Tuesday, 12 February 2013

28 Januari 2013


Untuk postingan kali ini, aku sengaja hanya memasukkan tanggal terjadinya sebuah peristiwa yang masih terngiang-ngiang di pikiranku sampai saat ini, sampai tanggal 3 Febuari 2013 tepatnya, tepat satu hari sebelum kuliah perdana semester VI dimulai, ketika aku saat ini menjadi satu-satunya manusia yang berada di lantai satu kosanku.
Tanggal 23 januari 2013, dengan segala keterpaksaan aku dan Bibehnye (Sapaanku pada sahabatku, Sundari) harus ke Makassar demi mengurus KRS yang katanya apabila ada mahasiswa yang tidak mengisi KRS tersebut, maka dengan senang hati akan diberikan libur selama satu semester *ironis
Dua jam perjanan, kami pun berhenti di Bank BTN Sungguminasa, ternyata Bibehnye belum membayar SPP yang sama pentingnya dengan KRS itu, setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, dari depan Balla’ Lompoa ke belakang Balla’ Lompoa, Bibehnye pun mendapatkan slip pembayaran SPPnya yang akan diberikan pada bagian Tata Usaha Kampusnya.
Kami melanjutkan perjalanan hari itu dengab makan, ngadem di mall, nge-charge hp di XXI, dan Unhas (kampus bibehnye), hingga akhirnya kembali ke kosan dengan tangan hampa. KRS tak bisa diurus saat itu, begitu juga dengan KRS Bibehnye. Pilihan bijak saat itu adalah tidur. Sedangkan keesokan harinya 24 Januari yang ternyata adalah hari libur, kami isi dengan seharian nongkrong di mall dan tempat karokean. Sungguh kami berdua bagaikan ratu minyak yang menghambur-hamburkan uang orangtua -_-
Jumat, 25 januari 2013, aku dan Bibehnye telah sepakat untuk menyelesaikan urusan kampus masing-masing, kami berpisah tepat di portal kompeks kos-kosanku, segala berkas yang akan dilampirkan telah kami siapkan sejak semalam. Setelah menunggu beberapa lama di kampus, 50% dari pengurusan KRS telah selesai, tanda tangan PD I dan kajur telah di tangan, namun sayangnya Pembimbing Akademik yang selama ini kuagung-agungkan tak dapat ditemukan batang hidungnya hingga pukul tiga sore. Begitu juga dengan Bibehnye, usahanya hari ini tak membuahkan hasil sedikitpun. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk tetap stay di Makassar sampai hari senin nanti HOAMS!
Sabtu 26 Januari berlalu, minggu 27 Januari juga tak begitu spesial bagiku dan Bibehnye, tak ada jalan-jalan, tak ada nonton di bioskop, pokoknya tak ada untuk dua hari itu. Hinggal tanggal yang ditunggu pun tiba, 28 Januari 2013 tepatnya hari senin, aku dan Bibehnye untuk yang kedua kalinya mempunyai semangat membahana untuk menyelesaikan KRS hari itu juga dan segera kembali ke Jeneponto untuk menyelesaikan libur yang hanya tersisa satu minggu lagi. Seperti biasa, kami berdua berpisah tepat di depan portal kompleks.
Pukul 2 siang, setelah usaha yang cukup menguras tenaga memburu tanda tangan dari pembimbing tercinta, akupun kini tersenyum lega karna rencana pulang kampung hari ini sepertinya akan sukses. Namun tidak untuk Bibehnye, lagi-lagi kendala dalam pengurusan KRSnya, tapi ternyata semangat pulang kampung Bibehnye mampu mengalahkan semangat menyelesaikan KRSnya yang akan menentukan hidupnya di semester II ini, ya Bibehnye ini adalah MABA. Ia lebih memilih untuk menganggur setahun dibanding kuliah di PTS dan masuk ke PTN idamannya tersebut.
Setelah berhasil menghabiskan 2 chicken burger dan 1 mocca float, kami berdua dengan semangat 45 bergegas untuk ke terminal, kuperhatikan jam di hpku waktu itu menunjukkan pukul 5 sore setelah kami telah berada di sebuah mobil angkutan umum jurusan Bulukumba. Pak sopirnya kulihat tak begitu tua, di sampingnya duduk seorang ibu-ibu dengan balita dipangkuannya, sementara di samping kanan Bibehnye ada sepasang kakek dan nenek yang baru saja liburan di rumah anaknya di Kalimantan, hal ini kuketahui ketika dengan terpaksa mendengar mereka mengobrol dengan suara yang cukup keras menurutku.
Memperhatikan busana kami yang masih tertutup rapi, Pak Sopir kemudian bertanya, “Mahasiswa ya Dek?”, “Iya Pak”, jawab kami hampir serentak. “Sekarang memang susah Pak kalau tidak kuliah, cari kerjanya pasti susah. Anak saya saja harus nyebrang pulau demi cari pekerjaan, di Makassar sih susah cari kerja”, sambung tiba-tiba kakek di sebelah Bibehnye. Aku dan Bibehnye waktu itu hanya terdiam, tersenyum mendengarkan percakapan mereka berdua, menanggapi fakta-fakta yang real terjadi di masyarakat. “Ini anak saya kalau mau kuliah di Makassar juga ya nak ya? Pokoknya harus kuliah di Makassar juga, supaya jadi orang pintar kayak kakak yang di belakang itu. Biar dikata Bapak miskin, biar dikata Bapak cuma sopir, biar juga harus mengutang tapi nanti kau kalau besar harus jadi Mahasiswa nak ya? Harus jadi orang hebat, harus bisa jadi kebanggan orang tua”, Ujar kemudian Pak Sopir dari kursi depan. Aku refleks kaget dan menoleh kepda Bibehnye, sepertinya apa yang kupikirkan sama dengannya. Kami berdua kemudian tersenyum, mencerna baik-baik perkataan Bapak tadi. “Ini anak saya satu-satunya, istri saya sudah tidak bisa hamil lagi Pak Haji, makanya anak saya ini harus jadi orang sukses, tidak boleh kayak bapaknya yang cuma tamatan SMP, tidak boleh kayaknya Mamanya yang cuma tamatan SD. Pokoknya saya rela banting tulang Pak Haji demi sekolah anak saya nanti”, sambungnya kemudian. Aku yang waktu duduk di dekat jendela, sengaja menoleh ke luar jendela, menyembunyikan tumpukan air yang kini menggenang di ujung mataku. Setika aku merasa malu pada diriku sendiri, aku merasa berdosa kepada kedua orangtuaku. Aku yang dengan beruntungnya dapat kuliah tanpa hambatan di jurusan yang kuinginkan, dengan bangganya menghambur-hamburkan uang mereka, dengan tak berperasaan bilang “Malasma kuliah” pada orangtua ketika tugas kampus begitu menyita waktu bersenang-senangku. Aku menghela nafas panjang, kuusap air mataku dengan jilbabku yang terjuntai, kubuka galeri handphone dan kupandangi foto orangtuaku begitu lama, aku tersenyum memandang wajah mereka, alasanku untuk hidup dan alasanku untuk sukses semata-mata untuk membahagiakan mereka, mereka kedua orangtuaku, Ayah dan ibuku tercinta.
Hari itu aku berhasil disarkan oleh seorang Pak Sopir yang bahkan tak kukenal, berhasil mengingatkanku pada tujuan awal hidupku merantau ke Makassar. Aku berpikir sejenak, mengingat IPku yang menurun dua semester terakhir ini. Ini memang salahku, salahku yang tak bersungguh-sungguh untuk kuliah, salahku yang kadang tak mendengar nasihat orangtuaku.

1 comments:

  1. jadi Ingat jg salah satu kisah pribadi yang terjadi beberapa tahun yang lalu mengenai kesadaran betapa susahnya kedua orang tua memberikan fasilitas untuk pendidikan anaknya

    ReplyDelete

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang