Saturday, 12 October 2013

GANGGUAN PSIKOLOGIS

GANGGUAN PSIKOLOGIS

A.    Penyalahgunaan Zat Kimia dan Kecanduan
APA (The Association Psychiatric Association) menyatakan bahwa zat kimia adalah pola penggunaan suatu zat kimia yang adaptif yang menyebabkan gangguan klinis yang signifikan atau stres (DSM IV, 182). Individu yang mengalami kecanduan sadar bahwa perilaku yang timbul ketika mereka mengalami kecanduan tidak lagi menyenangkan dan dapat membahayakan orang lain, namun selalu saja ada dorongan untuk melakukan perilaku kecanduan tersebut. Penguatan stimulasi otak, penguatan pengalaman, dan obat yang dikonsumsi, meningkatkan pelepasan akson pelepas dopamin di nucleus accumben. Aktivitas di nucleus accumben tidak sama dengan kenikmatan dan imbalan. Berdasarkan sebuah hipotesis, aktivitas tersebut lebih berkaitan dengan “menginginkan”daripada “menyukai” dan kecanduan merepresentasikan peningkatan “menginginkan”.
Kecanduan diasosiasikan dengan sensitasi nucleus accumben sehingga nucleus accumben memberi respons yang lebih kuat terhadap aktivitas adiktif dan memberi respons yang lebih rendah terhadap berbagai bentuk penguatan lainnya. Pengalaman kunci pada pembentukan perilaku adaktif adalah substansi adiktif pada masa penarikan diri. Pecandu akan belajar bahwa pengalamn tersebut merupakan pengalaman yang sangat kuat, mereka akan belajar untuk menggunakan substansi adiktif sebagai jalan menangani stres. Dibandingkan dengan ketergantungan alkohol tipe I, ketergantungan alkohol tipe II muncul lebih cepat dan lebih awal, biasanya lebih parah dan memengaruhi lebih banyak pria daripada wanita. Gen memengaruhi ketergantungan alkohol melalui beberapa cara, termasuk pengaruh pada perilaku impulsif, respons terhadap stres, dan ketenangan secara keseluruhan.
Faktor risiko bagi ketergantungan alkohol antara lain sejarah ketergantungan alkohol dalam keluarga, intoksikasi rendah setelah mengonsumsi alkohol dalam jumlah menengah, dna mengalami kelegaan tinggi dari stres setelah pengonsumsian alkohol. Etil alkohol dimetabolisme menjadi asetaldehida, yang akan dimetabolisme lebih lanjut menjadi asam asetat. Individu yang karena adanya alasan genetik mengalami kekurangan pada enzim untuk reaksi kedua, cenderung menjadi sakit setelah mengonsumsui alkohol. Oleh karena itu, mereka lebih tidak mungkin mengonsumsi banyak alkohol. Antobus adalah sebuah obat yang terkadang digunakan untuk mengobati ketergantungan alkohol. Obat tersebut menghalangi pengubahan asetaldehida menjadi asam asetat. Metadon dan obat-obatan yang serupa terkadang ditawarkan sebagai pengganti obat opiate. Metadon memiliki keunggulan karena dapat dikonsumsi dalam bentuk pil. Obat tersebut dapat menanggulangi dorongan tidak tertahankan tanpa menyebabkan gangguan berat pada kemampuan individu untuk menjalankan hidup.

B.     Gangguan Mood
Depresi mayor adalah pengalaman yang intensitasnya lebih tinggi serta berlangsung lebih lama. DSM-IV (APA, 1994) menyatakan bahwa penderita depresi mayor merasa tidak bahagia setiap hari selama berminggu-minggu. Penderita depresi mayor hanya memiliki energi yang sedikit, merasa tidak berguna, sulit untuk berkonsentrasi, hanya mendapatkan kenikmatan yang sedikit dari kegiatan seks dan makanan, serta merasa tidak dapat berbahagia kembali. Penderita depresi mayor akan lebih mudah kehilangan rasa bahagia dibandingkan peningkatan rasa sedih. Depresi mayor umumnya diderita lebih banyak oleh wanita dibandingkan dengan pria, dapat terjadi pada usia berapapun walaupun jarang ditemukan pada anak-anak. Penderita depresi mayor berpendapat bahwa hampir tidak ada satu hal pun yang mampu membuat mereka bahagia. Depresi mayor terjadi dalam sebuah rangking periode.
Gangguan Bipolar menyebabkan penderita memiliki keadaan yang berseling antara depresi dan mania. Mania ditandai dengan adanya aktivitas resah, kegembiraan, tertawa, percaya diri, bicara tidak fokus, dan hilangnya kendali diri. Individu yang menderita periode mania penuh disebut dengan penderita gangguan bipolar I. Individu penderita bipolar II memiliki periode mania yang lebih ringan yang disebut hipomania, ditandai dengan sebagaian besar dengan adanya agitasi dan kecemasan. Gangguan bipolar mungkin memiliki dasar genetik. Jika salah satu kembaran monozigot menderita gangguan bipolar, maka kembaran yang lain paling tidak memiliki 50% kesempatan untuk memiliki gangguan yang sama. Kembaran dizigot, saudara kandung atau anak dari penderita gangguan bipolar memiliki probabilitas sebesar 5-10%. Anak asuh memiliki gangguan bipolar mungkin memiliki kerabat biologis yang menderita gangguan mood. Terapi yang efektif untuk gangguan bipolar antara lain garam litium dan obat-obatan antikonvulsif tertentu.
Gangguan afektif musiman ditandai dengan depresi berulang yang berlangsung pada salah satu musim dalam setahun. Gangguan afektif musiman biasanya terjadi pada daerah kutub, daerah yang memiliki malam yang lebih lama ketika musim dingin dan jarang terjadi pada daerah yang beriklim tropis. Gangguan afektif musiman berbeda dengan tipe-tipe depresi lainnya dalam berbagai hal, yaitu memiliki fase tidur tertunda (phase delayed) dan ritme suhu menjadi lebih mengantuk dan bangun dari tidur lebih lambat dari biasanya yang berbeda dari penderita depresi lainnya. Paparan terhadap lampu terang biasanya merupakan cara pengobatan yang efektif. Bentuk terapi tersebut juga bermanfaat bagi pendertia depresi tipe lainnya.
Depresi memperlihatkan adanya kaitan yang kuat dengan pewarisan karakter dalam keluarga, terutama untuk kerabat seorang wanita yang mengalami kemunculan depresi pada usia muda. Sebuah gen telah dikaitkan dengan peningkatan probabilitas terjadinya depresi hanya untuk individu yang telah  mengalami pengalaman yang membuat stres. Depresi diasosiasikan dengan menurunan aktivitas pada korteks belahan otak kiri. Empat kategori obat antidepresi yang telah digunakan secara luas yaitu obat kategori trisiklik, kategori SSRI, kategori MAOI, dan kategori atipikal. Obat kategori trisiklik menghambat pengambilan ulang serotonin dan katekol amina, tetapi menimbulkan efek samping yang kuat. Obat kategori SSRI menghambat pengambilan ulang serotonin. Obat kategori MAOI menghambat sebuah enzim yang menghambat katekol amina dan serotonin. Obat kategori atipikal adalah bermacam-macam kelompok obat yang memiliki efek beragam.
Obat antidepresi mengubah aktivitas sinaptik secara cepat, tetapi pengaruh pada perilaku muncul setelah berminggu-minggu penggunaan. Efek obat antidepresi pada perilaku mungkin bergantung pada dua perubahan lambat pada otak. Obat tersebut meningkatkan pelepasan BDNF yang memicu pertumbuhan dan ketahanan neuron. Obat tersebut juga mendesensitiasi autoreseptor sehingga meningkatkan pelepasan neurotransmiter. Bentuk terapi lain untuk depresi yaitu prikoterapi, terapi elektokonvulsif (ECT), dan perubahan pola tidur.

C.    Skizofrenia
Menurut DSM-IV, skizofrenia merupakan suatu gangguan yang ditandai oleh enurunan kemampuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari karena adanya suatu kombinasi dari halusinasi, delusi, gangguan pikiran, gangguan pergerakan, dan ekspresi emosi yang tidak sesuai. Skizofrenia memiliki dua gelajahm baik gelajah positif dan gelaja negatif. Gejala positif skizofrenia (perilaku yang tidak muncul pada sebagian besar individu) antara lain halusinasi, emosi yang tidak sesuai, delusi, gangguan pikiran, dan perilaku yang aneh. Sedangkan gelaja negatif skizofrenia (perilaku normal yang tidak muncul, tetapi seharusnya muncul) antara lain lemahnya interaksi sosial, ekspresi emosi, dan bicara. Penelitian terhadap anak kembar dan anak angkat mengindikasikan adanya predisposisi genetik untuk skizofrenia. Namun, penelitian pada anak-anak asuh tidak dapat membedakan tidak dapat membedakan antara peran gen dan lingkungan pranatal. Hingga saat ini, peneliti belum mampu menemukan gen yang secara umum terkait erat dengan skizifrenia. Hal tersebut terjadi karena skizofrenia dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah gen, satu gen telah dikaitkan dengan gejala negatif skizofrenia.
Berdasarkan hipotesis perkembangan neuron, gen maupun kelainan yang terjadi pada masa awal perkembangan akan menimbulkan gangguan pada perkembangan otak sehingga memicu perilaku abnormal yang mulai muncul pada masa dewasa awal. Terjadi peningkatan probabilitas terjandinya skizofrenia sedikit di atas rata-rata pada individu yang mengalami gangguan aebelum dilahirkan, ketika dilahirkan, atau ketika di awal masa bayi. Kemungkinan lain pemicu terjadinya skizofrenia yaitu adanya infeksi parasit pada otak yang terjadi pada masa kanak-kanak. Penderita skizofenia pada umumnya memperlihatkan abnormalitas ringan pada perkembagan awal otak yang terjadi pada lobus temporal dan frontal. Sebagian besar penelitian menyimpulkan bahwa kerusakan otak tersebut tidak progresif, artinya tidak bertambah buruk seiring dengan waktu. Kerusakan otak progresif terjaid pada penderita alzheimer dan Huntington.
Sejumlah bagian dari korteks prafrontal mengalami pendewasaan secara lambat. Apabila terjadi gangguan pada di area tersebut pada masa awal perkembangan, memungkinkan terjadinya gejala-gejala perilaku yang termanifestas sebagai skizofrenia di masa dewasa awal. Penggunaan obat antipsikotik dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya diskinesia tardif yang merupakan sebuah gangguan pergerakan. Obat antipsikotik generasi kedua dapat menurunkan gelaja posifit dan negatif skizofrenia tanpa menimbulkan diskinesia tardif. Saat ini, obat antipsikotik generasi kedua banyak digunakan oleh psikiater dalam menangani pasien.
Berdasarkan hipotesis dopamin, skizofrenia disebabkan oleh adanya aktivitas dopamin yang berlebih. Hal tersebut dibuktikan dengan penggunaan obat-obatan yang menghambat sinapsis dopamin akan mengurangi gejala positif skizofrenia dan obat-obatan yang meningkatkan aktivitas skizofrenia menimbulkan gejala positif skizofrenia. Namun, pengukuran dopamin dan reseptor secara langsung tidak memberi dukungan kuat untuk teori tersebut. Hipotesis glutamat menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh kuragnnya aktivitas glutamat. Hal tersebut dibuktikan oleh obat fensiklidin (PCP) yaitu obat yang menghambat sinapsis glutamat NMD menimbulkan gejala positif dan negatif skizofrenia, terutama pada individu yang memiliki predisposisi untuk skizofrenia.


Referensi:

Kalat, J. W. 2010. Biopsikologi, Biological Psychology (9th ed). Jakarta: Salemba Humanika.

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang