Tuesday, 6 November 2012

RATU HIBERNATE (Season V)

"Udah jangan nangis lagi yaa.. air mata lo terlalu berarti tau buat nangisin cowo yang gak respect sama lo.. please dong Dis, jangan nangis lagi, apalagi di depan gue.. gue paling gak bisa liat lo nangis Dis.. Dis.. Diska... Please.... Gue sayang sama lo Dis!"

aku tersentak mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Iyan, air mataku sontak berhenti dan bola mataku membelalak menatapnya tanda tak percaya dengan kata-kayanya barusan. kuperhatikan ia kini salah tingkah, "gak lah, gue bohong. beruntung banget lo kalo mesti disayang sama gue. tuh kan lo nya berhenti nangis", sambungnya kini yang membuatku menjadi balik salah tingkah, aku malu dengan ekspresiku barusan, pasti ia mengira aku adalah perempuan yang mudah GE-ER, fiiuuhhh....

Iyan tersenyum dan melanjutkan mengemudikan mobilnya, aku hanya tertunduk malu dengan kejadian tadi, "udah jangan dipikirin, tadi itu gue bercanda kok, lo sih nangis terus, dasar ababil hahaha", ekspresi yang tadinya malu sekarang menjadi ekspresi kejengkelan dengan ditandainya bola mataku yang menatap sinis pada Iyan, dan lagi-lagi ia hanya tertawa terbahak-bahak melihatku.

beberapa menit kemudian sampailah kami di sebuah mall yang cukup ramai di kota kami, aku turun dari mobil dan langsung nyelonong masuk ke dalam mall tanpa menunggu Iyan terlebih dahulu, dan kurasakan ia berjalan di belakangku, hingga akhirnya berada juga tepat di sampingku. aku tetap cuek dan tetap diam-diam memperhatikannya, dengan sabarnya ia hanya berjalan terus mengikutiku, dan kali ini tanpa bertanya lagi "kita mau ngapain?" aku mulai menaiki setiap eskalator naik, mengitari setiap lantainya hingga sampailah kami di depan Timezone. dengan sebuah senyuman yang sangat lebar kukode Iyan untuk masuk kesana, ia hanya tertawa sembari merangkulku masuk ke arena bermain tersebut.

aku langsung menuju ke ring basket, sepertinya ini adalah permainan yang paling cocok untuk melampiaskan emosi negatifku saat ini, "Bisanya sampe score berapa?" tanyanya padaku, "Lo sendiri berapa? taruhan yuk?", balasku tak mau kalah, ia tertawa dan hanya menjawab dengan kata "Oke". Sesi pertama diberikan padaku, lumayanlah dengan score 67. kudengar Iyan bertepuk tangan yang berhasil membuat narsistikku kumat hahaha sesi kedua adalah giliran Iyan. Ia dengan lincahnya men-shoot bola demi bola dengan mulusnya, aku terkesima melihatnya, hingga kuhitung hanya melakukan 3 kali salah dalam shootnya. aku melongo melihat scorenya yang 184, ia kemudian tertawa cekikikan melihat ekspresiku sekarang yang berubah menjadi cemberut. "Yuk sekarang traktir gue makan dulu, habis itu nonton ya? habis itu makan lagi haahahhahahaa" katanya bersamaan dengan langkahnya keluar dari Timezone sambil menarik tanganku, aku hanya pasrah dengan keadaan yang begitu merugikanku saat ini.

ketika sampai di depan sebuah restorant cepat saji, mataku tertuju pada 3 orang lelaki yang satu diantaranya begitu kukenal, ya itu Diaz, tapi dua orang lainnya tak kukenali. Diaz juga melihatku dan melambaikan tangan kepadaku, Iyan memberi kode untuk mengantri makanan dulu lalu bergabung bersama mereka. setelah mengantri beberapa menit dan baki makanan telah ada di tangan, aku melihat ke meja Diaz dan kutemukan ia masih melambaikan tangannya, hal ini kuartikan sebagai kode untuk bergabung di mejanya. Aku menghampiri mejanya dan mengambil posisi duduk di samping Diaz, sementara Iyan juga ikut duduk di samping kiriku.


"Dia cowo lo?", kata Diaz kemudian, tatapan seakan tak suka pada Iyan.
"Iya, kenalan dulu gih", jawabku membalas.
Iyan dan Diaz mulai bersalaman memperkenalkan diri, begitu juga aku dan kedua teman Diaz yang kutahu belakangan bernama Ferry dan Adit, mereka berdua mengaku sahabat Diaz sejak SMP dulu. mereka berdua cukup ramah juga ternyata, dan ini membuatku tidak canggung bergabung bersama  mereka. Beberapa menit mengobrol, mereka mengaku telah mengenalku sudah lama. aku shock juga dan sempat kegeeran tapi lagi-lagi segera kubuang fikiran seperti itu, aku sadar Diaz bercerita tentang aku pada teman-temannya karna aku adalah sahabatnya! ya akulah satu-satunya sahabat wanita yang dimiliki Diaz di sekolah.

setelah beberapa lama berada di tempat itu dan makanan pun telah habis, Iyan mengajakku untuk pulang. apalagi jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. ketika akan berdiri dari kursi, tiba-tiba Diaz memegang tanganku menghentikan gerakan kakiku yang akan segera beranjak meninggalkan tempat itu, "Biar gue yang anterin lo pulang" katanya mengangetkanku. aku berusaha mengendalikan diri dan fikiranku, kucoba melepaskan genggaman tangannya dan menolak tawarannya, tapi ia rupanya masih bersih keras untuk mengantarku pulang, kurasakan genggaman tangannya menjadi lebih kuat melingkar di tanganku, tapi tiba-tiba Iyan mendorong Diaz hingga kursinya mundur beberapa senti ke belakang. Diaz berdiri seakan ingin membalas perlakuan Iyan namun buru-buru dicegah oleh Adit dan Ferry. aku menarik Iyan meninggalkan tempat itu yang sudah siap untuk bertarung melawan Diaz. Aku shock, dan kulihat ekspresi wajah Iyan yang masih sangat kesal.


Di perjalanan pulang pun Iyan tak bersuara, kulihat ekspresi wajahnya masih seperti yang tadi, alisnya seakan tersambung saking kesalnya. aku pun hanya diam, aku tak berani membuka percakapan setelah kejadian itu hingga sampai di depan rumah.
"Yan, masuk dulu yuk", ajakku kemudian setelah mobilnya kini terparkir di depan pagar rumahku.
"gak usah, lo masuk aja. udah malam nggak enak sama mama lo".
"oh yaudah.. soal yang tadi itu sorry banget ya. gara-gara gue, lo hampir berantem sama DIaz"
"gak apa-apa kok, gue emang gak suka kalo ada yang nyakitin lo, apalagi orangnya Diaz, gue paling gak bisa terima".
"kok gitu?"
"gue suka sama lo Dis. sekarang gue benar-benar sadar kalau gue sayang sama lo! sorry gue terpaksa bilang ini sekarang. sorry karna yang bilang ini gue, bukan Diaz.."

Temukan:

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang