Tuesday, 12 February 2013

DAN SETELAH HARI ITU



Aku bergegas lari meninggalkan kelas setelah menerima telepon dari bunda yang tak mengeluarkan sepatahkata pun, suara bergetarnya begitu membuatku panik sehingga membuat aku harus meminta izin untuk kembali ke rumah. Pertanyaanku yang berbunda menggebu tak menghasilkan informasi sedikitpun. Aku melewati puluhan orang yang menyapa dan tersenyum manis padaku ketika berjalan mengarungi koridor sekolah, namun saat ini sungguh tak dapat aku menolehkan wajah pada mereka, tujuanku saat ini hanyalah parkiran, dimana fiesta merahku biasa kuparkir. Setidaknya aku bersyukur karena jam masih menunjukkan pukul setengah sebelas, sehingga mobilku dapat dengan mulus mengitari jalan AP Pettarani yang merupakan salah satu jalan utama di kotaku.
Kupinggirkan mobilku di depan sebuah rumah bercat abu-abu dengan paduan warna hitam, pagar yang menjulan tinggi membuat aku tak dapat menyaksikan kerbundatan yang terjadi di dalam rumah tersebut. Aku segera keluar dari mobil dan membuka pagar rumah tersebut, kutemukan bunda tengah meraung-raung dalam pelukan ayah. Semua mata sontak tertuju padaku ketika mulai kupijakkan kaki di teras rumah, dan lima pasang mata dari mereka begitu asing kurasakan kehadirannya. Badannya tinggi dan kekar, potongan rambut mereka hanya memiliki dua macam, yaitu botak dan gondrong, salah satu dari mereka membetakku ketika mataku mengamati mereka satu persatu dari ujung kaki ke ujung kepala, bunda yang melihatku dalam kondisi sangat kebingungat pun tumbang dalam pelukan ayah. Aku langsung lari kearahnya, mencoba menyadarkan bunda yang terlihat begitu pucat, ayah pun kelihatan tak berdaya sementara aku masih dalam keadaan tak mengerti. “Ada apa ini? Siapa orang-orang ini?” kata-kata itulah yang terus ada dalam benakku namun tak tanyakan pada ayah, aku hanya menangis meratapi bunda yang tak kunjung sadar. Lima orang asing yang berada di rumah saat itu dengan sendirinya meninggalkan kami tanpa mengucapkan sepatahkata pun, ayah langsung menggendong bunda masuk ke mobilku dan segera melarikan bunda ke rumah sakit.
Aku duduk termenung di depan ruang UGD seorang diri, ayah kini sedang menghadap ke dokter membicaran kondisi bunda saat ini. Otakku masih saja kusut memikirkan hal ini, sungguh aku tak dapat mengerti apa yang sedang menimpa keluarga kami. Ayah tiba-tiba sudah ada di sampingku, ia mulai merangkulku dan matanya kelihatan menerawang ke langit-langit rumah sakit, kutemukan setitik air bening dibalik lensa kacamata yang kini bertandang di kedua hidungnya. “Kamu pasti heran ya dengan apa yang terjadi barusan?”, aku hanya mengangguk mengiyakan tak bersuara. “Lima orang tadi yang ada di rumah kita adalah orang suruhan Pak Deni teman bisnis ayah. Beberapa bulan yang lalu ayah dan Pak Deni punya proyek bersama, ayah mengeluarkan banyak uang waktu itu bahkan terpaksa mengutang juga pada pak Deni karna proyek ini adalah proyek yang besar. Tapi karna suatu hal, proyek itu ternyata gagal, ayah dan pak Deni sama-sama kehilangan uang yang sangat banyak, dan karna kehabisan uang itulah sehingga pak Deni segera menagih utang ayah padanya. Maaf ya nak, ayah bikin kita semua jadi menderita seperti sekarang”. Penjelasannya yang panjang lebar begitu menyayatku siang ini, adakah hal yang paling menyakitkan selain kehilangan uang? Kehilangan uang membuat kita kehilangan tahta, kehilangan uang membuat kita kehilangan teman, kehilangan uang membuat kita dikucilkan dalam pergaulan, dan kehilangan uang akan menghilangkan kebahiaan yang selama ini kita rasakan. Aku terdiam lama, mencoba memfungsikan pikiranku yang sudah seperti bedang kusut, mencoba memberikan jawaban terbaik pada ayah, sebagai anak kesayangannya, sebagai putri satu-satunya. “Jadi intinya ayah bangkrut kan?” tanyaku mencoba memperjelas cerita panjang lebar ayah barusan, ia hanya mengangguk sembari mencoba memberikan senyum termanisnya padaku, “mobilku kalau dijual laku berapa Yah? Rumah kita duanya juga bisa laku berapa? Villa ayah kalau dijual kira-kira berapa? Mobil ayah sama bunda juga laku berapa? Ipad, bb, laptop, camera, pokoknya semua koleksiku kalau dijual bisa tidak menebus hutang ayah?” akupun mencoba menjabarkan segala yang ada di pikiranku saat ini, sontak ayah langsung memelukku, kurasakan air matanya berhasil membasahi seragam pundak seragam SMAku. Tangannya mengusap kepala dan rambut panjangku yang selalu kurawat dan setia menjadi langganan salon mahal di kotaku dan badan ayah kurasakan bergetar menahan tangisnya, kini aku yakin betapa perih hati ayah saat ini, inilah pertama kalinya kutemukan ia menangis, setelah 17 tahun bersamanya. Ia mulai mengeluarkan kata-kata lagi, walaupun saat ini kedengarannya akan sedikit bergetar, aku mencoba menenangkan ayah, mengelus bagian belakang tubuhnya. “Terima kasih sayang sudah mau mengerti, maaf ayah membuat kamu harus kehilangan semuanya. Kita hanya bisa menyisahkan satu rumah saja, rumah yang agak kecil yang ayah beli dua tahun lalu. Kamu tidak apa-apa kan? Kamu tidak malu kan nak tinggal di rumah kecil? Kamu tidak malu kan kalau tidak pake mobil lagi? Kalau hapenya diganti yang sedikit lebih murah?”, kalimatnya barusan membuatku hampir tumbang juga dalam pelukannya, tapi ini takdir Tuhan, keluargaku lebih penting, keselamatan bunda lebih penting. Kuanggukan kepalaku tanda setuju dengan apa yang dijabarkan ayah. Sekarang aku tak  bisa berkata-kata lagi. Inilah awal kehidupan baru seorang putri tunggal pengusaha kaya di kotaku Bandung tercinta.


Namaku Andita Azzahra, seorang putri tunggal dari pengusaha kaya raja di kota Bandung. Usiaku sekarang baru 17 tahun, yang merupakan tahun kedua di bangku SMA, sebentar lagi aku akan memijakkan kaki di kelas XII. Banyak yang bilang aku sangat mirip dengan bunda, hanya saja bunda terlihat lebih anggun karna menggunakan jilbab, sedangkan aku jangankan jilbab, untung menggunakan pakaian lengan panjang pun aku ogah-ogahan. Aku punya banyak teman, namaku dikenal hingga ke sekolah-sekolah lain di Bandung, selain parasku yang cantik dan anak dari seorang yang kaya raya, aku juga terbilang cukup gaul untuk anak Bandung. Rokok, miras, tempat clubbing bukanlah hal yang tabu bagiku, padahal jika dipikir aku hanyalah anak perempuan yang berusia 17 tahun. Walaupun begitu, aku bukanlah orang yang hobby ber-feeseks, karna aku adalah orang yang cukup pemilih, sampai saat ini aku bisa mempertahankan kesucianku. Aku bisa dibilang berbeda dengan teman-teman sepergaulanku yang memang cukup makan garam dengan hal begituan, oleh karena itu tak heran jika aku menjadi incaran laki-laki segala jenis pria di luar sana, dari yang alim hingga yang bejad mereka ingin memilikiku. Walaupun aku memiliki pergaulan yang salah, tapi aku tetap bisa bergaul dengan teman-teman hijabers di sekolahku, mereka bilang aku cerdas sehingga dalam kelas aku dan para hijabers sering berdiskusi tentang pelajaran, maklum sekolahku ini adalah sekolah ternama dan favorit di kotaku, tak semua orang bisa seberuntung diriku. Orangtuaku tak pernah tahu akan kelakuanku yang suka clubbing, merokok dan minum miras, hal ini dikarenakan teman-teman bergaulku juga memiliki paras yang cantik dan kalem sepertiku jadi orang-orang akan tetap menganggap kami adalah seorang princess, namun tidak untuk orang-orang yang sering kami temui di tempat clubbing tersebut. Kedua orangtuaku bagaikan malaikat dalam hidupku, mereka jauh berbeda denganku. Bunda yang berjilbab selalu rutin ikut serta dalam kegiatan sosial dan pengajian di mesjid kompleksku, sedangkan ayah yang namanya tersohor sebagai orang kaya raya tetap tak lupa melakukan kewajibannya sebagai seorang hamba Allah, ia tak bernah lupa untuk sholat lima waktu, selalu mengeluarkan zakat jika mendapat rejeki berlimpah dan menjadi donatur tetap di sebuah panti jompo dan panti asuhan di kotaku. Mereka juga tak sombong, orangtuaku sangat berbakti kepada kakek dan nenek di kampung, mereka selalu mengirimkan uang kepada kakek dan nenek setiap bulannya, dan tak lupa untuk saudara dan keponakannya. Pokoknya orantuaku adalah orang terbaik yang pernah kukenal, mereka segalanya bagiku, malaikat dalam hidupku, dan akupun akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan mereka, sebagai orang yang kucintai, sebagai orang yang kusayangi, dan sebagai orang yang munkin akan kusembah selain Allah.


Dan setelah hari itu, semuanya berubah, berubah menjadi menakutkan bagiku. Kompleks baru yang hanya memiliki satu satpam dan menjaga hanya saat malam hari saja, kamar yang menjadi semakin sempit, tempat tidur yang agak kecil, tak ada mobil lagi, hanya menyisakan satu buah sepeda motor matic berwarna putih, tak ada sofa empuk, dan ada TV dalam kamar, kamar mandi yang ber-shawer, meja makan yang kecil, halaman yang sempit, dan para tetangga yang sepertinya begitu KEPO terhadap hal-hal kecil. Sungguh ini bagaikan mimpi bagiku! Hanya satu hal yang tidak berubah terhadapku, merekalah orangtuaku. Senyuman mereka setiap pagi menyambutku seperti ketika kami masih kaya raya, perhatian mereka sedikitpun tak luntur padaku, dan ibadah mereka pun semakin bertambah kusyuk, aku bahagia akan hal itu!
Ayah mengantarku tepat di depan gerbang sekolah, semua mata sontak tertuju padaku, aku menyalami ayah yang kemudian melaju dengan matic putihnya. Kurasakan semua pasang mata memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut, aku mulai tertunduk, jujur saja aku malu dengan keadaanku yang sekarang yang tak lagi glamor, tak lagi gaul. Ketika memasuki kelas, semuanya pun sedikit berbeda, mereka hanya menatapku dan berucap sepatahkata pun, aku tahu diri, semuanya telah tahu bahwa aku bukanlah yang dulu lagi. Teman sebangkuku yang merupakan sepergaulanku dulu kurasakan sedikit menjauhiku, ia mulai memisahkan tempat duduk agak jauh dariku, alasannya karna matanya mulai rabun jadi ingin duduk di depan sehingga membuatku harus duduk sendirian. Kurasakan beberapa teman lelaki yang dulu pernah mengejarku terlihat sinis padaku, ia seakan puas melihat aku yang sekarang, bibirnya tersumbing seakan meremehkanku. Aku tak berdaya, aku menunduk tak berani menatap teman-teman kelasku. Ditambah lagi dengan orang-orang yang pernah menjadi sainganku di sekolah, mereka terlihat begitu bagaia di atas penderitaanku yang sekarang. Tiba-tiba Fahira salah satu dari anak hijabers meminta izin untuk duduk di sampingku, akupun tersenyum mengiyakan permintaan Fahira. Setidaknya aku masih mempunyai teman, meski itu hanya satu J
Jam istirahat, aku tidak melakukan rutinitasku seperti hari sebelumnya untuk segera ke kantin, aku kanya di kelas menyantap bekal yang dibuaatkan bunda dari rumah, walaupun agak aneh tapi aku memang harus terbiasa dengan keadaanku yang sekarang. Setelah kuhabiskan makananku, kukeluarkan handphone-ku dan kuchat salah satu sahabatku yang selalu menjadi teman dugemku dulu, Citra namanya. Aku mulai menanyakan kabar padanya, bbmku terkirim dengan sukses, dibaca dengan lancarnya, dan tak dibalas olehnya. Kukirimkan dua ping kepadanya, namun tetap dengan reaksi yang saya, aku mulai jengkel yang mengirimkan puluhan ping yang berhasil dijawabnya dengan begitu kasarnya, “Woiii!!! Lo jangan bbm2 gue lagi TAIKKKK!!!! Lo bukan teman gue, ngerti lo!” dadaku begitu sesak, sungguh sebelumnya aku tak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini darinya. Seorang sahabat yang begitu kupercaya, sahabatku sejak SMP. Yang mengenalkanku indahnya dunia luar, indahnya bergaul, indahnya bersenang-senang. Kini ia tega meninggalkan ketika dalam keadaan terpuruk. Sungguh, saat ini aku yakin bahwa uanglah segalanya!
Tak kusangka air mataku mulai menetes dari ujung mataku, perlahan turun dengan derasnya bersamnaan dengan hujan yang mengguyur siang ini. Aku merasa tersudutkan, tak ada lagi orang tang bisa kupercaya saat ini. Air mataku metesi rok abu-abuku , membentuk titik-titik lingkaran kecil yang bertumpuk, aku serasa ingin menghilang dari dunia ini, melupakan segala kekacauan yang terjadi dalam hidupku, melupakan semua orang yang kini membuatku sakit hari, dan semua orang munafik yang pernah begitu kusayangi. Sekarang aku butuh Allah! Sungguh aku membutuhkan-Nya! Fahira tiba-tiba terlihat berdiri di pintu kelas, ia menatapku prihatin dan segera menghampiriku, aku tak berani menatapnya, kuarahkan pandangan tetang ke bawah meja sehingga air mataku dengan mulusnya tetap terjatuh ke rok abu-abuku. Fahira menanyakan keadaanku, aku tak bisa menjawab, badanku bergetar kemudian, Fahira langsung memelukku, mencoba menghentikan tangisanku yang semakin tumpah dalam pelukannya, dielusnya bagian belakang badanku sama halnya yang aku lakukan kemarin pada ayah. Aku terisak begitu dalam, kini aku betul-betul dalam keadaan terpuruk.

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang