Wednesday, 20 February 2013

Selamat Tinggal Cinta Pertama


Kutulis ini saat tersedih
Menunggu dirimu yang tak bersalah terpisah karna keadaan..
Selamat tinggal cinta pertama
Mengisi waktuku memberi rasa tak terlupakan

Selamat Tinggal Cinta Pertama dari Flanella masih mengalun indah dari winamp laptopku, ini untuk kelima kalinya ku klik pilihan repeat. Yah, lagu ini menjadi lagu favoritku semenjak hubunganku dengannya kandas di tengah jalan. Cukup menyesakkan memang mengingat hubungan kami telah berusia 2 tahun 6 bulan.

Dia adalah seorang wanita paling berbeda dari yang ku kenal, tak seperti dengan wanita lainnya, dia bisa membuatku tertarik dengan sekali menatapnya. Mungkin bukan cuma aku, semua lelaki pun akan berpikiran sama denganku. Parasnya yang cantik nan ayu akan siap membuat semua mata laki-laki terpaku hanya padanya. Termasuk aku, aku yang waktu itu hanya kebetulan lewat depan rumahnya yang tetanggaan dengan warnet langgananku.

Aku seorang mahasiswa tingkat II di salah satu Universitas ternama di kotaku, orang-orang di fakultasku mengenalku dengan sebutan Hari (nama samaran), aku bukanlah tipe mahasiswa yang gila kegiatan kampus, bukan pula mahasiswa yang suka mengeksiskan diri, namun tak perlu ditanya, tak sedikit yang tahu tentang aku jika hanya dalam lingkungan kampus saja. Hal ini dikarenakan IPku yang memang luar biasa. Dengan penampilan yang biasa saja dan dulunya tidak bersosialisasi dengan orang-orang sekitar, cuek dan tidak mau tahu dengan urusan kampus, mempunyai teman-teman yang cukup gaul semasa SMA dengan alkohol dan rokok menjadi cemilan kami, semua menjudge bahwa aku mungkin 1 dari sekian banyak remaja frustasi di dunia ini. Tapi jangan salah, hari ini, aku berani berkata "Don't judge a book by the cover", karna ini benar terjadi padaku.

Aku mengenalnya saat pertama memasuki bangku SMA, waktu ini karna hari libur dan suasana rumah sedang penat, aku berinisiatif untuk ke warnet yang ada di kompleks rumah, kebetulan ini juga menjadi langgananku setiap minggunya. Ketika hendak memarkir motor di pekarangan warnet tersebut, tanpa sengaja aku melihat sesosok gadis yang begitu cantik menurutku, aku tak berkedit selama 5 dekit menatapnya waktu ini dan aku simpulkan aku tertarik padanya! Setelah memasuki warnet, aku memilih komputer yang berdekatan dengan server, aku mulai bertanya-tanya pada empunya warnet tentang gadis di samping warnetnya, dan dari dialah aku tahu bahwa gadis itu penghuni baru di kompleks kami, dia baru pindah minggu lalu.

Keesokan harinya, sepulang sekolah aku mengunjungi warnet itu lagi, dan hari ini aku berniat untuk mengajak gadis tersebut berkenalan, sifat kelaki-lakianku kini berkoar di usiaku yang masih 15 tahun. Setelah hampir 3 jam mengeram di depan komputer, tiba-tiba gadis tersebut masuk dan mengambil posisi tepat di sebelahku, untuk pertama kalinya aku merasakan debaran jantung yang begitu memburu. Tiga jam pas kuhentikan permainan game onlineku, aku bergegas ke server untuk membayar, dan penjaga warnet sepertinya tahu apa yang kini menjadi fokus mataku, ia tertawa dan berteriak ke gadis itu, "Rin, nomor hpmu berapa dek? Ada yang minta tuh" aku langsung kikuk setengah mati, kuperhatikan gadis itu hanya tersenyum dan kemudian memberikan secarik kertas kepada penjaga warnet yang ternyata bertuliskan nomor hpnya. "Uuuuusyaaalaaalaaaaaa" aku langsung berbinar-binar, berterima kasih kepada empunya warnet dan segera pulang ke rumah.

Malam harinya ketika makan malamku telah kuhabiskan, aku buru-buru masuk kamar, kucari handphoneku dar segera kuketikkan pesan singkat ke nomor yang diberikannya tadi "Huy Ririn" *maklum di masaku dulu jaman alay masih merajalela* satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit, barulah smsku terbalaskan. "Huy juga, siapa ni?" Aku langsung jingkrak-jingkrak ketika membaca balasan pesannya, kuperkenalkan diriku yang ternyata disambut baik olehnya. Belakangan kutahu bahwa Ririn (nama samaran) juga sama denganku, masih kelas 1 SMA dan sekolah kami tetanggaan, kesempatan ini tidak kusia-siakan, ini kujadikan langkah awal PDKTku, dengan alasan ke sekolah bareng, waktuku akan lebih banyak dengannya.

Dua minggu perkenalan kami ternyata membuatku tak berpikir lama untuk menentukan pilihan, hari itu kuberanikan diri untuk menyatakan perasaanku, perasaan seorang remaja 15 tahun yang sedang dalam masa pencarian jati diri. Sungguh kebahagiaan tiada tara ketika ia ternyata menyambut perasaanku. Hatiku kini beruforia, hariku betul-betul berubah drastis, yang tadinya seorang remaja laki-laki yang mencari kesenangan dunia berubah menjadi remaja laki-laki yang penuh dengan tanggung jawab, yap tanggung jawab melindungi gadis yang kucintai!

Tak terasa hubungan kami menginjak waktu yang ke-2 tahun, semua orang memberikan selamat pada kami, sahabat-sahabatku pun tak segan berkata "Ri, menikah saja kalau tamat SMA nanti", melihat hubungan kami yang memang begitu didambakan oleh orang-orang, hubungan yang begitu harmonis, begitu romantis, membuatku berani mengenalkan ia pada orangtuaku. Tapi apa yang terjadi? Ternyata apa yang kuharapkan tidak berkorelasi dengan kenyataan. Dengan tegas Ibu mengatakan tidak pada Ririn, "Ibu tidak suka, pakaiannya terlalu terbuka. Dia bukan gadis yang baik! Lagi pula kamu masih kecil Hari, baru mau lulus SMA, belum pantas mengenalkan perempuan sama orangtua", sekita aku drop, akan sia-sia jadinya hubungan kami jika tak dapat restu dari orangtuaku. Tapi aku tak terlalu menghiraukan teguran Ibu saat itu, hubunganku dan Ririn masih berjalan hingga usia 2 tahun 6 bulan.

Yah, waktu itu pengumuman SNMPTN telah keluar, aku dinyatakan tidak di terima oleh PTN dambaanku, kecewa? Jelas! Namun kekecewaan ini bertambah ketika hubunganku dengan Ririn memburuk sejak aku sibuk mengikuti bimbingan belajar dan dia tidak, jarang bertemu menjadi penyebab utama kandasnya hubungan kami. Sakit hati? Marah? Depresi? Kecewa? Ya, semua itu bercampur menjadi satu. Begitu miris dan ironis hidupku saat itu. Sempat terlintas untuk mengakhiri hidup saat itu, tapi beruntunglah aku memiliki teman-teman yang berhasil menggagalkan aksiku waktu itu.

Hingga Ayah mengambil keputusan untuk mendaftarkanku ke Universitas yang berbeda, dengan jurusan berbeda dan lebih baik walaupun dengan Jalur Mandiri yang jelas-jelas SPPnya 4 kali lipat dari SPP normal. Dengan sungguh-sungguh aku belajar saat itu, hingga pada pengumuman kelulusan kutemukan namaku pada deretan 10 teratas, walaupun ini hanya Jalur Mandiri, namun persaingannya begitu besar, aku termasuk beruntung melihat peminat jurusanku yang ternyata ribuan namun kursi yang diberikan hanya untuk 50 orang. Kini aku percaya bahwa "Ketika Allah mengatakan TIDAK, maka Ia akan memberikan yang lebih baik". Yap seperti sekarang ini, jurusan yang telah kulalui selama 3 semester.

Kepercayaan diri dan semangatku waktu itu kembali berkoar, kucoba menghubungi Ririn, namun ternyata hidup tak selamanya indah. Lagi-lagi kekecewaan luar biasa kudapatkan hari itu. Setelah kandasnya hubunganku, dengan mudahnya ia mendapatkan penggantiku dalam waktu satu minggu. Hey girl!!! Tidakkah waktu 1 minggu itu terlalu singkat untuk menggantikan kenangan kita selama dua setengah tahun ini? Tidakkah aku berarti untukmu???!!!!!!!! Aku muak!!!! Aku marah!!!! Aku berusaha mencari informasi mengenai laki-laki yang kini berhasil memikat hati Ririn, dan betapa aku kecewa waktu mengetahui bahwa Ririn terpikat pada laki-laki tersebut hanya karna ia seorang anak Anggota Dewan di kotaku, berkendaraan mobil mewah, dan hidup dengan keglamoran. Sedangkan aku? Aku hanyalah anak biasa dari keluarga sederhana, hanya bermodalkan motor matic kecintaanku, dan sebuah cinta tulus untuknya. Belakangan kudengar kabar bahwa ia tak seperti dulu lagi, hidupnya kini benar-benar berubah, dari seorang yang ayu menjadi seorang yang teramat gaul, bahkan kabar terakhir yang kudengar bahwa keperawanannya telah hilang oleh kekasihnya yang sekarang, yap anak Anggota Dewan itu.

Sejak saat itu aku betul-betul berubah drastis. Kehidupanku yang dulu terkesan gaul, berubah menjadi pria yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Jelas ini membuat sahabat dan orangtua heran, namun perlahan-lahan mereka memahami penyebab perubahanku ini. Teman-temanku yang memang dari kalangan supergaul sedikit demi sedikit mengikuti kebiasaanku, kebiasaan yang nongkrong di cafe, mall, atau mungkin diskotik, kini menjadikan rumahku sebagai basecamp baru kami. Orangtuaku yang melihat perubahanku menjadi sangat bahagia, mereka tak segan-segan menyediakan makanan yang enak untuk kami semua. Sholat yang dulunya sangat jarang kulakukan menjadi rutinitasku setiap hari, buku-buku yang dulunya hanya kusentuh di dalam kelas, kini menjadi kawanku setiap malamnya. "Kamu itu harapan Ayah satu-satunya. Kamu anak Bungsu, dan satu-satunya anak lelaki yang Ayah punyai. Ayah berharap kamu bisa jadi orang hebat, orang yang lebih hebat dari Ayah yang hanya seorang Dosen. Yang bisa Ayah banggakan, yang bisa Ayah ceritakan kesuksesannya pada mahasiswa Ayah nanti", kata-kata Ayah saat itu menjadi motivasiku sampai saat ini, motivasi yang kini membuatku tak dipandang sebelah mata lagi, tak dipandang sebagai remaja dengan masa depan gagal, sebagai remaja penghancur. Teringat kembali aku yang dulu sering membuat orangtuaku kecewa, sering membuat Ibu menangis dengan segala kenakalan yang selalu kuperbuat, tak jarang mereka menanggung malu karna ulahku.
Kini aku seorang Hari yang penuh dengan ambisi. Orang tua adalah prioritas utama dalam hidupku. Dan untuk soal wanita, sampai saat ini aku tak ingin mengenal mereka lebih jauh, mungkin aku sedang dalam masa traumatik seperti yang dikatakan dosenku, namun suatu saat aku pasti menemukan seseorang yang bisa diterima di keluargaku, seseorang yang akan setia dan mencintaiku hingga akhir hayatku.

Tak mudah ungkapkan dengan hati
Saat senyum dan tangis menyatu
Tapi ini terbaik untukku dan untuk dirimu
Hanya waktu yang mampu mengerti
Betapa berat perpisahan ini
Semoga cerita cinta ini menjadi kenangan indah
Nanti...

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang