Wednesday, 12 September 2012

Wanita Malang di Malam itu

27 Agustus 2012 aku berdebat kecil dengan orang tua dan kakak sulungku, perintah mereka yang menyuruhku untuk segera ke Makassar esok harinya begitu membuatku uring-uringan. “kuliahku nanti tanggal 3 Bu, Ayah, Ung, itupun masih ada PMB Fakultas dulu, paling aktif kuliahnya tanggal 4. Saya ke Makassarnya tanggal 30 atau tanggal 2 saja langsung bayar kosan dan angkat barang, saya masih mau liburan ibu” kataku membela, tapi kekuatan trio penguasa di rumahku itu ternyata berhasil meruntuhkan keegoan dan kekeras kepalaan seorang Sri Utami Halman, oke kalian pemenangnya -_-

Keesokan harinya 28 Agustus 2012 pukul 15.00 WITA dengan berat hati akhirnya akupun berangkat ke Makassar, sendiri, dan naik panter. Ditambah lagi hanya di antar oleh Nita adikku yang baru kelas 1 SMA ke lampu merah, aku bagaikan anak terlanjar saya waktu itu. Diperjalanan aku tak tidur, aku memang tak bisa tidur jika sedang bersama diantara orang-orang asing, aku hanya sibuk mendengarkan musik dan mengotak atik handphone-ku, aku mulai menyampahi lagi timeline followers-ku di twitter untuk melampiaskan kekesalanku sore itu. Pukul 17.00 WITA akhirnya penderitaanku berakhir setelah tiba di terminal Pallangga – Gowa. Aku memang hanya berhenti sampai di situ karna akan diantar oleh kak Yayat untuk menyelesaikan segala urusan per-kosanku hari ini. Satu jam setelah itu akhirnya segala urusan selesai. Bayar uang kos, cek kamar dll. Aku langsung minta di antar ke terminal lagi sama kak Yayat, tapi kakakku yang satu ini hanya menatapku heran, “Loh, ke Makassar cuma buat ini? Kenapa tidak bilang saja dek biar saya yang uruskan semuanya”, aku hanya tersenyum bego’ waktu itu, aku juga sempat berfikiran sama dengan kak Yayat waktu trio penguasa rumah memaksaku ke Makassar, tapi kata mereka aku harus madiri! Mandiri!!!!!!!!!!!!

Pukul 18.30 WITA aku telah berada di atas mobil penumpang jurusan Bantaeng di kursi bagian tengah, jam segini memang sudah tak ditemukan mobil penumpang jurusan Jeneponto. Beberapa meter perjalanan naiklah seorang bapak-bapak berbadan begitu gemuk yang jika dibandingkan dengan badanku mungkin 1:3 ckck aku langsung sesak karena badannya yang mengambil jatah kursi yang cukup banyak. Akhirnya pak sopir yang kasihan melihatku terjempit menyuruhku pindah ke bagian depan. Sebenarnya aku risih untuk duduk di kursi bagian depan tapi karna keadaan yang memaksaku maka kupaksakanlah lagi diriku. Tapi aku bersyukur juga waktu itu karna ternyata bersebelahan dengan seorang wanita dan bukan disebelah bapak-bapak jumbo. Kuperkirakan wanita itu berusia sekitar 20 tahunan, wajahnya ayu dan murah senyum, aku pun membalas senyumnya. Dan lagi-lagi karena ini masih berada di antara orang-orang asing maka aku tak bisa memejamkan mata di perjalanan, aku hanya sibuk memperhatikan keindahan kota demi kota yang hampir tak jelas berbentuk apa -_-

Beberapa menit kemudian, handphone wanita yang duduk di sampingku berdering, segera ia mengangkat dan mengatakan “halo”. Kudengarkan percakapannya dengan bukan maksud menguping, hanya saja jarak kami dan suaranya yang cukup terdengar di telingaku memaksaku untuk mendengarkannya “iya ini mama masih di jalan nak .. Besok antar adikmu ke kantor mama minta uang di bu Inci .. oh bapakmu datang? Bapak bilang apa sama kamu? .. iya ini mama lagi mau ke rumah teman.. sudah pake tas yang dulu saja nak, nanti mama belikan yang baru kalau sudah gajian .. iya nanti mama belikan”. Aku sempat kaget juga mendengar pembicaraan wanita tadi, ternyata dia sudah menikah. Sungguh dia tak tampak seperti ibu-ibu yang sudah mempunyai anak, raut wajahnya masih sangat muda. Kata “antar adikmu” menambah keyakinanku bahwa anaknya pasti sudah cukup besar. Wahwah sepertinya wanita di sampingku adalah pelaku nikah muda.

Setelah berbicara dengan anaknya, sepertinya ia berbicara dengan ibunya lagi, “bapaknya Dita bilang apa ma? Iya saya sudah putuskan untuk cerai, saya tidak mau rujuk lagi sama dia”, Astaghfirullah.. gumamku dalam hati, “saya sudah bilang sama orang tuanya semalam. Saya sudah tidak bisa ma! Saya tersiksa batin kalau harus mempertahankan hubungan dengan dia. Urusan anak-anak biarlah saya yang tangani, yang pastinya saya sudah tahan lagi”, keperhatikan suara dan wajahnya begitu bersemangat menceritakan hal itu pada ibunya, “teman-teman pada larang saya untuk bercerai tapi saya sudah benar-benar tak tahan. Saya tidak sanggup harus dipukuli terus, dituduh selingkuh, dicaci dan dimaki. Saya menderita batin kalau harus bersama dia terus. Tidak ma! Pokoknya saya sudah ingin pisah! Saya dibilang pelacur sama dia ma, padahal saya kerjanya halal sumpah demi Allah.”, Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. berkali-kali aku istighfar dalam hati. Kuperhatikan wajahnya yang hanya menatap keluar jendela dengan tatapan hampa sambil terus menelepon, dan kulihan setitik cairan bening bermuara di ujung mata kanannya, ya Allah dia menangis. Segera kupalingkan wajahku ke depan jalan karna tak ingin ikut menangis melihan wanita yang di sampingku itu. “sekarang saya sudah tidak pake motol lagi ma, semalam dia sudah ambil kuncinya. Biarlah saya ikhlas asalkan dia mau bercerai dengan saya.. ah sudahlah, dia pasti akan cari saya lagi nantikan kalau cicilan motor mau di bayar lagi, mau pake apa dia bayarnya, kerjaan saja dia tak ada. Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!!! .. biarlah ma, saya ingin tenangkan diri dulu, setidaknya disini ada tawaran pekerjaan. Saya betul-betul tidak bisa menetap di Makassar saat ini, saya titip anak-anakku ya Ma” itulah kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum menutup  telepon. Tiba-tiba dia melihat ke arahku sambil tersenyum, mungkin ia sadar bahwa aku memperhatikannya sejak tadi. Sungguh badanku bergetar mendengar percakapannya barusan, betapa tegar wanita itu, bahkan setelah bercerita panjang lebar pada ibunya tentang penderitaan yang dirasakannya ia masih bisa tersenyum pada orang asing yang tidak dikenalnya.

Setengah perjalanan ia bertanya padaku “Dek mau turun dimana?”, “di Jeneponto kak” jawabku, “oh Jeneponto bagian dek? Di kota?”, “iya kak” balasku, “bisa minta tolong tunjukkan saya sebentar pertamina setelah kodim? Katanya itu ada di kota”, “oh iya kak. Kakak pertama kali ke Jeneponto ya?” tanyaku kepo, “iya dek, saya mau ketemu teman di sini katanya ada tawaran pekerjaan di sini makanya saya beranikan diri kesini. Yah, gajinya juga lumayan untuk sekolah anak-anak saya” katanya sambil tersenyum, aku hanya membalas senyumannya dan memilih tak banyak tanya. Maklumlah ini di tempat umum, semuanya orang asing. Setelah sampai di tempat yang dimaksudnya, aku menyuruh sopir untuk berhenti dan menurunkan penumpang wanita di sampingku, sekali lagi ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadaku, aku hanya membalas senyumannya.

Setelah wanita itu turun, tiba-tiba sopir di sampingku berkata “kasihan ya perempuan tadi, masih muda tapi ternyata sudah punya anak, korban KDRT lagi. Sungguh tega suaminya itu ckckck”, aku sempat kaget juga ternyata yang menguping bukan cuma aku tetapi sopir yang di sampingku juga mendengarnya, entahlah bagaimana dengan orang-orang yang duduk di belakang kami. Mesjid Agung Jeneponto, aku berhenti. Kakak Unggu telah setia menungguku di pertigaan mesjid itu. Aku cengengesan, akhirnya mau juga kakaku itu menjemputku, biasanya dia paling malas jika harus disuruh-suruh oleh adik-adiknya hehehe

Setelah sampai di rumah, aku langsung salim dengan orang tuaku dan segera masuk kamar dan langsung rebahan di tempat tidurku, percakapan wanita itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Sungguh kasihan dia. Huuuuuaaaaaaaaahhhhhh............. ingin rasanya aku teriak -_- tiba-tiba ayahku masuk ke kamar dan menyuruhku untuk makan dulu. Sungguh beruntung aku mempunyai ayah seperti beliau, aku bersyukur mendapatkan ayah seperti beliau, ayah yang tak pernah sekalipun memukuli ibuku, ayah yang setia pada ibuku, ayah yang bertanggung jawab pada keluarganya, ayah yang cuek tapi kadang-kadang romantis. Yahh, walaupun ayahku sebenarnya orang yang lumayan keras, tapi aku tahu ia sangat mencintai keluarganya. I love you dehhh :*


Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas:
1.       Kalau cari suami harus yang punya pekerjaan, bukan orang tempramen dan bertanggung jawab
2.       Ikuti siklus psikologi perkembangan yang harus kuliah dulu, kerja, lalu menikah. SAY NO TO NIKAH MUDA!
3.       Kalau sedang naik mobil angkutan umum sebaiknya pake headset dan mendengarkan musik supaya tidak menguping pembicaraan orang lain.
4.       Jangan mau satu mobil dengan orang yang badannya 3 kali dari padan kita supaya tidak disuruh pindah-pindah sama sopirnya -____-

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang