Sunday, 6 January 2013

Dan Hujan Mengingatkanku


Pagi ini matahari tak menampakkan sosok sinarnya, awan pun bersedih karenanya. Tak lama tetesan air hujan mulai membasahi reranting pohon, dan sepertinya angin senada dengan ditiupkannya pepohonan yang kini menari di halaman rumahku. Aku masih menatap ke luar jendela, memperhatikan setiap titik hujan dari ujung genteng rumahku, menerawang jalan yang kini sepi, menatap langit yang mungkin tak indah lagi. Aku menghela nafas panjang.
Perlahan kupejamkan mata, sesaat terlintas sebuah sosok yang begitu ku kenal, yang sudah hampir seminggu tak kujumpai. Aku tetap memejamkan mata, merasakan alunan indah gemercik hujan yang kini membawaku ke alam khayalku. Wajahnya terlihat begitu jelas, senyumannya yang khas begitu nyata kurasakan, aku tersenyum dalam hujan yang terdengar semakin mengguyur.
Aku membuka mata, kembali menerawang ke halaman rumah dan kemudian seisi kamarku. Mataku terpaku pada sebuah jaket hitam yang kini bergelantungan di belakang pintu kamar, air mataku menetes perlahan seirama dengan tetes hujan yang masih dengan setianya membasahi bumi.
Aku melangkah tertatih mencoba meraih benda yang kini tak lepas dari pandangan mataku. Semakin dekat dan semakin kurasakan air mataku menetes dengan derasnya. Kuraih jaket hitam itu, kurasakan bau badan pemiliknya yang masih begitu melekat, aku makin tak kuasa, air mataku semakin menjadi. Kini apa yang sedari tadi tak lepas dari tatapan mataku telah berada dalam dekapanku, perlahan ragaku tumbang, aku semakin terbawa dalam suasa hati yang tak karuan lagi.
“Ini buat kamu saja. Cuaca sedang galau, kamu jangan sampai sakit ya” itulah kalimat terakhir yang diucapkan Kakak sebelum Tuhan memanggilnya kembali. Kecelakaan maut yang merenggut nyawanya begitu membekas di hatiku. Andai saja kakakku bukan pembalap, andai saja tak ikut balapan liar, andai saja tak dikejar polisi, andai saja tak melanggar lalu lintas, dan andai saja tak menabrak trotoar jalan, mungkin ia masih disini, bersamaku, menikmati indahnya hujan, menikmati sejuknya cuaca. Aku tahu semua adalah takdir Tuhan, aku harus belajar merelakan kepergiaan saudaraku satu-satunya.
Selamat jalan Kak, semoga kamu tenang di sisi-Nya. Aku, Ayah dan Bunda akan selalu mencintaimu.

2 comments:

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang