanku tidak akan mengatai aku banci lagi. Baiklah, aku akan menunggu, menunggumu sampai kamu siap menjadi pacarku!

Setelah kejadian itu, hubunganku dengan Dini semakin membaik, mungkin karna ia ingin lebih menghargai perasaanku yang kini telah ia ketahui. Aku juga agak sedikit mengontrol diri di kelas jika sedang diperhatikan dia, aku ingin kelihatan selalu cool di depannya, dan untunglah teman-temanku tak banyak yang tahu tentang katakan cinta yang kulakukan pada Dini. Hingga pada suatu hari entah siapa yang menyebar duluan hingga Tami tahu hal itu. “kamu habis nembak Dini ya? Kapan? Kok gak bilang-bilang sih?” mau apa lagi, jika Tami sudah bertanya begitu maka mau tak mau aku harus ceritakan semuanya dari A sampai Z. Setelah Tami, ternyata acara katakan cinta itu tersebar di seisi teman kelasku, entah siapa yang meyebarkannya -_- tapi aku bersyukur teman-temanku tahu, karna ternyata banyak yang mendukungku jadian dengan Dini, ditambah lagi mereka sering menggoda-goda Dini mengenai aku dan sepertinya Dini suka!

Kelas XII hubunganku dengannya masih berjalan seperti biasa. Smsan, telfonan, facebook-an mengalami peningkatan. Hanya saja interaksi langsungku dengannya sedikit kubatasi karna tak ingin membuat teman-teman kelasku kembali heboh jika melihan kami bermesraan di kelas. Kuperhatikan dia mulai fokus pada UN dan SNMPTN nanti, dan tentu saja aku juga begitu. Dia ingin kuliah di kedokteran, begitu juga aku. Aku berharap kami berdua bisa sama-sama lulus di fakultas dan universitas yang sama agar komunikasi dengannya nanti bisa tetap berjalan lancar. Mendekati UN, kurasakan hubungan kami agak sedikit renggang, berbeda dengan hubunganku dengan teman-teman yang lain yang semakin solid saja. Setelah UN berlangsung, aku mendaftarkan diri dilembaga bimbingan belajar khusus kedokteran, dan Dini hanya di kelas VIPnya saja. Alasanku untuk tetap fokus di kedoteran selain orang tua dan keluargaku adalah Dini sendiri, aku berharap ia bisa membuka hati setelah melihatku sukses di dunia kampus nanti. Semenjak saat itu, aku jarang bertemu dengannya lagi, begitupun komunikasi melalui handphone juga sedikit menggendor.

Penyakit gengsi dan egoku mulia muncul lagi dan membuat aku sedikit melupakannya.
Pengumuman SNMPTN membuatku begitu bersyukur pada-Nya, akhirnya apa yang dicita-citakan orang tuaku dan aku sendiri tercapat, aku berhasil menjadi mahasiswa kedokteran di unvitersitas terbaik di kotaku. Sahabat-sahabatku yang lainnya juga menduduki jurusan-jurusan yang baik di PTN di kotaku. Dan terakhir kutahu Dini berhasil menjadi mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di universitas yang beda denganku. Cukup kecewa memang karna apa yang kuharapkan lagi-lagi tak terwujud. Setelah pengumuman SNMPTN itu, hubunganku dengannya makin memburuk, dan bahkan hampir tergolong lost-contact. Ya Tuhan, lagi-lagi terulang apa yang pernah terjadi antara aku dan Winda dulu. Tapi walaupun begitu, aku tetap mengharapkan Dini masih sendiri, aku masih menunggunya.
Satu malam aku mendapat sms dari Tami yang kebetulan masih satu kampus dengan Dini sekarang.
“Andri, kamu gak usah ngarepin Dini lagi ya” begitu katanya.
“loh kenapa? Haha”
“pokoknya jangan! Udah kamu cari aja cewe kedokteran juga. Kamu gak usah sama Dini lagi. Titik!”
Cukup kaget aku membaca pesan dari sahabatku yang satu ini, aku tak tahu kenapa dia bisa berbicara sekeras ini.
“kenapa memang?”, tanyaku lagi.
“pokoknya jangan! Aku dan teman-teman yang lain bakalan marah kalau kamu sama Dini nantinya”
“kenapa sih? Haha”, aku berusaha tertawa tapi kurasakan ada yang tidak beres dengan Dini saat ini.
“oke aku kasih tau tapi kamu jangan sedih ya. Dini jadian sama Roni, udah satu bulan. Dia khianatin kamu. Kamu jangan sedih ya Ndri”

Sontak pesannya kali ini membuatku sangat kaget. Seketika aku sulit bernafas membaca pesan dari Tami. Aku masih belum percaya dengan yang katakan Tami barusan, namun setelah kukonfirmasi dengan teman-temanku yang lainnya ternyata memang berita itu memang benar. Patah hati kini melanda diriku, dadaku kurasakan begitu sesak. Penantianku selama tiga tahun ternyata berakhir sia-sia! Tak ada lagi cinta, tak ada lagi kenangan! Semuanya hanya omong kosong belaka!. Aku tak habis pikir kenapa Dini lebih memilih Roni dibanding aku. Aku yang jelas-jelas setia menunggunya selama tiga tahun dicampakkan demi seorang Roni yang dikenalnya dari 3 tahun yang lalu namun dekat  dengannya baru beberapa bulan terakhir ini. *jlebbbbbbbbbbbbbb

Kurang apa aku ya Allah? Apakah aku kurang ganteng??????????????? *iyaaaaaaaaa* *admin teriak kencang*

Setelah hari itu, kuhapus semua memoriku tentang dia. Ingin rasanya ku rombak long term memory-ku, men-delete segala hal yang dapat menginatkanku tentang dia. Kini aku  terluka, terluka di penantian, penantian yang begitu panjang.. terima kasih telah mengajariku bersabar, menunggu, mencinta, memberanikan diri mengatakan cinta J
Hal yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah ketika kamu mencintai seseorang, kamu jangan kuliah di kedokteran karna akan membuatmu menjadi sangat sibuk dan lupa PDKT! *ehhh hahahahahahahahahahahahahaha maaf yang ini bercanda ;;)

Terima kasih telah membaca cerita sederhana admin, untuk kritik dan saran silahkan di sriutamihalman@yahoo.com atau mention on twitter http://www.twitter.com/@sriutamihalman. Jika agan dan aganwati ingin curhat dan dibuatkan ceritanya silahkan menghubungi admin di alamat di atas ;;)

*abaikan lirik lagu di bawah ini*

I’m staring at the glass in front of me
Is it half empty of our wins or have I ruined all
You’ve given me?
I know I’ve been selfish,
I know I’ve been foolish,
But look through that
And you will see,
I’ll do better, I know,
Baby, I can do better.

(Secondhand Serenade – Stay Close don’t Go)

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang