Friday, 21 September 2012

Agresifitas Remaja dan Homoseks di Indonesia

1.      Perilaku Agresif oleh Remaja
Pada penelitian ini saya mengambil tema “Perilaku Agresif oleh Remaja”. Hal ini dikarenakan banyaknya remaja di Indonesia yang melakukan tindakan agresifitas seperti pertengkaran, perkelahian dan tawuran, yang tidak sedikit merekam adegan tersebut melalui telepon seluler (hp) kemudian dengan bangganya disebar ke teman-teman sebaya mereka atau yang paling ironis sampai diunggah ke dunia maya. Hal seperti ini bisa membahayakan perkembangan anak-anak maupun remaja jika melihan adegan agesifitas yang dilakukan oleh remaja yang melakukan perilaku agresif tersebut. Oleh karena itu saya tertarik membahas masalah ini dalam penelitian kuantitatif ini.

* Lima Remaja Perempuan Tersangka Kekerasan
Berdasarkan situs berita online Kompas.com, terjadi kekerasan oleh lima orang remaja putri kepada seorang remaja putri lainnya di Kota Denpasar, Bali. Tersangka dan korban merupakan satu komplotan teman geng motor, namun karena korban dianggap melecehkan geng motor tersebut dengan menjadikan baju persatuan sebagai alas kaki maka korban dikeroyok habis-habisan oleh kelima geng motornya. Empat diantara kelima tersangka merupakan anak putus sekolah, mereka dikeluarkan karena terlibat kasus perkelahian di sekolahnya, sedangkan korban sendiri merupakan anak putus sekolah sejak SD karena ayahnya yang menikah lagi. Patut disayangkan karena kelima tersangka adalah anak-anak dari kalangan menengah ke atas hanya saja orang tua mereka kurang memberikan perhatian kepada mereka. Menurut situs berita tersebut, para tersangak telah ditahan karena kasus kekerasan dan dan kriminalitas.
Teori psikologi yang terkait dalam berita di atas yaitu:
·         Teori Agresifitas; yaitu suatu tindakan atau perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk menyakiti seseorang dengan cara menyerang. Menurut Freud, agresi yaitu pernyataan kesadaran atau proyeksi dari naluri kematian (thanatos). Menurut Adler, agresi ialah perwujudan kemauan untuk berkuasa dan menguasai orang lain. Sedangkan menurut Murray, agresi merupakan kebutuhan untuk menyerang, memperkosa atau melukai orang lain untuk meremehkan, merugikan, mengganggu, membahayakan, merusak, menjahati, mengejek, mencemoohkan atau menuduh secara jahat, menghukum berat, atau melakukan tindakan sadistis lainnya.
Penyebab perilaku agresi:
-      Peran Belajar Model Kekerasan
Bandura, Baron, dan Berkowitz menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan hasil dari proses belajar sosial. Belajar sosial yaitu belajar dengan cara mengamati dunia sosial. Individu dapat melakukan suatu tindakan agresi setelah ia melakukan pengamatan dengan lingkungan sosial (media massa dan lingkungan), secara otomatis pengamatan tersebut akan ter-save dalam memorinya dan tanpa segan tindakan tersebut akan ia lakukan juga ketika kejadian serupa menimpanya.
-      Kesenjangan Generasi
Jurang pemisah antara orangtua dan anak sehingga munculnya discummunication antara keduanya.
-      Lingkungan;
Seperti keadaan perekonomian, suhu dan lain-lain.
-      Proses Pendisiplinan yang Keliru;
Konsep disiplin yang otoriter dan dengan kekerasan biasanya akan berdampak negatif pada keadaan psikis anak. Hal ini cenderung akan diabaikan dan melawannya.
-      Frustrasi;
Keadaan dimana individu terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu.

2.      Homoseks pada Remaja Indonesia
Pada penelitian kedua, saya mengambil tema “Homoseks pada Remaja Indonesia”. Alasan saya mengambil tema ini karena banyaknya berita maupun artikel di internet yang menjelaskan tentang hal ini. Ditambah lagi pengakuan seorang teman kepada saya yang mengaku bahwa dirinya adalah pecinta sesama jenis. Ini membuat saya ingin meninjau lebih jauh perkembangan homoseks pada remaja di Indonesia yang kian hari kian merambah ke daerah-daerah kecil di Indonesia.

* Kompleksitas Masalah Gay pada Remaja
Rudi adalah remaja tampan, bertubuh atletis, dan terlihat seperti kebanyakan remaja pria lainnya. Ia adalah anak bungsu dan tinggal bersama ibunya dan dua saudara perempuannya setelah ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Sebagai anak bungsu dan satu-satunya laki-laki di rumahnya ia lumayan dimanja oleh ibu dan saudarinya. Setelah berumur 15 tahun ia mulai mengagumi setiap pria yang ia anggap sebagai sosok pria sempurna dan ingin menirunya.
Setelah duduk di bangku SMA ia seringkali melirik teman laki-laki sekelasnya ketika sedang berganti pakaian pada jam olah raga. Setelah beberapa lama rasa mengaguminya berubah menjadi rasa suka. Eksotis berubah menjadi erotis. Ia merasa ingin dimanja, disayangi oleh oleh pria yang ia sukai. Akhirnya ia sadar bahwa ia seorang gay, penyuka sesema pria. Akhirnya ia berniat untuk merubah diri dengan menjalin hubungan dengan seorang wanita yang ia pacari di kelas 2 SMA. Tak berapa lama akhirnya meraka putus dengan alasan bahwa si wanita terlalu sensitif dan manja, padalah sebenarnya ia merasa kosong dengan hubungan tersebut dan tidak memiliki arti apa-apa.

Teori-teori yang terkait dalam kasus di atas yaitu:
·         Teori perkembangan Freud; jika kita melihat ke belakang ke masa lalu dari seorang Rudi yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara yang kedua kakaknya adalah semuanya wanita, dan pria satu-satunya yang mengisi rumahnya membuatnya menjadi kesulitan menentukan gender ketika berada pada masa phalic dimana kesenangan anak berpusat pada kelamin. Menurut Freud, pada masa ini anak telah dapat melakukan mastrubasi dan dengan sendirinya dapat membedakan antara pusat kenikmatan laki-laki dan perempuan serta membedakan identitas masing-masing gender. Tetapi karena pada masa ini Rudi mengalami krisis identitas gender karena pola asuh orangtua tunggal dan kedua kakak perempuannya yang yang terlalu dekat memanjakan sehingga ia menjadi seorang yang berperasaan seperti perempuan.



REFERENSI

Anonim. “Kompleksitas Masalah Gay pada Remaja”. Online. http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/04/kompleksitas-masalah-gay-pada-remaja/. Diakses: 19 September 2012.
Ayu Sulistyowati.  “Lima Remaja Perempuan Tersangka Kekerasan”. Online. http://regional.kompas.com/read/2012/02/08/20004736/Lima.Remaja.Perempuan.Tersangka.Kekerasan. Diakses: 19 September 2012.
Chaplin, J.P. 2011. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta. Rajawali Pres.
Maman. “Tinjauan Psikologi Sosial Terhadap Perilaku Agresi”. Online. http://unikunik.wordpress.com/2009/05/03/tinjauan-psikologi-sosial-terhadap-perilaku-agresi/. Diakses 19 September 2012.
Rahmat Aziz & Retno Mangestuti. 2006. “Pengaruh Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EI) dan Kecerdasan Spiritual (SI) Terhadap Agresivitas pada Mahasiswa UIN Malang” El-Qudwah, Jurnal Penelitian dan Pengembangan (online), Vol 1, No 1, hlm. 2 & 9.

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang