Sunday, 14 October 2012

RATU HIBERNATE (Season IV)


*triinggggggggg* aku terbangun ketika bell tanda istirahat berbunyi, ternyata aku ketiduran di dalam kelas selama dua jam mata pelajaran, untunglah gurunya tidak masuk dan hanya memberi tugas, dan syukurnya lagi karna Viana berseedia untuk mengerjakan tugasku hari ini. itulah salah satu alasan mengapa aku betah duduk di sebelah bangku Viana. tiba-tiba sebuah tangan dengan menggenggam gelas mocca hangat hinggap di hadapanku, ternyata itu tangan Diaz. "Nih minum dulu, supaya entar gak molor lagi", katanya sembari tersenyum menyodorkan gelas berisi mocca itu. aku langsung meraihnya dan membalas senyum Diaz.
"lo kenapa sampe ketiduran gini? kayak di rumah lo gak ada kasur aja"
"yee enak aja, semalam gue gak bisa tidur tau"
"kenapa emang? nge-blog lagi ya? jam berapa?" pertanyaan Diaz kali ini seperti ada yang aneh, aku terpaksa berbohong untuk menyikapinya.

"gak, gue nge-skype sama Iyan. semalem gue gak mosting"
"oh cowo lo kere ya? modalnya skype doang haha"

"lo kenapa sih? nyantai dong!!"
"loh yang nyolot sapa coba. gue bercanda kok. jangan ngambek yaa" katanya sambil mengacak-acak rambutku, dan langsung saja kukibas tangannya, "gue gak suka rambut gue dipegang-pegang!" kataku sinis dan hanya disambut dengan tawa cekikikan dari Diaz.

hari ini aku memilih untuk stay di kelas dulu, dan untungnya Diaz dengan setianya menemaniku. seharian ini tak kulihat Tiara datang menghampiri Diaz, dan tentunya aku senang. hal ini bagaimana menemukan barang yang telah lama hilang. ditambah lagi guru di mata pelajaran kedua tidak masuk dan hanya memberi tugas yang dikerjakan di rumah, hal ini membuat aku dan Diaz bisa bercerita banyak hal, mulai dari hal-hal menyenangkan di masa-masa MOS dan pertama kali kenal, hingga akhirnya sampailah dia menanyakan sesuatu yang memang sangat kuharapkan ia tanyakan "lo kenal Iyan dari mana?", aku berharap pertanyaan pembuka ini bisa berakhir dengan kalimat "gue cemburu tau!!!!" hihiihihii yahh semoga saja..
"dari YM sih", jawabku singkat
"sejak kapan? kok gue gak tau sih? kenapa gak pernah cerita?"

"emang ngefek gitu?"
"ya iyalah, lo kan sahabat gue jadi gak ada slahanya kan gue tau tentang lo"

"udah ah, lo urus aja tuh cewe lo"
"gue putus sama Tiara, Dis"
"hah? kok bisa?"
"dia marah, soalnya dia tau kalau gue sebenarnya suka sama cewe lain"
"cewe lainnya sapa emang?", saat ini aku sangat berharap bahwa cewe yang Diaz maksud itu adalah aku.

"ada deh, dikasitau lo juga gak bakal kenal. dia masa lalu gue waktu gue masih kecil dulu" kalimat terakhirnya sungguh menghujam jantungku, untuk kedua kalinya aku kecewa, sangat kecewa. kenapa aku tak pernah tahu? kenapa dia tak pernah ceria tentang perempuan yang disukainya sejak kecil? apa lagi rahasia terpahit darinya untuk diriku? I feel so sad today!!! :(

aku berusaha menutupi sesak ini, kumainkan blackberry dan kutemukanlah kontak Alfian Idrus, segera kuchat dia dengan kalimat "sayang masih kuliah ya? pulangnya jam berapa? jalan yukk bete nih -__-". kuperhatikan Diaz melirik ke layar handphoneku namun tak berkomentar apapun. saat ini yang aku ingin lakukan adalah segera menghilang dari hadapan Diaz, dan menangis sekencang-kencangnya. satu-satunya tempat pengaduan yang tepat adalah Iyan, yahhh pria yang menjadi pacar bohonganku. "jam 3 udah kelar kok, oke aku jemput di rumah ya", sepertinya Iyan sudah mengerti jika aku men-chatnya dengan kata-kata seperti itu, Iyan memang tidak pernah mengecewakan jika sedang dibutuhkan. dasar calon psikolog :P sekarang tak kuhiraukan lagi bagaimana tanggapan Diaz padaku, yang pastinya aku sangat butuh Iyan saat ini!!!!!

kudengar suara klakson mobil Iyam, segera aku turun dan pamit pada mama, kulihat ekspresi heran mama tapi tidak mencegahku untuk keluar sore ini. seperti biasa kutemukan sosok Iyan dalam keadaan yang cool dan tetap rapih, ia hanya tersenyum dan aku tetap pada ekspresi datarku. setengah perjalanan ia mulai membuka percakapan, seperti pada kejadian-kejadian sebelumnya.
"kita mau kemana non?"
"kemana aja, pokoknya gue pengen hang out"
"serius kemana aja?"
"iya ah bawelll" kulihat ia hanya tersenyum melihatku menanggapinya cuek. 
mobil masih melaju hingga sampailah di sebuah rumah yang cukup besar, dengan halaman yang penuh dengan bunga, dan ada satu mobil C-RV putih di bagasinya. aku menatap Iyan dengan penuh keheranan, ia hanya tersenyum sembari mengajakku masuk ke rumah itu. aku sedikit menolak, tapi tiba-tiba seorang pria berbadan cukup tinggi dengan celana selutut dan kaos abu-abunya keluar dari pintu, "Yan, suruh cewe lo masuk gih, kasian kalo harus nunggu di mobil", lagi-lagi Iyan hanya terlihat menahan tawaku ketika melihat aku salah tingkah dengan ucapan laki-laki itu.

belakangan kutahu laki-laki itu bernama Kak Ferry, dia adalah sepupu Iyan yang baru pulang dari kuliahnya di USA, sungguh aku begitu kagum dengan keluarga Iyan, semuanya betul-betul berprestasi. tak lama kami disana, hanya mengambil beberapa buku yang Kak Ferry akan berikan pada Iyan. setelah kembali ke jalan, kami berdua tetap membisu, dan lagi-lagi Iyanlah yang membuka percakapan.
"ada masalah apa sih? kok dari tadi jutek gitu"
"gak ada apa-apa kok, pengen jalan-jalan aja"
"serius?
"eeaahh qaqah, akunya ciyus enelan cumpah -__-"
"hahaha pasti gara-gara Diaz lagi kan? iya kan?" aku kini tediam, menghadap ke luar jendela berusaha menutupi air mataku yang kurasakan telah mulai menetes lagi. Iyan tiba-tiba menepikan mobilnya ke pinggir jalan, memperhatikanku lekat-lekat lalu kurasakan tangannya kini mengelur-elus kepalaku, aku bagaikan kucing yang sedang dibujuk oleh majikannya.
"Udah jangan nangis lagi yaa.. air mata lo terlalu berarti tau buat nangisin cowo yang gak respect sama lo.. please dong Dis, jangan nangis lagi, apalagi di depan gue.. gue paling gak bisa liat lo nangis Dis.. Dis.. Diska... Please.... Gue sayang sama lo Dis!"



Temukan:

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang