Thursday, 6 June 2013

Furqon~


Terik matahari kota Makassar pagi ini begitu menyengat kulitku ketika baru turun dari angkot menuju gerbang fakultas. Aku berlari tergopoh-gopoh dengan tas berwarna cokelat yang telah tergantung di pundakku, tangan kiriku menenteng sebuah map berwarna merah yang berisikan tugas-tugas yang akan kukumpul pagi ini. “Akhirnya....” gumamku setelah berhasil tiba di kelas yang cukup ramai oleh orang-orang berpenampilan sama denganku.
Tak berapa lama aku duduk, koordinator mata kuliah menyampaikan bahwa dosen tidak dapat masuk hari ini, betapa kecewa kami, khususnya aku yang tiba dengan perjuangan keras hari ini. Aku meraih tas dan map merahku, ajakan kawanku untuk ke kantin kutolak karena harus memenuhi kebutuhan id-ku yang begitu menggebu-gebu “Saya ingin tidur!!!” akhirnya kuputuskan untuk ke perpustakaan. Perpustakaan memang telah menjadi langganan tempat tidurku jika di kampus, mahasiswa yang selalu begadang karena dituntut tugas sepertiku memang harus pintar-pintar memanfaatkan waktu luang seperti saat ini.
Aku segera naik ke lantai dua perpustakaan kampusku setelah menitipkan tas dan map kepada petugas perpus. Kecuali handphone dan headset yang sengaja kubawa untuk menuntun tidurku pagi ini, dan tentunya juga kartu perpustakaanku karena tanpanya aku hanyalah seonggok daging berjuwud manusia yang tidak bisa mencapai tempat impianku.
Aku tersenyum ke Pak Deri, bapak yang dipercayakan oleh kampusku untuk bertanggung jawab mengenai seisi buku yang ada di perpustakaan yang besar ini. Beliau sudah mengenalku, karena aku salah satu pustakawan terajin di kampusku, terajin untuk meminjam buku atau untuk sekedar tidur dan online.
Aku mengambil posisi tepat di bawah AC yang menggantung indah di perpustakaan, kupasang headset di telingaku dan mulai kuputar satu persatu playlist di hpku. Tanganku sengaja kulipat ke depan agar bisa menjadi pengganti bantalku pagi ini, aku memejamkan mata berusaha melanjutkan tidurku yang tertunda subuh tadi.
Tak berapa lama aku terpejam, kurasakan seorang yang menarik-narik kerudungku sambil memanggil namaku seperti berusaha membangunkanku. Aku membuka mata dan mencari sosok orang tersebut. Kutemukan wajah Furqon menantapku jengkel sambil menyodorkan jaketnya kepadaku, aku menatapnya heran. “Ini pake aja biar tangannya nggak pegal”, katanya kemudian. Aku tertawa padanya dan segera mengambil jaket yang ada di tangannya. Furqon adalah sahabat pria satu-satunya yang kumiliki semenjak menyandang gelar mahasiswa, sahabat yang selalu ada disaat yang kubutuhkan, yang selalu memberikanku contekan tugas, yang selalu mengingatkan jadwal-jadwal penting kuliah, yang selalu duduk di sampingku ketia ujian, yang selalu bersedia mengantarkanku ke rumah ketika harus menghabiskan waktu hingga malam di kampus. Walaupun ia kadang menggerutu karena sikapku, namun ia tak pernah betul-betul tega membiarkanku sengsara, dan hal itulah yang mungkin membuatku menyukainya. Ya, Furqon adalah sahabat yang sekaligus orang yang kusukai, namun sayangnya aku tak pernah berani untuk mengungkapkannya.

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang