Sunday, 9 December 2012

I THINK, I LOVE YOU!


Aku berlari tergesa-gesa menerjang hujan senja ini. Nafasku mulai tersengal-sengal ketika makin kupercepat langkahku yang selaras dengan hujan yang mengalir dengar derasnya. Kulihat sebuah halte di ujung jalan di depanku, aku makin semangat melangkahkan kaki. “huff.. akhirnya..” gumamku dalam hati ketika tiba di halter tersebut. Keperhatikan di sampingku ada seorang ibu separuh baya menatapku sambil tersenyum, aku hanya membalas senyumannya kemudian kembali menatap jalan dan rerintik hujan yang seakan memberi kode untuk tetap berteduh di halte itu. Beberapa menit berlalu dan masih saja belum ada angkot yang lewat, kulirik jam tanganku yang kini sudah menunjukkan pukul enam sore. “Waduh, pasti ayah marah”, batinku. Segera kuraba kantong celana jeansku dan kukeluarkan handphone yang hampir mati. Kucari kontak nama Ayah dan kupencel tombol dial.
Assalamualaikum”, sapa ayah dari telepon.
Waalaikumsalam. Ayah di sini masih hujan, trus nggak ada angkot yang lewat. Mungkin habis magrib atau isya Gita sampai di rumah”.
loh malam banget itu nak, kalau begitu Ayah suruh jemput sama kak Guna saja ya?”
loh? Kak Guna pulang ya? Kapan?”
“Iya tadi siang baru sampai rumah tapi langsung istirahat. Tunggu dua puluh menit, entar kak Guna yang jemput Gita”
“oh iya, kalau gitu Gita tunggu di halte dekat kampus ya. Assalamualaikum
oke Waalaikumsalam”.

Hampir setengah jam aku berdiri di halte yang tak kunjung sunyi ini, tiba-tiba sebuah sedan hitam berhenti tepat di depanku. Orang yang berada di atas mobil itu kemudian menurunkan separuh kaca mobilnya dan berteriak kepadaku, “Hai non, masih betah berdiri disitu ya?”, aku tersenyum memperlihatkan semua gigi atasku dan segera naik ke mobil. “Mulai bandel ya sekarang, masih maba kok udah berani pulang magrib”, lanjutnya kemudian. “Enak aja, bukannya bandel tau, orang gak ada angkot kok. Kak Guna sih enak pake mobil, lah Gita?” jawabku membela diri, “hahaha kamu tuh ya, emang pinter cari alasan. Makanya jadi anak sulung kalau mau dikasih mobil. Dasar bontok hahaha”, kali ini tak kubalas ucapan kak Guna yang serasa makin menyudutkanku, kutatap ia dengan ujung mataku yang berhasil membuatnya berhenti tertawa walaupun sedikit terlihat menahan tawa.

Kak Guna adalah kakak dan saudaraku satu-satunya. Usia kami berjarak tiga tahun, aku yang kini masih maba dan ia yang kini mahasiswa yang sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsi. Kak Guna adalah mahasiswa psikologi semester tujuh di Universitas Indonesia, dengan otak yang sangat encer, ia berhasil masuk ke UI dengan jalur bebas tes beberapa tahun yang lalu. Dan hal inilah yang membuat kak Guna harus tinggal terpisah dari kami. Di rumah sendiri hanya ada aku dan Ayah, Kak Guna sudah tiga tahun mengontrak rumah di Jakarta namun masih rutin balik ke rumah jika sedang tidak ada kuliah, sedangkan Bunda telah meninggalkan kami ke tempat yang sangat jauh dari kami, penyakit jantung yang merenggut nyawanya dua tahun yang lalu membuat keadaan rumah semakin senyap, dan hal inilah yang menjadi motivasiku kuliah di Kedokteran saat ini. Ya, karna Bunda! Karna waktu itu tak ada dokter yang berhasil menyelamatkan Bunda kami. Dan karna kepergiaan Bunda warna rumah kami menjadi sangat kelabu. Sampai saat ini Ayah pun masih belum beristri lagi, ia mengurusiku seorang diri, dan hal inilah yang membuatku begitu mencintai Ayah. Setahun yang lalu, ketika aku masih kelas tiga SMA, pernah aku bertanya pada beliau
“Yah, rumah sepi banget ya?”
“iya nak, nanti kalau kamu kuliah pasti bakalan tambah sepi deh
yaudah, Ayah cari istri aja, supaya ada yang nemenin. Istri yang baik kayak Bunda”
Ia tersenyum manis padaku dan perlahan membalas ucapanku, “Gita sayang, cari istri yang baiknya kayak Bunda itu tidak semudah cari satpam kompleks loh. Ayah masih sanggup kok dengan keadaan seperti ini, yang penting ada Gita dan Kak Guna itu sudah cukup buat Ayah. Lagian perempuan kayak Bunda itu cuma ada satu sayang, Bunda masih hidup kok di hati Ayah”, jawabnya yang masih dengan tersenyum. Kuperhatikan matanya yang mulai berkaca-kaca melihatku. Aku tahu betul bagaimana sakitnya hati Ayah ketika Bunda meninggal. Seumur-umur, hanya satu kali kulihat Ayah mengeluarkan air mata, yaitu ketika Bunda meninggal. Aku langsung memeluk Ayah, mengagumi kesetiaan dan ketabahan yang dimiliki oleh lelaki super itu.

***

Beberapa menit kemudian sampailah kami di sebuah rumah yang bercat abu-abu, seorang wanita paruh baya membukakan pintu pagar sebagai isyarat agar mobil kak Guna untuk masuk ke dalam rumah. “aduh non kok pulangnya malam? Biasanya sore udah ada di rumah”, katanya kemudian padaku. “Iya Bi, abisnya tadi hujannya deras banget, habis itu gak ada angkot lagi. Untung deh ada di sopir di rumah”, kataku yang kemudian melirik pada kak Guna. Bi Inah dan Kak Guna hanya tertawa mendengar kataku barusan. Aku buru-buru masuk kamar untuk mengganti baju yang sudah basah kuyup dan segera mandi, maklum aku agak sensitif jika terkena air hujan jadi harus langsung mandi jika terkena air hujan. Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar dengan baju yang sudah kering dan handuk yang mengerucut di kepalaku. Kulihat Ayah dan Kak Guna sudah menungguku di meja makan, aku langsung mengambil posisi tepat di sebelah Ayah. Kuperhatikan Kak Guna kini makan dengan lahapnya, aku dan Ayah saling bertatapan kemudian tersenyum melihat tingkah kak Guna malam ini, “Kasian, pasti karna jarang makan makanan rumah hihihi”, gumamku dalam hati.

Setelah makan malam usai, seperti biasa kami akan berkumpul di depan TV, mengingat besok adalah weekend maka semua urusan kampus dan kantor dilupakan untuk malam ini. Tiba-tiba Ayah membuka pembicaraan, “Jadi Vina sekarang apa kabar Gun?” kata Ayah yang membuatku dan Kak Guna cukup kaget. Wajar saja, ini adalah pertama kalinya Ayah menanyakan kabar pacar Kak Guna, aku kira Ayah adalah orang yang tak pernah ingin tahu dengan keadaan asmara anak-anaknya. “Baik-baik aja kok Yah, memangnya kenapa? Kok tumben nanyain Vina”, kini Kak Guna balik bertanya pada Ayah. “ya gak apa-apa sih, emang gak boleh? Kamu kapan sarjananya?”, Ayah pun kembali bertanya lagi, “ya gak apa-apa juga, cuma heran aja. Doain aja supaya semester ini bisa ujian meja Yah, tapi kalau gak bisa ya gimana lagi, harus semester depannya. Kenapa emang Yah?”, kini mereka saling beradu pertanyaan, “Oh syukurlah, semoga semester ini bisa S.Psi., supaya bisa menikah tahun depan” jawab Ayah datar yang kemudian membuat Kak Guna membelalak seakan tak percaya dengan perkataan Ayah barusan. “Hah?? Menikah?? Sama Vina??”, tanya kak Guna mencoba membenarkan yang kemudian hanya dijawab dengan anggukan kepala dari ayah. Kak Guna terlihat semakin shock dan sedikit pucat. Aku yang sedari tadi hanya menjadi pengamat tak bisa menahan tawa melihat ekspresi dan percakapan mereka berdua barusan. Ayah yang tadinya diam kemudian ikut tertawa melihatku tertawa terbahak-bahak.

***

Senin kembali datang, seperti biasa hari ini akan menjadi hari tersibuk dalam seminggu. Ayah kembali masuk kantor, aku kembali kuliah, tapi ternyata tidak untuk Kak Guna. Hari ini Kak Guna masih ada di Bandung karna akan membaca beberapa buku di perpustakaan kampusku untuk bahan skripsinya. Dan dengan hal ini, maka hari ini aku ke kampus diantar oleh kak Guna. Pukul 07.45 sedan hitam milik kak Guna telah terparkir di parkiran fakultasku, kami kemudian bersama-sama masuk ke fakultas sambil kutemani ia ke pespustakaan fakultasku. Setelah tiba di depan perpustakaan, tak sengaja aku melihat Kak Rey sedang berada di antara deretan rak buku, aku sempat kaget dan langsung kikuk, kak Guna yang melihat ekspresi wajahku berubah jadi bertanya dan menatapku dengan rasa ingin tahu. Aku buru-buru meninggalkan Kak Guna dengan alasan akan masuk kelas.
Kak Rey adalah salah satu pria yang kukagumi dalam hidupku selain Ayah dan Kak Guna. Reynaldi Budiman itulah namanya. Sifatnya yang sangat mirip dengan Kak Guna membuatku begitu kagum padanya. Sebelumnya aku fikir bahwa tak akan ada seseorang yang seperti kak Guna, tapi pandangan itu berubah semenjak kukenal ia sebagai seniorku. Tapi walaupun begitu sampai saat ini aku belum pernah sekalipun bertegur sapa dengannya. Bukan karena ia tipikal orang yang sombong, hanya saja aku yang minder memulai pembicaraan dengannya. Selain status kak Rey sebagai salah satu senior terganteng di fakultas, ia juga tergolong pria setia. Hal ini kuketahui dari cerita teman-teman sekelasku bahwa Kak Rey pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita selama empat tahun, namun hubungan mereka kandas karena sang wanita harus kuliah di luar negeri hingga si wanita mempunyai kekasih baru di sana. Usia Kak Rey satu tahun di bawah kak Guna, namun jika dibandingkan wajah mereka terlihat seumuran, mungkin karna kak Guna tipikal pria yang cukup humoris sehingga bisa awet muda.

***
Jam tanganku menunjukkan pukul lima sore, setelah dosen menutup perkuliahan aku buru-buru ke parkiran menari mobil kak Guna. Selama Kak Guna masih di Bandung, ia berkewajiban mengantar-jemputku kemanapun dan dimanapun, maklumlah aku adalah adik semata wayang dan satu-satunya wanita dalam keluar kami. Kutelusuri mobil demo mobil, mencari sebuah sedan hitam kepunyaan Kak Guna, dan lagi-lagi hal yang terbayangkan terjadi. Tepat lima meter dari pandangan mataku, kulihat Kak Guna sedang bercakap-cakap dengan akrabnya bersama Kak Rey. Aku shock melihat pemandangan tersebut, hatiku kini berdebar. Kak Guna melambaikan tangan padaku, mengisyaratkan agar aku mendekat padanya. Aku berjalan dengan pelan ke arah mereka, Kak Rey tersenyum padaku, dan dengan otomatis bibirku pun membentuk sebuah senyuman yang memperlihatkan gigi depan atasku. Kak Rey sepertinya tidak terlalu memperdulikan kehadiranku, ia masih saja melanjutkan pembicaraan bersama Kak Guna, hingga akhirnya kak Guna pun pamit pulang. Perpisahan mereka sore ini diakhiri dengan bertukar nomor handphone dan pin blackberry, aku sedikit iri dengan Kak Guna tapi tak berani aku tunjukkan perasaanku sore ini.

Sesampai di rumah aku langsung masuk kamar dan bergegas mandi, malam ini aku ingin mengerjakan tugas yang akan di kumpul minggu depannya. Mumpung kak Guna masih ada di rumah, ingin kumanfaatkan tenaganya untuk mengerjakan tugas saja. Dengan sedikit merayu kak Guna, akhirnya ia bersedia untuk menyelesaikan satu tugasku malam ini *yippie* kami mengambil posisi belajar di ruang tamu, hal ini merupakan kebiasaan kami sedari dulu ketika Bunda masih hidup, hanya saja yang beda dari malam ini adalah karna tak ada lagi Bunda yang ikut mengamati kami belajar. Ayah yang memang biasanya sibuk sedang lembur sehingga di rumah menjadi semakin sepi. Bi Inah yang melihat aku dan Kak Guna belajar pun dengan sigap menyediakan kami mocca dan beberapa cemilan untuk malam ini. Tak lupa pula Kak Guna menyalakan winamp laptopnya yang menjadikan kami makin semangat untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Tak lama kami mengerjakan tugas, sebuah panggilan dari handphone kak Guna pun masuk, kak Guna kelihatan sibuk menjelaskan alamat rumah kami, sepertinya akan ada tamu malam ini.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah kami. Kak Guna kemudian membuka pintu lebar-lebar dan menyuruh tamunya untuk masuk. Aku segera membereskan semua buku-buku berserta laptopku dan berencana memindahkannya ke ruang tengah, tapi tindakanku di cegah oleh kak Guna, “Katanya mau kerja tugas? Disini aja, kakak tetap bantu kerjain kok”, dan akupun meletakkan kembali buku-bukuku ke meja. “Assalamualaikum..” sapa tamu kak Guna memberi salam, “Waalaikumsalam” jawabku datar dan kembali menatap ke laptopku, aku masih fokus pada tugas yang hampir menggunung ini dan tak sempat melihat wajah teman  kak Guna. Kali ini aku menggunakan headset agar mereka berdua bisa dengan leluasa bercengkrama. Bi Inah kembali muncul dengan napan berisikan secangkir mocca dan potongan brownies. “Gita!”, kurasakan tangan keras kak Guna penepuk pundakku, aku sontak menoleh dan langsung melepaskan headsetku dan dengan suksesnya pula pandanganku terarah pada pria yang berada di samping kak Guna, ya itu kak Rey. Aku menatap kearahnya dengan penuh perasaan heran, kak Guna kembali membuka pembicaraan “Kakak yang suruh Rey kesini, kamu sih minta dikerjain tugasnya padahal kita kan beda jurusan. Terpaksa deh kakak suruh Rey kesini”, yang kemudian hanya kujawab cengengesan. Kulihat kak Rey tersenyum mendengar perkataan kak Guna dan langsung meraih laptop kak Guna melanjutkan tugasku yang dikerjakan kak Guna.

Aku kikuk setengah mati melihat kak Rey yang saat ini tepat berada di depanku dan sedang mengerjakan tugasku. Dan sampai saat ini aku masih belum mengerti mengapa kak Guna bisa seakrab ini dengan Kak Rey, aku tak pernah tahu darimana mereka berkenalan, atau mungkin karna mereka bertemu di perpustakaan pagi tadi? tapi sepertinya itu terlalu simpel untuk menjadikan dua orang lelaki bisa langsung seakrab ini hanya dalam hitungan jam. Walaupun aku akui bahwa kak Guna memang orang yang sangat supel dalam pergaulan tapi tetap saja akal sehatku tak bisa terima. Aku pun tak berani menanyakan hal ini pada kak Guna, bukan karena aku gengsi menanyakan ini pada kak, hanya saja aku takut kak Guna mengetahui perasaan terpendam yang dimilki adik semata wayangnya. Malam pun berlalu, jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan tiga tugas pun terselesaikan malam ini. Kudengar suara mesin mobil ayah telah masuk ke garasi, dan Kak Rey pun pamit untuk pulang. Tak lupa aku berterima kasih padanya karena telah membantuku mengerjakan tugas, dan hal yang paling membahagiakan pada diriku ketika tanganku berjabat dengan tangannya.

***
Selasa pagi ini, aku ke kampus masih diantar oleh Kak Guna, namun kali ini menjadi momen terakhir di minggu ini, kak Guna harus kembali ke Jakarta pagi ini karna materi yang dicarinya di Bandung telah rampung. Begitulah kak Guna, ia tak pernah mau menunda pekerjaan, “Kalau bisa dikerjakan sekarang, kenapa harus menunggu besok?” begitulah kata-kata yang selalu ia lontarkan padaku. Ada perasaan tidak ikhlas juga ketika kakakku yang satu ini akan pergi lagi, dengan kembalinya kak Guna ke Jakarta akan membuatku keadaan rumah menjadi kembali sepi. “Sabar ya Dik, tinggal beberapa bulan kok. Doain aja semoga kakak cepat sarjana dan bisa tinggal sama Gita sama Ayah lagi”, begitulah kata perpisahan kak Guna pagi ini ketika ia menurunkanku di gerbang fakultas, tak lupa ia mengecup keningku sebagai kegiatan rutinitasnya setiap akan kembali ke Jakarta. Hufftt... hati-hati kak Guna....

Aku berjalan memasuki fakultas, kulihat dari jahu Kak Rey sedang mengobrol asik dengan teman-temannya, aku tertunduk melewati gerombolan seniorku itu dan tak kutemukan kak Rey menyapaku sedikitpun. “Padahal tadi malam udah nongkrong di rumah”, gumamku dalam hati. Aku pun berjalan lunglai memasuki kelas yang sebentar lagi akan dimulai. Kulihat Nadya melambaikan tangan padaku sebagai isyarat untuk mendekat padanya. Seperti biasa, Nadya selalu memberiku senyuman khas dari dirinya, dengan memperlihatkan seluruh gigi depannya senyumannya terlihat sangat natural. Itulah salah satu hal yang membuatku betah bersahabat dengannya sedari SMA. “Git, tugas filsafat udah selesai blom?”, tanyanya kemudian ketika kuletakkan tas di kursi sebelahnya, “Udah dong, semua tugas untuk minggu ini udah kelar semalam”. Jawabku dengan penuh rasa bangga. “Hah? Kok bisa? Pasti deh dibantuin lagi sama Kak Guna. Huh, curang!”, kali ini matanya sedikit melotot padaku, ia memang selalu iri melihat kedekatanku dengan kak Guna, maklum dia adalah seorang putri tunggal dari salah satu pengusaha sukses di kota kami. Aku hanya tertawa melihatnya sembari menyodorkan flashdisk padanya, “nih, datanya ada disitu kok. Copy aja kalau mau”, Nadya langsung sumringah ketika kuberikan fd berisikan jawaban tugas kepadanya, spontan ia langsung memelukku sambil mengucapkan terima kasih yang berulang-ulang. Aku hanya tertawa melihat tingkah sahabatku yang tak pernah berubah ini.

***
Final test berlalu, Kak Guna pun telah resmi berjelar S.Psi., Ayah sangat bangga pada kakakku yang satu ini karna berhasil menjadi wisudawan terbaik tahun ini. Walaupun begitu, aku lebih bangga kepada Ayah yang berhasil membesarkan kedua anaknya selama hampir tiga tahun dengan seorang diri. Kulihat Ayah sedikit berkaca-kaca ketika nama kak Guna disebut dan dipersilahkan ke atas panggung. Keharuan pun tercipta ketika mengingat bahwa tak ada lagi Bunda disini, Bunda tak sempat melihat kak Guna menggunakan toga kebesaran yang akan membawa perubahan besar pada dirinya. Aku dan kak Vina yang duduk di deretan kursi undangan ikut terharu melihat pemandangan ini. Aku sangat bangga pada kakakku, aku bahagia menjadi adik dari seorang Gunawan Adrian, S.Psi. kudengar ibu-ibu di sampingku mengeluarkan kata-kata kekaguman mereka kepada kak Guna, “Wah hebat sekali anak itu. sudah ganteng, jadi wisudawan terbaik pula. Kalau saja saya punya anak perempuan, saya mau deh jadi mertuanya”, katanya yang kemudian diiringi dengan cekikikan. Aku dan kak Vina hanya tersenyum mendengar ocehan ibu di samping kami. Kak Vina adalah pacar Guna semenjak SMA. Usia hubungan mereka sudah hampir lima tahun. Kak Vina satu tahun lebih muda dibanding kak Guna, ia adalah adik kelas kak Guna waktu masih SMA dulu dan sempat menjadi seniorku pula ketika masih kelas satu SMA. Kak Vina adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di UI, ia memiliki otak yang encer juga seperti kak Guna oleh karena itu mereka berdua bisa bersama-sama kuliah di UI. Orang tua kak Vina sangat merestui hubungan kak Vina dengan Kak Guna, begitupun keluargaku, dan Bunda ketika masih hidup.

Setelah acara wisuda selesai, kami merayakan hari besar kak Guna bersama-sama di rumah, tentunya dengan kehadiran keluarga kak Vina juga. Orangtua kak Vina terlihat sangat menyayangi kak Guna, sikap mereka seakan-akan orangtua kandung kak Guna. Setelah acara makan-makan selesai, tiba-tiba Ayah mengeluarkan kata-kata yang membuat semuanya kaget sekaligus bahagia, Ayah ingin melamar kak Vina untuk Kak Guna. Sontak Kak Guna dan Kak Vina terlihat begitu tersipu dan membuat pipi mereka sedikit merona. Aku yang hanya sebagai pendengar turut bahagia dengan apa yang disampaikan Ayah. “Tunggu sampai Vina sarjana dulu Pak, kami juga ingin kalau di undangan nanti namanya Vina ada gelarnya”, kata ayah kak Vina sambil tersenyum kepada Ayah. “Baiklah pak saya mengerti, tapi ada baiknya kalau anak kita ditunangkan dulu”, kata ayah kemudian yang akhirnya diterima oleh semua pihak yang ada di ruang keluarga pada saat itu.

***
Setahun berlalu....
Kak Guna kini telah bekerja di kantor Ayah sebagai ketua HRD dan masih melanjutkan kuliah S2nya di kampusku, sementara Kak Vina pun telah berhasil meraih gaun sarjananya. Pernikahan mereka akan berlangsung satu minggu lagi. Aku yang masih dalam masa libur menjelang semester empat menjadi salah satu orang tersibuk yang mengurusi pernikahan mereka. Nadya yang memang sudah sangat akrab dengan keluarga juga ikut membantuku mengurusi pernikahan Kak Guna, “Kak Guna kan juga kakakku, jadi biarin aja kalau aku pengen bantu-bantu”, katanya beberapa hari yang lalu padaku. Aku dan Nadya sibuk mengurusi masalah dekorasi gedung, susunan acara serta makanan yang akan disajikan nantinya. Tak lupa pula kak Dimas yang kebetulan sahabat kak Guna dari SD yang juga seperti kakak kandungku membantu kami mengurusi pernikahan Kak Guna. Kak Guna terlihat bahagia melihat kami bersemangat mengurusi pernikahannya.

Tiga hari sebelum pernikahan....
Kak Guna mengetuk pintu kamarku, dan kuberikan jawaban untuk masuk. Kak Guna yang melihat aku rebahan di kasur sambil memainkan game di laptopku mengambil posisi duduk si samping ranjang.
“Main game apa Git?”
“Biasa nih, Zombie”, jawabku datar.
“Gita, tiga hari lagi kakak mau nikah”, katanya sembari mengelus-elus rambutku. Itu memang kebiasaan kak Guna ketika tangannya berada dekat dekat kepalaku.
“iya, Gita seneng kok kakak mau nikah. Kak Vina kan orangnya baik banget”, kak Guna kemudian tersenyum.
“kalau kakak udah nikah, kakak akan punya keluarga baru, mungkin kakak akan tinggal berdua sama kak Vina, mungkin disini atau mungkin juga di rumah orangtua kak Vina”
“iya aku ngerti kok”
“kamu gak akan kesepian kan nanti?”, kata kak Guna yang kemudian membuatku tersenyum. Aku bangun dari posisi rebahanku, kutatap wajah kak Guna yang seakan tak rela meninggalkan aku dan Ayah.
“Kakak Gunaku yang paling ganteng, semua orang yang sudah dewasa dan mapan pasti akan menikah. Kak Guna akan menikah tiga hari lagi itu semua sudah keharusan. Kak Guna nantinya tinggal berdua kak Vina itu juga sudah semestinya. Kalau Gita sama Ayah kesepian tenang aja, kan kakak tinggalnya juga di Bandung, jadi kalau kesepian ya tinggal samperin aja. Tenang aja kak, Ayah biar aku sama Bi Inah yang urus, percayain Ayah sama aku” kataku mencoba meyakinkan kak Guna, matanya kini terlihat mengeluarkan tetesan air bening dari ujung matanya. Ia tersenyum lebar padaku dan langsung menarikku kedalam pelukannya.
“Makasih ya Git, kamu memang adik kakak yang paling pengertian. Andai Bunda masih disini mungkin suasanya gak akan kayak gini. Kamu dan Ayah adalah tanggung jawab kakak, jadi sampai kapanpun sebelum kamu menikah akan tetap menjadi tanggung jawab kakak”, katanya kemudian sembari mempererat pelukannya padaku, aku yang mendengar perkataan kak Guna membuatku ikut berlinang juga.
***
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, kak Guna terlihat sangat ganteng dengan pakaian adat sunda yang digunakannya. Begitu juga dengan Kak Vina, parasnya yang anggun membuatnya seakan putri keraton. Aku yang menggunakan kebaya merah duduk tepat di belakang kak Guna yang bersiap untuk berijab kabul. Semua keluarga besar dari keluarga Ayah dan Alm.Bunda ikut serta dalam barisanku, begitupun dengan keluarga besar kak Vina. Setelah kata “sah” diucapkan oleh para saksi, seisi ruangan pun bertempuk tangan dan mengucapkan selamat kepada pasangan baru. Aku yang berada di samping ayah ikut bahagia dengan pernikahan kakakku hari ini, kulihat Ayah berbinar melihat kak Guna dan kak Vina resmi menjadi suami-istri.

Malam harinya acara resepsi pernikahan pun diadakan di salah satu gedung mewah di kota kami. Aku dan Nadya kali ini kembaran menggunakan kebaya coklat keemasan yang membuat kami seperti saudara kandung. Gedung kini telah dipenuhi oleh orang-orang berjas dan berkebaya, tamu yang datang dari teman-teman kantor Ayah, kerabat Ayah dan Alm. Bunda, teman-teman kak Guna dan kak Vina serta teman kampus dan SMAku. “Gita cantik banget, cewek banget deh malam ini”, komentar semua padaku. Aku berdiri di samping Ayah menyambut tamu yang datang ke acara kak Guna, maklum hanya aku wanita di keluarga kecil kami, jadi akulah yang menggantikan posisi Bunda saat ini berdiri di samping Ayah. Kulihat dari jauh Nadya bercakap-cakap dengan orang yang sepertinya kukenal, ya itu Kak Rey dengan jas hitam yang melekat di badannya. Aku langsung berdebar ketika Kak Rey mendekat ke pelaminan dan bersiap untuk bersalaman denganku. Ia terlihat membuka sedikit bibirnya dan tersenyum kepadaku, setelah itu langsung melangkah ke kak Guna dan Kak Vina. Mereka terlihat sangat akrab, dan sampai sekarang aku masih belum mengerti alasan keakraban mereka.

Setelah satu jam berdiri di samping Ayah, kurasakan otot kakiku begitu tegang karna high heels yang kugunakan. Aku meminta izin pada Ayah untuk turun bergabung bersama teman-temanku dan minta digantikan oleh tante Tia, saudara Ayah. Belum sampai aku bergabung bersama teman-temanku, tiba-tiba seorang menarik tangan dan memanggilkan namaku. Sontak aku berbalik dan betapa kagetnya aku ketika orang yang memanggilku adalah kak Rey.
“Gita Mey Adrian ada waktu sebentar?” tanyanya manis padaku.
“Iya kak, ada apa ya?”, aku balik bertanya padanya.
“Kita bicara di luar bisa?”, katanya sambil menunjuk ke arah luar gedung. Aku mengangguk tanda setuju dan kuikuti dia dari belakang. Kurasakan puluhan pasang mata kini mengikuti langkahku dan kak Rey, begitupun Nadya yang langsung memberi kode seakan meneriakkan kata-kata “Semangat ya! Goodluck Git!”, ya Nadya tahu betul bahwa aku sudah lama mengagumi kak Rey ini.

Dalam waktu lima menit sampailah kami di dalam sebuah Fortuner hitam milik kak Rey. Ia mulai membuka pembicaraan
“Pasti kamu heran ya kenapa aku ajakin kesini”
“iya kak hehe ada apa ya?”
“ngak ada apa-apa, pengen ngobrol aja”
“oh”, jawabku seadanya. Aku tak bisa berkata-kata di depannya, kali ini aku kikuk setengah mati.
“Aku sama Guna itu teman SMP, dulu kami sahabatan dan sempat sebangku. Tapi pas SMA kita pisah sekolah. Trus Guna kuliah di UI, dan waktu itu aku kuliah di Jogja jurusan Psikologi. Pas kuliah di Jogja ternyata mama jadi sakit-sakitan karna mikirin aku yang kuliah jauh, akhirnya tahun berikutnya baru deh daftar kedokteran dan lulus, dan akhirnya kita satu kampus”. Aku hanya cengengesan ketika ia melihat ke arahku, aku tetap tak bisa berkata apa-apa saat ini.
“Dan pas ketemu Guna di kampus waktu itu, aku kaget banget karna ternyata kamu adalah adiknya Guna. Gak tau juga ya kenapa bisa kebetulan seperti ini”, lanjutnya kemudian. Ia tersenyum namun hanya menatap ke arah luar mobil, dan masih saja aku terdiam tak berkutik di sampingnya.
“Pasti kamu gak ngerti kan?”, sambungnya.
“iya kak hehe”, dan masih saja aku cuma cengengesan. Diambilnya sebuah buku kecil mirip buku harian dari samping kursinya, dan disodorkannya padaku.
“Nih ambil, tapi bacanya nanti kalau sudah di rumah ya”, katanya kemudian sambil tersenyum manis. Sungguh aku masih belum mengerti. Kak Rey lalu mengajakku untuk turun dan kembali masuk ke gedung.

Puluhan pasang mata yang tadi mengikutiku ketika keluar gedung bersama kak Rey kita kembali mengintai gerak-gerikku setelah masuk ke dalam gedung. Aku dan Kak Rey pun berpisah, ia kembali bergabung bersama teman-temannya. Kulihat ia telah diserbu oleh pertanyaan dari teman-temannya, dan kurasakan mereka mencuri pandang melihat ke arahku. Dan begitupun dengan diriku, Nadya telah terlihat sangat siap untuk mengintrogasiku saat ini, apalagi dengan buku kecil yang kupegang di tanganku. Langsung kukode Nadya untuk tenang dulu dan meminta untuk menyimpankan buku dari kak Rey di tasnya, “entar sampe rumah baru aku ceritain, di sini banyak orang Nad”, anggukannya pun membuatku tenang. Walau Nadya kini telah bisa kuatasi, namun tidak untuk teman-teman kampusku yang lain, mereka semua memberikan pertanyaan yang seragam “Kamu ngapain sama Kak Rey, Git? Sejak kapan kamu akrab sama Kak rey?”, “ngak ngapa-ngapain, dia temannya kak Guna”, kujawab sekenanya dan bergegas untuk meninggalkan mereka.

Setiba di rumah, aku langsung masuk kamar bersama Nadya, malam ini Nadya memang menginap di rumahku, jarang-jarang ia diberi izin menginap di luar oleh orangtuanya. Nadya dengan sigapnya mengeluarkan buku catatan Kak rey sebelum mengganti baju terlebih dahulu, akupun tak kalah penasarannya dengan isi buku tersebut. Dengan hati berdebar-debar aku mulai membuka sampul buku catatan Kak Rey dan betapa kegetnya aku dan Nadya ketika menemukan fotoku sewaktu maba terpajang di halaman pertama buku Kak Rey. Di atas foto tersebut tertuliskan kata “WANTED!” dengan tulisan berwarna merah. Aku sekaan melayang melihat fotoku disimipan oleh kak Rey, tak sabar aku dan Nadya pun membuka untuk halaman berikutnya.

Hari ini kutemukan fotomu di folder pengaderan hihihi kamu tetap telihat manis meski keliatan cemberut gara-gara dikerjain sama si Wira. Sabar yaa.. pengen sih nolongin kamu tapi bukan saatnya J semangat ya kuliahnya!!! (^.^)9

Hey kamu, kok setiap ketemu aku selalu nunduk sih? Kok ngak pernah sapa aku sih? Ayolah sapa dong sapa yaa, pasti deh aku ladenin -_-

Hari ini Wira ngeluarin kata-kata yang betul-betul ngehancurin kelaki-lakian gue. “Kalo dianya ngak nyapa ya lo dong yang nyapa duluan. Lo cowo tulen kan? Lo bukan homo kan Rey?” Kampret!!! Iyalah gue normal! Tapi kok gak bisa-bisa ya nyapa kamu duluan -_-
“Halo Gita Mey Gunawan, mau gak jadi pacarku?”

DAMN!!!!!!!! Nilai C itu tersenyum manis padaku pagi ini. What’s wrong with you Rey? Wake up!!!
Mungkin kali ini aku akan melupakanmu untuk beberapa saat, untuk masa depanku yang kenal menjadi masa depanmu. Keep study hard right now!!!

Hari ini kutemukan sebuah kenyataan yang begitu membahagiakan untukku. Setelah sebulan lebih tak pernah kusentuh buku ini, akhirnya kutorehkan lagi pena pulpenku disini, tentangmu.
Gunawan Adrian, seharusnya aku tahu dari dulu bahwa dia adalah kakakmu, Gita Mey Adrian. Dan berkat hal ini, kutemukan kau tersenyum manis padaku, walau hanya beberapa detik tapi melekat di fikiranku sampai saat ini.

Huuuaaaaaahhhhhhhhhhhhh......... demi apa ya Allah.. selama beberapa jam saya duduk berhadapan dengannya. Thanks banget Guna!!!!!!!!!!!!!!!!!! Lo memang calon kakak ipar yang baik. Demi apapun gue seneng banget malam ini. Wira mana wira?? Huuuuuubbbbaaaahhhhhhh!!!!!!!!!!

Pagi ini kulihat kau melintas di hadapanku, wajahmu seakan ingin memberikan senyuman tapi entah kenapa bibir ini begitu kaku tak bisa dibentuk. Dan lagi-lagi hari ini jadi tertawaan Wira. Nasib yaa nasib -__-

hari ini pertemuan yang ketiga dengan Guna setelah gue tahu kalo dia kakaknya Gita. Kali ini gue udah bilang semuanya ke dia, tentang perasaan gue sama adek semata wayangnya yang gue pendem selama satu semester ini. Apa boleh buat, gue terpaksa jujur ke Guna yang emang basicnya psikolog. Tapi demi apapun gue senang banget ternyata Guna ngasih gue kepercayaan buat deketin adeknya, mungkin karna Guna percaya kalo gue bukan cowo brengsek hehe :D
“Gue percaya kalo lo beneran suka sama adek gue, 3 tahun kenal lo adalah bukan waktu yang singkat buat gue tau sifat lo. Tapi untuk saat ini gue mohon jangan ganggu dia dulu Rey, biarin dia fokus sama kuliahnya. Gue masih bisa jagain dia kok. Gue bakalan ikhlas lepesin dia buat lo kalo nanti gue udah nikah, gue bakal percayain Gita sama lo. Gue percaya lo Rey”
Kata-kata Guna barusan buat gue makin ngerasa cowo banget, gue dikasi kepercayaan sama Guna buat jagain adeknya tanpa harus deket-deket sama dia. Oke gue terima! Demi kebaikan gue, Gita, dan juga Guna! Thanks Gun...

Hari ini adalah hari yang bener-bener gue tunggu dalam hidup gue. Ketika Guna telah berijab kabul, ketika apa yang selama ini gue pendem akan segera gue ucapin. Huuffttttt......... Bismillah.....

Lembaran terakhir ini kupersiapkan untuk tulisan terakhirku untukmu
Tulisan terakhir sebagai kata penutup tentang perasaan terpendamku
Tulisan terakhir sebagai bukti akan memilikimu.
Gita Mey Gunawan,
I think...
I love you!
Kamu mau gak jadi pacarku?

Kutunggu jawabanmu di 085765111***

Seketika kurasakan jantungku berhenti berdetak, aku masih belum percaya dengan apa yang telah aku baca barusan. Perlahan air mataku mulai membasahai pipiku. Ini adalah air mata kebahagiaan, air mata jawaban dari segala perasaanku selama ini. Nadya yang sedari tadi ada disampingku langsung memelukku, menenangkan perasaanku yang kini menjadi tak karuan. Seketika Nadya langsung meraih hpku dan memberikan isyarat agar aku segera memberikan jawaban kepada Kak Rey. Dengan badan yang masih agak bergetar kutuliskan sebuah pesan singkat kepada nomor yang Kak Rey cantumkan dalam bukunya, “I think, I love you too kak Rey”. Tiba-tiba sebuah panggilan dari nomor kak Rey masuk ke dalam handphoneku. Segera kutekan tombol answer.
“Gita, bisa keluar sebentar gak? Aku ada di bawah, di depan rumah kamu”, dengan segera aku berlari turun dan keluar menemui kak Rey. Kulihat ia begitu sumringah menantiku yang masih menggunakan baju kebaya, begitupun ia yang masih dengan jasnya. Sebuah bunga mawar merah kini berada dalam genggamannya. Aku mendekat dan mulai mengeluarkan kata-kata.
“Kak Rey sebenarnya Gita juga suka sama Kak Rey, dari dulu, dari waktu Gita masih maba. Gita gak nyangka ternyata perasaan Gita gak bertepuk sebelah tangan, Gita sayang sama Kak Rey”, kuakhiri kata-kataku dengan air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Kak Rey langsung menarikku dalam pelukannya, “Jangan nangis, aku ada disini buat kamu, aku sayang kamu Git”. Perlahan kak Rey mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku celananya, kemudian ia memakaiankan cincin itu pada jemariku. Aku sangat terharu dan tak henti air mataku mengalir dari ujung mataku. Penantianku selama ini akhirnya happy ending. Aku percaya, Allah akan memberikan jawaban yang terbaik untuk hamba-Nya yang bersabar. Kebahagiaan hari ini bukan hanya untuk Guna dan kak Vina, tapi juga untukku dan untuk Kak Rey.
Bunda.. apa kabarnya Bunda disana? Hari ini Gita sangat bahagia Bunda.. Bunda juga bahagiakan? Bunda.. suatu saat nanti kita akan berkumpul kembali sama Ayah, sama Kak Guna. Gita kangen Bunda, Gita sayang Bunda...

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang