Tuesday, 9 October 2012

Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan)


A.    Latar Belakang

Semua orang hampir bisa dipastikan pernah mengalami apa yang disebut rasa cemas, gelisah, khawatir, dan panik. Dalam kehidupan sehari-hari, kecemasan merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap individu seperti reaksi seseorang jika sedang mengalami stress kerapkali disertai dengan suatu kecemasan. Namun apabila suatu individu tidak dapat mengontrol ataupun meredam rasa cemas tersebut dalam situasi dimana orang-orang pada umumnya mampu menangani kecemasan tanpa adanya kesulitan yang dianggapnya begitu berarti maka dalam hal ini telah dikatakan penyimpangan.
Menurut data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut. Gangguang kecemasan diperkirakan diderita oleh 1 dari 10 manusia.
Kecemasan pada individu dapat muncul pada situasi yang biasanya dianggap sebagai moment yang berarti dalam hidupnya, seperti mahasiswa baru yang mengalami kecemasan pada hari pertama kuliahnya, pada saat akan berbicara di depan umum seperti persentasi atau diskusi besar, apabila akan melaksanakan ujian atau bahkan orang dewasa yang cemas saat menanti hari pernikahannya, dan lain-lain. Gangguan kecemasan akan muncul apabila rasa cemas tersebut terus berlangsung lama, dan akan terjadi perubahan perilaku atau perubahan metabolisme tubuh.
Pada makalah ini akan dijelaskan lebih rinci mengenai anxiety disorder tersebut dengan menggunakan analisis dari sebuah film yang berjudul “The Aviator” yang diharap akan dapat membantu dalam memahami ciri-ciri maupun penyebab dari gangguan kecemasan tersebut.

B.     Rumusan Masalah
Makalah ini membahas mengenai gangguan kecemasan yang biasa dihadapi oleh individu. Dalam hal ini memiliki rumusan masalah seperti:
1.      Apa yang dimaksud dengan gangguan kecemasan (anxiety disorder)?
2.      Mengapa bisa terjadi gangguan kecemasan?
3.      Bagaimana karakteristik dari gangguan kecemasan?
4.      Seperti apa cara yang digunakan dalam penanganan gangguan kecemasan?

C.    Tujuan
Pada dasarnya makalah ini memiliki tujuan, yaitu:
1.      Dapat memahami definisi dari gangguan kecemasan (anxiety disorder)
2.      Untuk mengetahui penyebab dari gangguan kecemasan
3.      Untuk memahami karakteristik dari gangguan kecemasan
4.      Untuk mengetahui cara yang digunakan dalam gangguan kecemasan



1.      DEFINISI GANGGUAN ANXIETAS
Anxiety Disorders /Gangguan Cemas adalah gangguan yang paling umum, atau sering terjadi berupa gangguan mental, dimana dalam hal ini meliputi suatu kelompok kondisi-kondisi yang terbagi antara gangguan cemas yang ekstrim atau patologis sebagai gangguan yang mengenai suasana hati atau tekanan emosional. Kecemasan, yang dipahami sebagai lawan dari ketakutan normal, adalah jelmaan oleh gangguan suasana hati, seperti halnya berpikir, perilaku, dan aktivitas fisiologis.

A.    Serangan panik dan Gangguan Panik

Serangan Panik adalah periode terpisah dari rasa takut yang sangat atau rasa tidak nyaman yang berhubungan dengan sejumlah symptom somatic dan kognitif ( DSM-IV).Kumpulan gejala ini meliputi palpitasi ,berkeringat, gemetar, nafas tersengal ,rasa seperti tercekik,sakit dada (sesak),mual dan gangguan saluran cerna ,pusing atau kepala berputar-putar , kesemutan,rasa panas yang menjalar di muka.Serangan ini biasanya terjadi tiba-tiba , dengan lama serangan berkisar 10 sampai dengan 15 menit.


B.     Fobia

Fobia adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda, binatang ataupun peristiwa tertentu. sifatnya biasanya tidak rasional, dan timbul akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami individu. Fobia juga merupakan penolakan berdasar ketakutan terhadap benda atau situasi yang dihadapi, yang sebetulnya tidak berbahaya dan penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya.

a.      Fobia Spesifik

Ketakutan berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik tertentu, misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia terhadap kancing baju, dsb.

b.      Fobia Sosial

Ketakutan berlebih pada kerumunan atau tempat umum. ketakutan ini disebabkan akibat adanya pengalaman yang traumatik bagi individu pada saat ada dalam kerumunan atau tempat umum. misalnya dipermalukan didepan umum, ataupun suatu kejadian yang mengancam dirinya pada saat diluar rumah.

C.    Obsesif-komplusif (OCD)
Obsesi adalah pikiran,impuls,dan citra yang menganggu dan berulang yang muncul dengan sendiriannya serta tidak dapat dikendalikan, walaupun demikian biasanya tidak terlalu tampak irasional bagi individu yang mengalaminya. 
Komplusi adalah perilaku atau tindakan mental repetitife yang mana seseorang merasa didorong untuk melakukannya dengan tujuan untuk mengurangi ketengangan yang disebabkan pikiran-pikiran obsesif atau untuk mencegah terjadinya suatu bencana.
D.    Gangguan Anxiety menyeluruh
Gangguan Anxiety menyeluruh yaitu terus menerus merasa cemas, sering kali tentang hal-hal kecil. Orang yang mengalami Anxiety menyeluruh memiliki kekhawatiran kronis terus menerus rnencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial). Ada keluhan somatik: berpeluh, merasa panas, jantung berdetak keras, perut tidak enak, diare, sering buang air kecil, dingin, tangan basah, mulut kering, tenggorokan terasa tersumbat, sesak nafas, hiperaktivitas sistem saraf otonomik. Merasa ada gangguan otot: ketegangan atau rasa sakit pada otot terutama pada leher dan bahu, pelupuk mata berkedip terus, bcrgetar, mudah lelah, tidak mampu untuk santai, mudah terkejut, gelisah, sering berkeluh. Cemas akan terjadinya bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas akan mendapatkan.serangan jantung, cemas akan mati. Sering penderita tidak sabar, mudah marah, tidak dapat tidur, tidak dapat konsentrasi.

E.     Post Traumatik-Stress Disorder (PTSD/ Gangguan Stress Pasca Trauma)

PTSD merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami oleh veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam. PTSD biasanya muncul beberapa tahun setelah kejadian dan biasanya diawali dengan ASD, jika lebih dari 6 bulan maka orang tersebut dapat mengembangkan PTSD.

2.      ETIOLOGI ANXIETY DISORDER

A.      Gangguan Fobia
Ada beberapa teori yang mengemukakan tentang penyebab fobia, diantaranya :
1.      Teori Psikodinamika
Menurut Freud, yang merupakan tokoh psikodinamika mengatakan bahwa fobia merupakan suatu sinyal bahaya bahwa impuls-impuls yang mengancam yang bersifat seksual atau agresi mendekat ke taraf kesadaran . Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti dan di pindahkan ke suatu objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik dengannya. Untuk menghalau impuls-impuls yang mengancam  ini, ego mencoba untuk menghalangi atau mengalihkannnya melalui mechanism defense. Misalnya pada fobia yang difungsikan adalah proyeksi. Suatu reaksi fobik melbatkan proyeksi dari impul-impuls yang mengancam yang berasal dari indivdu tersebut kemudian dipindahkan ke objek fobia.

2.      Teori Behavioral

Teori ini berfokus pada peran pembelajaran sebagai cara berkembangnya fobia. Beberapa tipe pembelajaran tersebut diantaranya :
a.       Avoidance conditioning
Avoidance conditioning dilandasi oleh teori dua faktor yang di ajukan oleh Mowter (Davidson dkk, 2004) menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua pembelajaran yang saling berkaitan, yaitu :
1.      Melalui classical conditioning seseorang dapat belajar untuk pada suatu stimulus netral jika stimulus tersebut dipasangkan dengan kejadian yang secara intrinstik menyakitkan atau menakutkan
2.      Seseorang dapat belajar mengurangi rasa takut yang dikondisikan tersebut dengan melarikan diri atau menghindari CS. Jenis pembelajaran ini diasumsikan sebagai operant conditioning.

b.      Modeling
Ketakutan dapat dipelajari dengan meniru perilaku orang lain. Dengan perilaku fobia dapat dipelajari melaui modeling bukan melalui pengalaman yang tidak menyenangkan terhadap objek atau situasi yang ditakuti. Pembelajaran terhadap rasa takut dengan mengamati perilaku orang lain disebut sebagai vicarious learning . ini juga terjadi melalui instruksi verbal, yaitu deskripsi yang diberikan oleh orang lain tentang apa yang mungkin terjadi selain melalui observasi terhadap ketakutan orang lain.


3.   TEORI KOGNITIF
Teori ini secara khusus mengatakan bahwa proses berfikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Menurut teori kognisi terjadi karena adanya distorsi pemikiran
B.         Gangguan panik
Ada 2 teori yang menjelaskan  tentang penyebab gangguan panic, yaitu :
1.                     Teori biologis
Menurut teori ini penyebab seseorang mengalami gangguan kepanikan diantaranya sensasi fisik yang disebabakan oleh suatu penyakit serta sifat-sifat biologis  dapat meningkatkan timbulnya gangguan panik.
Penyebab gangguan panik lain menurut teori biologi adalah karena adanya aktivitas yang berlebihan dalam system noradegrenergik (neuron yang menggunakan norephinefrin sebagai neurotransmiter) yang disebabkan oleh suatu masalah dalam neuron gamma-aminobutyric (GABA) yang secara umum menghambat aktivitas noradegrenik.
2.                     Teori psikologis
Teori Classical conditioning, mengatakan bahwa kondisi panic menjadi terkondisi secara klasikal pada sensasi fisik. Hal ini didukung oleh beberapa studi dimana orang-orang yang menderita gangguan panic mengatakan bahwa gangguan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat diprediksi.


C.     Gangguan Anxietas Menyeluruh (generalized anxiety disorder )

1.      Perspektif psikoanalisis
Teori ini mengatakan bahwa sumber kecemasan secara menyeluruh disebabakan oleh konflik yang tidak disadari antara ego dan impuls-impuls id. Impus-impuls ini biasanya bersifat seksual atau agresif dan berusaha untuk mengekspresikan diri namun ego tidak membiarkannya karena tanpa disadari adanya ketakutan terhadap hukuman yang diterima sehingga menyebabkan individu menekan impuls-impuls tersebut kealam bawah sadar. Dengan demikian, individu selalu mengalami kecemasan.

2.      Perspektif kognitif-behavioral
Menurut teori ini gangguan disebabkan oleh proses berpikir yang menyimpang. Orang dengan gangguan anxietas menyeluruh seringkali mempersepsikan kejadian-kejadian  biasa menjadi sesuatu yang mengancam dan kognisi mereka terfokus pada antisipasi bencana pada masa mendatang. Sensitivitas pasien gangguan anxietas menyeluruh yang sangat tinggi terhadap stimulus yang mengancam juga muncul walaupun stimulus tersebut tidak dapat diterima secara sadar.

D.     Gangguan obsesif-kompulsif

1.      Teori psikoanalisis

Dalam teori ini, obsesi dan kompulsif dipandang sebagai hal yang sama, yang disebabkan oleh dorongan instingtual, seksual, atau agresif yang tidak dapat dikendalikan karena toilet training yang terlau keras yang kemudian terfiksasi pada tahap anal. Gejala-gejala yang muncul mencerminkan hasil perjuangan antara id dan mechanism defense, kadang insting agresif id yang mendominasi, dan kadang juga mechanism defense yang mendominasi.

2.      Teori behavioral dan kognitif

Teori ini menganggap kompulsi sebagai perilaku yang dipelajari yang dikuatkan oleh reduksi rasa takut, misalnya mencuci tangan secara kompulsi respon dalam mengurangi kekhawatiran obsesional dan rasa takut terhadap kontaminasi kotoran atau kuman. Perilaku kompulsi serin g muncul karena stimuli yang menimbulkan kecemasan sulit disadari.
Pendapat lain dalam teori ini mengatakan bahwa kompulsi disebabkan oleh etiologi deficit memori. Ketidakmampuan untuk mengingat suatu tindakan secara kurat  atau membedakan antara perilaku actual dengan perilaku yang dibayangkan dapat menyebabkan seseorang berulangkali melakukan pengecekan.


3.      Faktor biologis

Dua area otak yang dapat berpengaruh terhadap gangguan obsesif-kompulsif, yaitu lobus frontalis  dan ganglia basalis. Pada sebuah studi pemindai dengan PET menunjukkan peningkatan aktivitas lobus frontalis  pada pasien OCD, yang mungkin mencerminkan kekhawatiran berlebihan terhadap pikiran mereka sendiri. Pada ganglia basalis , yaitu suatu system yang berhbungan dengan pengendalian perilaku motorik memiliki relevansi dengan kompulsi dan berhubungan dengan OCD.

E.     Gangguan Stress Pascatrauma

1.      Faktor – faktor resiko

Terdapat  beberapa factor resiko Gangguan stress pascatarauma jika dilihat dari peristiwa traumatis yang dialami, misalnya nyawa yang terancam, pemisahan dari orang tua di masa kecil,berjenis kelamin perempuan, berbagai pengalaman traumatis dan gangguan yang di alami sebelumnya.
Perkembangan gangguan stress pascatarauma diasosiasikan dengan dengan kecenderungan untuk bertanggung jawab atas kegagalan dan emosi dalam menghadapi stress.

2.      Teori – teori psikologis

Menurut teori belajar gangguan stress pascatraumatik terjadi karena pengkondisian klasik terhadap rasa takut. Misalnya ketika seorang wanita yang pernah diperkosa merasa takut untuk berjalan di lingkungan tertentu (CS) karena di perkosa ditempat itu (UCS). Berdasarkan rasa takut yang dikondisikan secara klsik tersebut, terjadi penghindaran yang secara negative dikuatkan oleh berkurangnya rasa takut yang dihasilkan oleh ketidakberadaan dalam CS.
Menurut teori psikodinamika mengatakanbahwa ingatan tentang kejadian traumatic muncul secara konstan dalam pikiran seseorang dan sangat menyakitkan sehingga dengan sadar mereka merepresinya.

3.      Teori – teori biologis

Trauma dapat mengaktivasi system noradregenik, meningkatkan level norepinephrin sehingga membuat yang bersangkutan lebih mudah terkejut dan cepat mengekspresikan emosi dibandingkan kondisi normal.



3        KRITERIA DIAGNOSIS GANGGUAN KECEMASAN ( ANXIETY DISORDER)
NO
GANGGUAN
KRITERIA
DSM IV-TR
PPDGJ III
1
Fobia

a.       Ketakutan yang berlebihan, tidak beralasan, dan menetap yang dipicu oleeh objek atau situasi
b.      Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
c.       Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis
d.      Objek atau situasi terebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens.

a.       Fobia social (F40.1)
-          Gejala psikologis perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dan anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti  misalnya waham atau pikiran obsesif
-          Anxietas harus mendominasi atau terbatas  pada situasi social tertentu (out side the family cycrcle)
-          Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol

b.      Fobia spesifik (F40.2)
-          Gejala psikologik otonomik yang tmbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bvukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran obsesif
-          Anxietas harus terbatas pada objek atau situasi fobik tertentu
-          Situasi fobik tersebut sebisa mungkin dihndarinya
2
Panik (Panic Disorder/PD)
a.       Serangan panic berulang tanpa terduga
b.      Sekurang-kurangnya selama satu bulan terdapat kekhawatiran akan terjadinya serangan berikutnya atau kekhawatirn atas konsekuensi yang diterima ketika serangan terjadi atau perubahan perilaku karena serangan yang dialami

a.       Gangguan panic baru ditegakkan sebagai diagnosis utama bila tidak ditemukan adanya gangguan anxietas fobik
b.      Untuk diagnosis pasti, harus ditemukan adanya beberapa kali serangan anxietas berturut-turut dalam masa kira-kira sebulan
-          Pada keadaan-keadaan mana sebenarnyta secara obyektif tidak ada bahaya
-          Tidak terbatas pada situasi yang diketahui atau yang dapat diduga sebelumnya
-          Dengan keadaan yang relative bebas dari gejala-gejala anxietas pada periode antara serangan-serangan panik
3
Anxietas menyeluruh
(General Anxiety Disorder/ GAD)
a.       Kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan
b.      Kekhawatiran tersebut sulit untuk dikendalikan
c.       Pasien mengalami tiga atau lebh diantara hal-hal berikut: ketidaksabaran, sangat mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, ketegangan otot, gangguan tidur.

a.       Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti diujung tanduk, sulit konsentrasi, dsb),
b.      Ketegangan motorik (gelisah, saki tkepala, gemetaran, tidak dapat santai, dan
c.       Overaktivitas motorik (kepala ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb)
4.
Obsesif-Kompulsif (obsessive-compulsive disorder/ OCD)
a.       Obsesif, pikiran yang berulang dan menetap, impuls-impuls, atau dorongan-dorongan yang menyebabkan kecemasan
b.      Kompulsif perilaku dan tindakan mental repetitive yang dilakuakn seseorang untuk menghilangkan ketegangan

a.       Untuk mendiagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif,m atau kedua-duanya, harus ada hamper setiap hari selam setidaknya dua minggu berturut-turut.
b.      Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (*distress) atau mengganggu aktivitas penderita.
c.       Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut
-          Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri
-          Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti yang dimaksud di atas)
-          Gagasan,bayangan, pikiran dan impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan
d.      Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif dengan depresi. Penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresi dan sebaliknya penderita gangguan depresi dapat menunjukkan perilaku obsesif selama masa depresinya
5.
Stres Pasca Trauma
(Posttraumatic stress disorder/ PTTD)
a.       Pemaparan pada suatu keadian tramatik menyebabkan ketakutan ekstrem
b.      Kejadian tersebut dialami utang
c.       Orang yang bersangkutan menghindari stmuli yang diasosiasikan dengan trauma dan memilki ketumpulan respontivitas
d.      Simtom-simtom ketegangan berlebihan seperti respons tyerkejut yang berlebihan
e.       Durasi simtom lebih dari satu bulan

Pasca trauma (F43.1)
a.       Diagnosis baru ditegakkan apabila gangguan ini timul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatic berat. Kemungkinan diagnosis msih dapaty ditegakkan apabila tertundanya waktu mulai saat kejadian dan onset gangguan melwebihi 6y bulan, asal saja manifestasi klinisnya adalah khas dan tidak didapat alternative ategori gangguan lainnya.
b.      Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan bayangan-banyangan atau mimpi-mimpi dai kejadian-kejadian trsaumatk tersebut secara berulang-ulang kembali (flashback)
c.       Gangguan otonomik, gangguan afek,k dan kelainan tingkah laku semuanya dapat mewarnai diagnosis tetapi khas.
d.      Suatu ‘sequale’ menahun yang terjadi  lambat setelah stress yang luar biasa, misalnya saja beberapa puluh tahun setelah trauma, diklasifikasi dalam kategori F63.0 (perbahan kepribadian yang berlangsung lama setelah katasfora)



4.      STUDI KASUS

Menganalisis kasus dalam film The Aviator (2004)

A.     TEMA KASUS
Film ini mengisahkan kehidupan Howard Hughes (Leonardo DiCaprio) yang merupakan seorang pengusaha sukses asal Texas. Dia adalah sutradara film—film epik besar pertama sejak jaman film bersuara, Hell’s Angels yang sempat mencetak film termahal dunia, dan film western vulgar. Dia juga merupakan produser film—yang paling terkenal adalah Scarface versi asli tahun 1932 dengan sutradara Howard Hawks. Dan, kecintaannya terhadap penerbangan membuatnya dirinya bangga dijuluki Sang Penerbang. Film ini adalah mengenai karirnya yang penuh pertaruhan besar dalam perfilman maupun industri pesawat, kisah cintanya yang penuh petualangan, dan penyakit yang dideritanya.
Kisah dalam film ini berawal dari saat Howard kecil dimandikan oleh ibunya. Saat menyabuni Howard kecil, Ibunya memberi sugesti kepadanya bahwa dunia luar itu jahat karena terdapat banyak penyakit seperti kolera dan tifus sehingga dia tidak aman berada disana, dan ibunya selalu mengajari Howard mengeja kata “QUARANTINE”, pada saat membersihkan dirinya.
Setelah menginjak usia dewasa Howard tumbuh menjadi yang perfeksionis dan segala yang ia mau harus didapat dan apa yang ia kerjakan hasilnya harus sempurna. Semua karyawan Howard haruslah bersih, seperti memakai sarung tangan apabila sedang bekerja, dan apabila ada karyawannya yang terlihat tidak bersih Howard tidak segan-segan untuk memecatnya. Howard juga merasa sangat tidak nyaman jika bertemu dengan orang yang tidak dia suka, contohnya ketika seseorang terlihat dekat dengan pacarnya ia akan segera mencuci tangannya berulang-ulang kali  bahkan sampai berdarah dengan menggunakan sabun yang sama dengan sabun yang biasa ibunya pakai untuk membersihkan tubuhnya. Apabila ia membenci sesorang (putus dari kekasihnya), ia tidak segan-segan untuk membakar semua bajunya yang pernah disentuh oleh orang tersebut. Ia melakukan itu karena menganggap semua itu kotor, dan ia harus bersih dari kotoran-kotoran tersebut.

Walaupun, Howard adalah seorang pengusaha yang cukup sukses ia sangat tidak suka dengan keramaian, ini terjadi ketika ketika  Howard  berjalan di  red carpet dalam suatu pesta , ia merasa tidak nyaman dengan adanya banyak orang dan kamera  yang  menyorotnya. Sehingga ia hanya bisa diam dan bertingkah  aneh.

Puncak dari penyakitnya ini sewaktu ia tertuduh menggunakan uang peperangan untuk biaya pesawat yang dibuatnya yang belum pernah diuji. Ketika itu ia depresi sehingga ia mengurung diri di dalam ruangan dalam waktu yang cukup lama. Selama ia mengarantina dirinya ia sering mengulang ulang kalimat termasuk mengeja kata ‘Q-U-R-A-N-T-I-N-E’ , bahkan ia sendiri pun berusaha untuk menghentikan ucapannya itu. Sikap obsesifnya terhadap kuman dan kotoran pun semakin besar.

Suatu waktu Howard diisukan memiliki skandala penyelundupan uang, untuk mengusut kasus Howard, ia diharuskan untuk hadir dalam Sidang putusan di pengadilan. Howard kemudian bertekad untuk sembuh dan berusaha membuktikan balik bahwa ada suap antara komite penerbangan dengan rivalnya.

Howard juga ingin membuktikan bahwa pesawat superbesar yang ia buat benar-benar bisa terbang. Lewat adu argument yang alot dan menegangkan, Howard diberi kesempatan jika benar bisa menerbangkan pesawat raksasanya maka ia akan bebas dari segala tuntutan. Adegan yang sangat mengharukan dan menegangkan terlihat ketika Howard berhasil menerbangkan pesawat yang selama ini menjadi cemo’ohan orang karena dianggap mengada-ada. Kehormatan Howard pun akhirnya kembali, namun sayang gangguan kepribadian obsesif-compulsif yang ia derita masih juga ada.

B.     PERMASALAHAN

·         Howard Hughes adalah seorang yang sangat sensitive terhadap sesuatu yang kotor dan lingkungan terbuka yang cenderung tidak higienis
a.       Ketika  ia sedang dinner bersama rekan dan pacarnya. Howard ingin memakan makanannya, tiba-tiba  salah satu rekannya yang bernama Errol  mengambil  sedikit  kacang yang terdapat pada makanan Howard dengan  tangan kosong. Howard terlihat sangat jijik dan memutuskan untuk meninggalkan pesta dengan pacarnya, Kate.
b.      terlihat  pada  saat  ia melihat ada sedikit kotoran di jas yang dipakai salah satu koleganya Bob.  Howard  sampai  memohon  kepada  Bob untuk membersihkannya dengan sapu tangan kemudian menyuruhnya untuk  membuang  sapu tangan tersebut.
·         Ketika depresi dan pada saat sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada Hughes  ke-obsesifannya terhadap kebersihan semakin meningkat hal ini ditandai dengan ia mengunci diri dalam ruangan bioskop untuk menghindari kondisi yang tidak higienis diluar, hal ini juga disertai dengan mengucapkan kata Quarantine berulang-ulang dan kalmat-kalimat lain, sekalipun ia berusaha untuk menghentikannyan Selain itu, ia juga melakukan hal-hal yang aneh. Salah satunya adalah menyimpan  air  kencingnya  di  botol bekas susu dan  berhalusinasi  dengan  melihat  ada  seorang  laki-laki  yang  mengguna sarung  tangan,  datang  menghampirinya.  Ketika  Kate   mengunjungi   dan   ingin   berbicara

C.     LATAR BELAKANG MASALAH

·         Penyakitnya tersebut akan semakin akut ketika dia berada dalam keadaan depresi dan kondisi tidak menyenangkan.
·         Howard memiliki sifat yang perfeksionis menginginkan sesuatu yang sempurna tanpa cela sedikitpun.
·         Hasil learning semasa kecil yang terus menerus dipelajari dan diyakini sebagai suatu kebenaran, mengenai konsep dunia yang tidak aman bagi dirinya. Cuplikan awal film Howard kecil sedang dimandikan oleh ibunya, ketika itu anak yang berperan sebagai Howard diperkirakan berusia sepuluh tahun. Ibu Howard Hughes menyuruh Howard untuk mengulang-ulangi ejaan kata ‘Q-U-A-R-N-T-I-NE’, ia juga menyugesti Howard bahwa Howard berada dalam kondisi  tidak aman, karena ada berbagai macam penyakit diluar seperti kolera dan tifus yang bisa membuat kondisi kesehatan Howard tidak baik. Sehingga dapat dikatakan keluarga Howard sangat menuntut pentingnya kehigienisan.
·         Howard cenderung kaku dalam berfikirdan kurangnya konformitas.
·         Ekspresi emosi yang tertahan, fiksasi atau agresi pada fase oral.


D.     DIAGNOSA

Dari analisis yang telah dipaparkan diatas Howard Hughes menderita gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD) .

Kriteria Obsesif Kompulsif berdasarkan PPDGJ-III
a.      Untuk mendiagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif,m atau kedua-duanya, harus ada hamper setiap hari selama setidaknya dua minggu berturut-turut.
Dari Sekuen awal film ini terjadi di tahun1920-an Howard telah menunjukkan tanda-tanda obsesif terhadap kebersihan hingga sekuen terakhir di tahun 1947 ia pun masih memiliki gejala kompulsif.  Ini membuktikan bahwa gejala obsesif-kompulsif yang diderita oleh Howar telah terjadi puluhan tahun.
b.      Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas penderita.

Gejala-gejala yang dialami oleh Howard telah mengganggu kehidupannya, ini ditandakan melalui beberapa peristiwa berikut:

-     Howard  merasa jijik sehingga tidak jadi  makan karena amakanan tersebut telah disentuh oleh tangan temannya.
-     sehari-hari ia tidak pernah memegang gagang pintu dengan tangan. Ia menggunakan tisu atau alas untuk memegangnya.
-     Saat penyakitnya semakin akut ia mengarantina dirinya diruangan selama beberapa bulan.
c.         Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut
-           Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri
Dalam film ini, gejala obsesif yang diderita Howard berasal dari pikirannya sendiri yang termanivestasi dari raut wajah yang risih terhadap segala hal yang berhubungan dengan dunia luar yang terbuka tidak higienis, seperti pada makanan yang telah disentuh dan gagang pintu
           
-           Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti yang dimaksud di atas)
            Howard merasa terpuaskan kecemasannya (obsesifnya) jika menghilangkan hal-hal yang membuat dia cemas dengan tindakan kompulsif, salah satu contohnya saat pacarnya terlihat dekat dengan laki-laki lain maka dia akan pergi ke toilet untuk mencuci tangannya dan mengeringkannya dengan handuk berulang-ulang
-           Gagasan bayangan, pikiran dan impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan
            Pengulangan kata seperti kata "Quarantine”, seperti kata “the way of the future” yang selalu ia ulangi, Ia berusaha menghentikan dirinya untuk mengulang-ulangi kata-kata tersebut sehingga jelas bahwa repetisi yang dilakukan Howard tidak menyenangkan.
c.       Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif dengan depresi. Penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresi dan sebaliknya penderita gangguan depresi dapat menunjukkan perilaku obsesif selama masa depresinya.

Dalam film ini, gejala obsesif nya semakin kuat ketika ia dalam keadaan depresi, saat Howard dituntut telah menggunakan dana peperangan untuk membuat pesawat yang belum dapat terbang. Saat itu,  ia menutup diri dengan lingkungan luar dengan mengarantina dirinya di ruang bioskop , gejala kompulsifnya semakin sering terlihat dengan pengulangan (repetitive) terhadap kalimat-kalimat tertentu.

E.     EVALUASI KASUS

Dengan pendekatan terori behavioral

Teori behavioral menganggap bahwa kompulsi sebagai perilaku yang diperlari dikuatkan oleh kondisi rasa takut. Sebagai contoh, Howard mencuci tangannya dan mengelapnya secara kompulsif dianggap sebagai respon pelarian operan yang mengurangi kekhawatiran obsesional dan ketakutannya terhadap kontaminasi oleh kotoran dan kuman, begitupun terhadap peristiwa –peristiwa depresi yang dialaminya.
Terapi yang dapat dilakukan menurut pendekatan teori behavioral untuk kasus OCD yaitu dengan pemaparan pencegahan ritual. Semisal dengan memegang sesuatu yang kotor kemudian menghindari untuk tidak melakukan ritual yang senantiasa dilakukannya yaitu mencuci tangan. Asumsi dari terapi ini merupakan penguatan negative untuk mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh stimulus dari lingkungannya. Mencegah ritual ini akan memaparkan pada stimulus yang menimbulkan kecemasan sehingga memungkinkan untuk terhapusnya kecemasan tersebut




PENUTUP
Kecemasan merupakan suatu sensasi aphrehensif atau perasaan takut yang menyeluruh, dan hal ini merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada setiap individu, akan tetapi bila hal ini terlalu berlebihan maka dapat menjadi suatu yang abnormal. Anxiety disorder berupa gangguan fobia, gangguan panik, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan anxietas menyeluruh, dan gangguan stres pasca trauma. Kecemasan muncul karena individu memikirkan atau membayangkan suatu tindakan atau peristiwa yang dilakukan secara berlebihan, sehingga pada saat melakukan kegiatan tersebut individu cenderung merasa tertekan akan tindakan yang pernah dibayangkannya secara berlebihan. Gangguan kecemasan ini merupakan salah satu bentuk dari penyakit mental. Penyebabnya bisa apa saja, seperti ketidakseimbangan kimia dalam tubuh, perubahan struktur otak, stres lingkungan, trauma dan phobia, dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

Ardi Ardiani,Tristiadi . 2011. Psikologi Abnormal. Bandung : Penerbit Lubuk Agung .
Davidson, Gerald C, John M. Neale, Ann M. Kring. 2004. Psikologi Abnormal. Jakarta: Rajawali Pers.
Maslim, Rusdi. 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Atmajaya
Wiramihardja, Sutardjo A.. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: PT. Refika Aditama.

3 comments:

  1. assalamualaikum,
    Awalnya aku insomnia,trz skarang aku mengidap pnyakit anxiety disorder..minta e-mailmu dong,spertinya aku butuh seorang psikiater...tlong..thx
    Wassalam..

    ReplyDelete
  2. Waalaikumsalam
    maaf mas, untuk sampe ke jenjang terapi sepertinya saya masih belum bisa dengan status yang masih mahasiswa semester 3 :)
    silahkan hubungi psikolog terdekat saja, terima kasih :)

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang