Friday, 21 September 2012

TOKOH-TOKOH NEO-FREUDIAN

Neo-Freudian adalah sekelompok ahli teori Amerika yang tergabung dari pertengahan abad kedua puluh, yang semuanya dipengaruhi oleh Sigmund Freud. Tetapi teori-teori Freud tersebut telah diperpanjang seiring dengan arah sosial atau budaya. Mereka telah didefinisikan sebagai 'penulis Amerika yang mencoba untuk menyajikan kembali teori Freud dalam hal sosiologis dan untuk menghilangkan hubungannya dengan biologis
.
1.      ALFRED ADLER
Teori Adler yang sangat terkenal adalah Individual Psychology (psikologi individual). Psikologi individual adalah sebuah cabang ilmu psikologi yang khusus meneliti perbedaan antarindividu, yang sinonim dengan Differential Psychology. Psikologi individu Adler merupakan suatu sistem psikologi yang bertujuan untuk memahami, mencegah dan mengobati penyakit-penyakit mental. Salah satu perbedaan utama antara pandangan Adler dengan Freud adalah penekanan mengenai asal motivasi. Bagi Freud, motivator utama adalah kesenangan (bahwa Id dijalankan atas dasar prinsip kesenangan) dan seksualitas. Bagi adler, motivasi manusia jauh lebih kompleks dari pada itu. (Howard & Schustrack – 2008:136).
Adler tidak setuju dengan penekanan yang dibuat oleh Freud mengenai alam bawah sadar dan tentang pentingnya seksualitas. Adler merasa bahwa manusia adalah makhluk sosial yang diatur oleh dorongan sosial dan bukan oleh naluri biologis. Dalam pandangan Adler, kekuatan utama dalam pendorong kepribadian adalah berjuang untuk superioritas. Adler merasa bahwa semua orang mengalami perasaan rendah diri. Hal ini terjadi karena individu mulai hidup sebagai anak-anak kecil, lemah, dan relatif tak berdaya dikelilingi oleh orang dewasa yang lebih besar dan lebih kuat. Perasaan rendah diri juga dapat berasal dari keterbatasan pribadi individu. Perjuangan untuk keunggulan muncul dari perasaan seperti itu. Sementara berjuang untuk keunggulan, masing-masing mencoba untuk mengimbangi keterbatasan yang berbeda, dan masing-masing memilih jalur yang berbeda untuk superioritas.
Adler menyatakan bahwa ada satu daya motivasi yang memengaruhi semua bentuk perilaku dan pengalaman manusia. Daya motivasi tersebut disebut "dorongan ke arah kesempurnaan”. Daya tersebut mendorong manusia memenuhi semua potensi dan keinginan yang ada di dalam dirinya, sehingga seorang manusia dapat semakin dekat dengan apa yang diidealkan. Di sinilah poin yang menyebabkan ketidaksepakatan Adler dengan Sigmund Freud.
Menurut Freud, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, seperti trauma masa kecil, pasti menjadi penentu siapa orang itu di masa kini. Sebaliknya, Adler justru berpendapat bahwa "dorongan ke arah kesempurnaan" yang hendak seseorang capai di masa depan itulah yang memotivasi manusia di masa kini. Setiap manusia diarahkan menuju tujuan, harapan, dan cita-citanya. Untuk mendukung dorongan ke arah kesempurnaan tersebut, Adler menyatakan bahwa ada ide lain yaitu "kepentingan sosial" atau "kepekaan sosial".
Dengan ide ini, seorang manusia yang sedang mengarahkan dirinya menuju kesempurnaan akan mempertimbangkan lingkungan sosialnya.
Adler percaya bahwa situasi ini menciptakan gaya yang unik kehidupan (atau pola kepribadian) untuk setiap individu. Menurut Adler inti dari setiap gaya hidup seseorang terbentuk pada usia 5 tahun. Adler mulai menekankan keberadaan diri kreatif. Dengan ini ia maksudkan bahwa manusia menciptakan kepribadian mereka melalui pilihan dan pengalaman.

Psikologi Individual menurut Adler:
Psikologi individual mempunyai arti yang penting sebagai cara untuk memahami tingkah laku manusia. Pengertian sebagai gambaran semu, rasa rendah diri, kompensasi, gaya hidup, diri yang kreatif, memberi pedoman yang penting untuk memahami sesama manusia. (Suryabrata – 2007:191).
Adler sangat percaya pada motivasi unik yang dimiliki oleh tiap individu dan pada pentingnya tempat yang dipersepsikan masing-masing individu dalam masyarakat. Adler dengan tegas menyatakan pentingnya tindakan preventif untuk mencegah terjadinya gangguan kepribadian. Bagi Adler, inti dari kepribadian adalah pencarian dan perjuangan untuk menggapai superioritas. Ketika seseorang sedang merasa tidak berdaya atau membuat dirinya mengalami peristiwa yang tidak bisa berbuat apa-apa, orang tersebut kemungkinan akan merasa inferior. Jika perasaan tersebut semakin dalam, kemungkinan akan mengembangkan kompleks inferioritas (rasa minder). (Howard & Schustrack – 2008:136-137).

2.      ERIK ERIKSON
Teorinya yang paling terkenal adalah Erikson’s Ego Psychology (Psikologi Ego Erikson) yaitu teori perkembangan kepribadian yang mirip dengan karya Freud, namun bedanya bahwa Erikson menerapkan teori ini dalam konteks psikososial, menambah sejumlah tahapan lagi, dan menekankan faktor ego daripada Id. Tahapan itu antara lain:
·         kepercayaan vs ketidakpercayaan (sejak lahir hingga usia 12-18 bulan)
bayi mengembangkan perasaan bahwa dunia merupakan tempat yang baik dan aman.
·         Autonomi vs rasa malu dan ragu (usia 12-18 bulan hingga 3 tahun)
anak mengembangkan keseimbangan independen dan kepuasan diri terhadap rasa malu.
·         Inisiatif vs rasa bersalah (usia 3-6 tahun)
anak mengembangkan inisiatif ketika mencoba aktifitas baru dan tidak terlalu terbebani atau rasa bersalah.
·         Industri vs inferioritas (usia 6 tahun-pubertas)
anak harus belajar keterampilan budaya dan menghargai perasaan tidak kompeten.
·         Identitas vs kekacauan identitas (pubertas-dewasa awal)
remaja harus menentukan pemahaman akan diri sendiri atau merasakan kekacauan peran.
·         Imitasi vs isolasi (dewasa awal)
individu mencoba membuat komitmen dengan orang lain, apabila gagal maka ia akan menderita isolasi dan pemisahan diri.
·         Produktivitas vs stagnasi (dewasa tengah)
perhatian orang dewasa yang sudah matang adalah membangun dan membimbing generasi selanjutnya/merasa tidak percaya diri.
·         Integritas evo vs putus asa (dewasa akhir)
individu yang tua mendapatkan penerimaan terhadap hidup, membuatnya dapat menerima kematian atau sebaliknya, putus asa atau ketidak mampuan menghidupan kembali kehidupannya.

3.      CARL GUSTAV JUNG
Psikologi Jung terkenal sebagai analitycal psychology (psikologi analitik). Menurut Jung, libido merupakan energi umum atau desakan hidup, dan energi utama tidak perlu berupa manifestasi dorongan seksual seperti yang dijelaskan Freud. Energi utama pada suatu saat justru menampilkan diri sebagai energi seksual, sedangkan pada waktu lain berupa bentuk tingkah laku yang artistik atau kreatif, atau pada mencapai superioritas. Proses psikologisnya bahwa energi libidal ini dapat ditransformasikan ke dalam aktifitas kultural, berupa simbol.

Struktur kepribadian menurut Jung, yaitu:
·         Ego adalah aspek kepribadian yang disadari, ditambah dengan perasaan akan diri. Menurut Jung, ego ini berkembang ketika individu berusia empat tahun.
·         Ketidaksadaran pribadi adalah daerah yang berdekatan dengan ego. Ketidaksadaran pribadi berisikan pemikiran-pemikiran dan perasaan yang bukan merupakan dari kesadaran pada saat itu, akan tetapi masih tetap bisa diakses.
-          Diri/self, titik pusat kepribadian, disekitar mana semua sistem lain terkonstelasikan.
·         Ketidaksadaran kolektif merupakan sistem psike yang paling kuat berpengaruh, dan dalam kasus-kasus patologis ia mengungguli ego serta ketidaksadaran pribadi.
-          Arkhetipe-arkhetipe, merupakan suatu bentuk pikiran universal yang mengandung unsur emosi besar.
-          Persona, adalah kepribadian yang ditempatkan ke dunia luar.
-          Anima-animus, merupakan naluri jantan pada wanita (animus) atau naluri perempuan pada pria (anima).
-          Shadow, teridiri dari karakter-karakter kepribadian yang bukan bagian dari kebiasaan-kebiasaan seseorang.
Tipe kepribadian, terbagi atas Introvert dan Ekstravert, yaitu:
-          Introvert adalah orang yang refleksif, serius, pendiam, suka menyelidiki, independen, subjektif, punya disiplin kerja tinggi, hati-hati, teliti dan suka bekerja sendiri.
-          Ekstravert adalah orang yang aktif, sibuk, sosialitasnya sangat tinggi, objektif, pragmatis, bicara banyak, percaya diri dan objektif.


REFERENSI

Anonim. ”Alfred Adler”. http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2011/12/tokoh-teori-psikologi-individual.html. Online. Di akses 29 Februari 2012.
Freidman, Howard S & Schustack, Mariam W. 2006. Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Suryabrata, Sumardi. 2007. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang