Tuesday, 12 February 2013

Untuknya, Furqon..


Ini adalah kisahku, kisah seorang gadis yang mencoba mencari kesempurnaan kehidupan. Seorang gadis yang begitu biasa, berpenampilan tak begitu menarik, atau bahkan boleh dikata seorang gadis berkacamata cukup tebal yang hanya berkawankan deretan buku yang terpajang rapih di rak perpustakaan. Aku tak memiliki banyak kawan di sekolah, tak hanya dari adik-adik kelas maupun teman-teman seangkatan, teman sekelasku pun tak begitu sering membahasku dalam pembicaraan di kelas, kecuali jika kami akan dibagi perkelompok. Tapi, walaupun begitu, aku juga mempunya seorang sahabat karib, namanya Aisyah. Kami bersahabat dari kelas X sampai kelas XII sekarang ini, kami tak pernah pisah kelas, tak pernah pisah bangku, selalu dalam ekskul yang sama, baik itu tim kreatif mading maupun remaja mesjid. Namun, Aisyah berbeda denganku, ia sangat smart dan banyak diidolakan oleh teman-teman maupun kakak kelasku dulu, sedangkan aku? Aku bagaikan tumbuhan penggangu yang selalu merusak mata lelaki yang menatap Aisyah jika kami berjalan bersama. Terunduk.. merasa bersalah, itulah yang kurasakan saat ini.
Suatu hari, sebuah kampus negeri di kotaku datang bersosialisasi ke sekolah, kampus negeri ini cukup ternama dan tak sedikit dari teman-teman kelasku yang berniat untuk melanjutkan kuliah di sana nanti. Aku? Sampai saat ini aku belum kepikiran mau kuliah dimana dan mengambil jurusan apa. Aneh ya untuk pelajar tingkat akhir sepertiku? Yah itulah aku, manusia yang selalu dihantui oleh rasa cemas, manusia yang bias dikata cukup introvert, manusia yang kadang tak bias berpikir sendiri, tak bias mandiri. Masa depan terbaikku adalah masa depan yang dipilhkan oleh orangtuaku, itulah paradigma yang tertanam sejak aku menginjak bangku sekolah.
Kakak-kakak yang datang bersosialisasi ke sekolahku ternyata sebagian dari alumni sekolah kami juga. Seperti biasa, aku hanya duduk sedikit membungkuk hingga terkesan menunduk agar tak diperhatikan oleh orang-orang. Tapi tanpa aku sadari, hal inilah yang sebenarnya membuatku makin diperhatikan oleh semuanya. “Sial!!!” ketusku dalam hati. Satu-persatu kakak-kakak itu mulai memperkenalkan nama dan jurusan mereka, dengan almamater berwarna kuning kebanggannya, mereka juga memperkenalkan segala sistem kampus mereka, aku terkagum! Hingga tiba pada satu orang yang begitu kuhafal raut wajahnya, bentuk wajahnya, senyum bibirnya, dan karisma yang dimilikinya, ya dia itu Kak Furqon, mantan ketua tim mading sekolah kami dulu, ia sempat menjadi ketua devisi ketika aku juga ikut terlibat dalam kegiatan tim mading tersebut. Ia kini seorang mahasiswa Psikologi, WAH!!! Aku tak hentinya terkagum dibuatnya. Mataku tak lepas memperhatikan seluruh gerak tubuhnya, Aisyah kelihatan heran melihat tingkahku hari ini. Beberapa menit berlalu dan sosialisasi mereka pun berakhir dengan tepuk tangan yang meriah dari seisi kelas.
Sejak saat itu, aku begitu tertarik dengan dunia Psikologi, bukan hanya karna Kak Furqon yang diam-diam telah kukagumi dari 2 tahun terakhir, tapi setelah mendengar penjelasan panjang lebar Kak Furqon tentang seru dan menantangnya kuliah jurusan Psikologi. Niatku untuk mengambil jurusan psikologi ternyata mendapat restu dari kedua orang tuaku, sangat bahagia, aku makin bersemangat untuk menjadi maba Kak Furqon lagi. Seperti halnya gadis biasa yang sedang kasmaran, akupun mencoba mencari celah sekecil apapun untuk bisa berkomunikasi dengan Kak Furqon, salah satunya dengan menanyakan seluk beluk psikologi yang sebenarnya sudah kubaca dari Wikipedia, namun tetap saja ini kujadikan media untuk berkomunikasi dengannya. Aku rasa egoku saat ini telah berfungsi.
Makin mendekati UN dan SNMPTN, aku semakin bersemangat untuk kuliah di psikologi, komunikasi dengan Kak Furqon pun berjalan begitu lancar. Tanpa kusadari, sedikit demi sedikit penampilanku pun agak berubah. Kata Aisyah aku sedikit lebih modis, lebih bergaya dari yang biasanya, lebih berdandan, pokoknya tanda-tanda kasmaran telah terpancar jelas dari penampilanku. Bukan hanya itu, sifatku yang tadinya introvert sedikit demi sedikit mulai membuka diri pada lingkungan sosialku. Tak sedikit orang yang heran melihat perubahanku ini. Hingga pada suatu hari aku mulai melepas jilbab yang selama hampir tiga tahun ini menutup auratku, penampilanku waktu itu segera kuabadikan dengan kamera handphoneku dan kupasang sebagai foto profil di Facebook. Hal ini semata-mata kulakukan agar Kak Furqon tahu aku tak kalah cantiknya dengan perempuan-perempuan lain yang menyukainya. Kini masa depanku telah jelas, cita-cita dan cinta!
Ternyata apa yang kupirkirkan tak sejalan dengan teman-temanku, termasuk Aisyah dan semua teman-teman kelasku yang mulai kurasakan keakrabannya. Mereka begitu garang melihat tingkahku yang menurutnya semakin melunjak, aku bahkan menjadi dihindari oleh teman-teman sekelasku, namun tidak untuk Aisyah. “Nis, aku tahu kamu cantik, cantik banget malah kalau dandan, kalau rambutnya terurai. Tapi Anis tau kan kalau rambut itu adalah aurat? Aurat yang hanya bisa dilihat oleh muhrim dan mahrom kita. Anis, tau tidak kamu  itu lebih cantik kalau pakai jilbab. Anis, ingat tidak kata-kata Kak Furqon tempo hari waktu aku naksir berat sama Kak Hilman dan berniat pengen pake hijab? Kak Furqon bilang, jangan pernah ubah diri kamu untuk seorang pria, baik itu ke yang baik apalagi yang buruk. Kalau mau berubah, harus niatnya dari hati, soalnya kalau gara-gara pria, pas udah gak sukanya nanti berubahnya juga sepotong-sepotong deh. Jangan sampai cinta kepada pria lebih besar daripada cinta kepada Allah. Aku yakin Kak Furqon juga akan lebih suka kamu yang berjilbab.”
Aku sedikit berkaca mendengar nasihat dari seorang sahabatku ini, beberapa hari ini aku telah berhasil dibutakan oleh nafsu dan ego pribadi. Aku menghela nafas panjang, kupeluk Aisyah sebagai tanda aku sependapat dengan perkataannya yang dikutip dari Kak Furqon dulu. Sejak saat itu, aku mulai tutup buku mengenai Kak Furqon, saat ini aku makin bersungguh-sungguh untuk persiapan UN dan SNMPTN nanti, teman-teman kelas pun kembali ramah kepadaku melihat aku yang telah kembali seperti dulu, namun tidak untuk sifatku, saat ini aku menjadi Anisa yang ekstrovert.
UN berlalu dan aku dinyatakan lulus dengan nilai yang menurutku sangat memuaskan, SNMPTN dengan jurusan Psikologi di pilihan pertamaku ternyata juga sama manjurnya dengan UNku. Sungguh, saat ini aku merasa menjadi umat yang sangat disayangi Allah. Setelah resmi menjadi Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi, semua memberikan selamat kepadaku, termasuk juga Kak Furqon yang kini menjadi seniorku. Delapan semester berlalu dan kini aku resmi mendapatkan gelar S.Psi., pada ujung namaku, sungguh tak henti-hentinya aku merasa menjadi hamba yang sangat disayangi-Nya. Tak berhitung bulan dari wisudaku, Kak Furqon datang ke rumah dengan kedua orangtuanya, Kak Furqon meminta untuk melamarkan aku untuknya, sungguh aku begitu terkejut, kini aku begitu yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik hamba-Nya yang sabar, untukku, dan untuk Kak Furqon yang diam-diam juga telah lama memendam rasa padaku. Selalu ada akhir bahagia untuk kisah cinta yang tulus.

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang