Sunday, 6 January 2013

Ratu Hibernate (Last Season)

Hari ini ada yang sedikit beda dari hari biasanya, aku bisa tersenyum lebar hari ini, menikmati kembali hari-hari bahagiaku yang lama yang kurasakan lagi. aku mengambil handphoneku, mencari nomor Iyan dan memintanya untuk segera mengantarkanku ke sekolah. Ya, setelah kejadian semalam, aku telah berpikir panjang mengenai perasaan Iyan kepadaku, tekatku telah bulat, aku memilihnya.
Mama yang melihatku begitu ceria pun tak segan mempertanyakan keadaanku pagi ini, aku hanya tersenyum sembari menjawab bahwa aku baik-baik saja. seragam putih abu-abuku kini telah melekat di tubuhku, rambutku telah kusisir rapih, sarapan pun telah menanti di atas meja bersama kedua orangtua yang begitu kucinta, kini kehidupan normalku telah kembali. semuanya sempurna!

tak lama kudengar suara klakson mobil Iyan, aku bergegas menyalami kedua orangtuaku dan segera ke luar. Iyan hari ini terlihat sangat manis, kacamatanya pun terlihat lebih kece hari ini. aku memberikan senyuman terbaikku hari ini. "Yuk berangkat", ajakku. ia hanya tersenyum dan mulai menyalakan mesin mobilnya.

jalanan hari ini pun begitu sangat bersahabat denganku, tak begitu padat, mobil Iyan bisa melaju dengan normal.
"kok hari ini ceria banget sih non? ada apa?" tanyanya kemudian membuka percakapan.
"mau tau aja ato mau tau banget?"
"mau tau banget deh non"
"ciyus?"
"enelah qaqa"
"kasitau nggak ya?"
"idih si ababil kumat nih", Iyan mulai tertawa sambil mengacak-acak rambutku yang kusisir rapih tadi pagi, aku sok ngambek namun kemudian tertawa melihat Iyan yang begitu lepas hari ini.

setelah Iyan menurunkanku di depan gerbang sekolah, aku bergegas masuk kelas setelah kulihat jam tanganku kini menunjukkan 07.12 pagi, 18 menit lagi pelajaran akan dimulai. aku masih tetap dengan auraku sedari tadi yang begitu berbinar, tak sedikit temanku yang menanyakan keadaanku. tiba-tiba Diaz telah ada tepat di sampingku, aku berusaha bersikap biasa padanya saat ini. dan seperti teman yang lain, ia pun menanyakan keadaanku hari ini.
"lo kenapa? kok girang gitu?"
"ada deh"
"apaan sih? bikin penasaran aja"
"hmm Di, gue pengen bilang sesuatu sama lo"
"ngomong aja lagi Dis"
"gue udah jadian sama Iyan. bagaimana menurut lo?", kini kurasakan wajahku agak sedikit merona. Diaz menataoku dalam, matanya kini begitu tajam. aku tak bereaksi apa-apa, hingga ia menjawab pertanyaanku.
"oh ya? kapan?", suaranya kedengaran agak serak, dan sekilas kutangkap matanya sedikit berkaca namun ia buru-buru mengalihkan padangan.
"baru aja"
"kapan?"
"sebelum dia nurunin gue di depan gerbang sekolah. dia nembak gue trus ngasih cincin", aku tersenyum dan memerlihatkan cincin yang melingkar di jari manisku. Diaz kini kembali terdiam, kini ia tertunduk, akupun tanpa gerakan hanya memperhatikan pundak Diaz yang seperti membungkuk. ia kembali berbicara lagi
"selamat ya Dis, semoga dia yang terbaik buat lo.." kini kutemukan ada setitik air di ujung matanya, ya Diaz menangis dan aku tetap tanpa pergerakan. "Diz, sebenarnya gue Sinichi Kudo yang sering komen di blog lo, gue tau dari awal kalau Ratu Hubernate itu lo. gue pura-pura ngak tau karna gue pengen lo selalu nulis tentang gue, tapi belakangan ini gue liat lo sering banget galau dan gue udah ragu itu buat gue ato cowo lain. maaf Dis, gue tau lo suka sama gue, gue juga begitu. tapi sayangnya gue gak punya keberanian buat nyatain itu ke lo. bukan karna gue homo, gue cuma ngak ingin suatu saat gue kehilangan lo kalau hubungan kita kenapa-napa".
aku tersenyum mendengar pengakuan Diaz pagi ini, bukan senyum pembalasan dendam pada sikap Diaz tempo hari, tapi senyum tulus dari seorang sahabat yang begitu bangga sahabatnya. aku langsung merangkul Diaz, mencoba menenangkannya. "Diaz sumpah demi apa gue seneng banget dengar penjelasan lo barusan. tapi setelah kenal dengan Iyan, gue sadar lo emang cocok jadi sahabat gue aja. kita gak bisa jadi satu, Iyan lebih ngertiin gue sebagai wanita yang dicintainya, dan lo ngertiin gue sebagai sahabat lo. thanks Diaz gue seneng banget". kelakuan kami berdua di kelas ternyata mengundang pergatian dari teman-teman sekelas kami, mereka heran melihat tingkah kami yang bagaikan pernah terpisah jauh. aku dan Diaz hanya tertawa melihat mereka semua.

*flashback kejadian di mobil
"Yan, depan skolah gue ya" kataku ketika melihat tembok sekolah.
"Iya iya tau kok". iyan kemudian menepikan mobilnya ketepi jalan depan gerbang. namun tiba-tiba ia menahanku sebentar untuk mengambilkan sesuatu di bagasi kecil bagian depan mobilnya. "Dis, tolong ambilin kotak di bagasi depan kamu dong".
"Yang ini?" kataku mencoba membenarkan barang yang kupegang.
"Iya, coba dibuka".
aku terbelalak melihat sebuah cincin dengan permata indah di atasnya berada dalam kotak tersebut. "ini buat siapa? cantik banget"
"kamu suka?"
"iyalah, cewe mana ada yang gak suka perhiasan"
"yaudah ambil aja, itu buat kamu", ia tersenyum manis padaku, kedua lesung pipinya kini terlihat sangat jelas. aku terdiam tak tahu harus berkata apa. kemudian Iyan melanjutkan kalimatnya, "Diz, ucapan aku semalam itu tulus, aku beneran suka sama kamu. aku sengaja siapin cincin itu buat kamu, sebagai tanda aku serius sama kamu", aku masih tak bersuara, namun ekspresiku kini berubah, wajahku kurasakan mulai memerah "Ich liebe dich. seitdem ich kenne Sie zuerst sicher f├╝hlen mit ihm. kamu mau nggak jadi pacarku?" kini aku tak terdiam lagi, wajahku kini telah hampir meledak karna merahnya "Iyannnnnnn aku juga sayang sama kamu..................................."


TAMAT

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang