Wednesday, 20 November 2013

Ketika Menunggu Tak Lagi Berarti

Sore ini, pukul 16.00 pesawatku mendarat dengan sukses di Kota Makassar. Senyum lebar kini mengawali detikku di kota kelahiranku ini. Cukup lama memang, setelah hampir dua tahun aku terpaksa meninggalkannya demi mengecam pendidikan di ibukota. Kulihat Abangku telah setia menungguku di pintu kedatangan, kami berpelukan layaknya telebubbies. Selanjutnya, dalam hitungan menit kami telah berada di dalam sebuah sedan putih kebanggaan Abangku.

Dua tahun…
Cukup banyak yang berubah dari kota ini, tambah padat, atau mungkin tambah macet. Yup, itulah Makassar kini. Tapi satu yang tak akan pernah berubah, perasaanku. Perasaan yang dulu bersemi di kota ini, yang sekarang masih setia bersamaku, kemudian membawaku kembali pulang di kota pertama ia bermuara. Ya, cinta pertama, atau sebut saja cinta terakhir.

Tujuh tahun sudah….
Perasaan ini telah awet selama tujuh tahun, padanya seorang gadis yang begitu mempesona di masa SMAku dulu. Seorang gadis yang tidak biasa, seorang bahan perbincangan, seorang objek amatan, seorang yang dinantikan seluruh pria yang mengenalnya. Termasuk aku, aku yang hanya lelaki biasa, yang tidak pernah jadi bahan bicangan, ataupun objek amanatan, atau mungkin dinantikan wanita.

Tujuh tahun lalu….
Kelas satu SMA, Kami sekelas! Dia seorang gadis karismatik dan organisatoris sekolah. Di kelas, dia menjabat sebagai bendahara, dan waktu itu aku hanya seorang anak nakal yang beruntung bisa memasuki kelas yang sama dengannya. Sejak dahulu, aku selalu berusaha mencari perhatian padanya, membuat kegaduhan mungkin salah satunya, dan ternyata itu berhasil! Kelas dua dan kelas tiga SMA, cupid ternyata berpihak padaku, kami tetap sekelas meskipun sebenarnya dilakukan rolling setiap tahunnya, dan saat itu kuanggap kami berjodoh.

Meskipun dalam jangka waktu hampir tiga tahun itu ia sempat menjalin hubungan dengan beberapa lelaki di sekolahku, perasaan ini tak pernah luntur sedikit pun. Niat untuk moveon sering terbersit di pikiranku, tapi entah mengapa tak pernah terealisasikan. Mungkin karena ia sosok yang nyaris sempurna atau mungkin karena aku telah dibutakan cinta. Aku tak tahu persisnya.

Hingga pada suatu hari, Selasa 14 Januari, tiba-tiba ia menghampiri bangkuku yang berada di pojok belakang. Ya, aku memang lebih senang duduk dipojok karena akan menghalangiku ketika waktu tidur siang datang. Ia begitu antusias menyampaikan bahwa semalaman membaca blogku. Katanya cerpenku lumayan, dan ia tak pernah menyangka aku mampu menciptakan tulisan seperti itu. Sejak saat itu, ia menjadi followersku di blog, menjadi pembaca setiaku, dan setiap paginya akan antusias menyampaikan komentarnya mengenai tulisanku. Dia lah yang menjadi motivasiku menulis saat itu, agar ia menghampiri bangkuku setiap hari, agar ia mengerti sedikit demi sedikit bahwa dia lah tokoh utama dalam semua tulisanku.

Beberapa minggu sebelum kelulusan SMA, aku berhasil diterima di salah satu universitas terbaik di ibu kota dengan jurusan teknik sipil. kesempatan ini tidak akan pernah kusia-siakan tentunya. Semua orang mendukungku, terlebih lagi orangtuaku. Hanya saja sedikit kegundahan mengusikku, akankah harus kutinggalkan dia? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku kepada seseorang untuk yang pertama kalinya, kepada seorang gadis yang selalu hadir dalam mimpiku selama tiga tahun ini.

16 Juni, Hari kelulusan itu….
Hari itu kunyatakan padanya segala perasaan yang kupendam selama tiga tahun terkahir, ya mungkin ini menyatakan cinta, dan seketika aku tremor. Namun semuanya terbayarkan ketika ia menyambut perasaanku, yang artinya kami menjadi sepasang kekasih, aku bahagia tak terlukiskan! Kami membuat janji setia, setia menjalani hubungan jarak jauh ini, ya sangat jauh menurutku.

Anniversary….
16 Juni selanjutnya, kami resmi satu tahun bersama. Walaupun kami masing-masing disibukkan dengan tugas bejibun sebagai mahasiswa baru, kami tetap berusaha untuk saling menyapa dalam sehari, walaupun itu hanya bentuk pesan singkat. Aku merasa begitu salut pada diriku dan dirinya yang bisa menjalani hubugan jarak jauh ini. Begitu banyak orang-orang yang menyelamati kami, teman-teman SMA, kampus, dan bahkan Abangku sekalipun. Sungguh ini kebahagiaan yang juga tak mampu terlukiskan.

Beberapa bulan selanjutnya….
Beberapa bulan setelah itu, hubungan kami harus terhenti. Bukan karena kami berhenti saling mencintai, namun karena kami tak ingin menyakiti hati masing-masing. Posisinya yang kini sebagai organisatoris kampus lagi ternyata memakan banyak waktu sehingga waktu berkomunikasi kami semakin berkurang. Aku terima dengan lapang dada keputusannya, karna aku tahu cintanya hanya untukku. “Ingat, hatiku sudah tertinggal di Makassar, tolong tunggu Aku kembali”, pesanku waktu itu.

Seminggu…. Dua minggu…. Sebulan…. Dua bulan…. Lima bulan…. Setahun….
Ya, hubungan kami masih berjalan selama itu, namun saat ini mungkin bernama HTSan. Buatku, tak masalah orang menyebutnya apa, yang penting kami masih saling cinta, masih saling sayang. Hingga akhirnya tibalah aku di tahun terakhirku, tahun terakhir dari targetku bermukim di ibu kota. Aku harus menghabiskan waktuku berlama-lama di depan laptop, mengetikkan setiap huruf-huruf, hingga menjadi sebuah jejak hidup mahasiswa yang bernama skripsi. Ya, demi skripsi kurelakan waktuku untuk tidak mengingatnya, untuk tidak memberinya kabar, atau untuk menanyakannya kabar. Hal ini kulakukan selain demi orangtuaku, semata-mata untuknya juga. Agar aku bisa kembali ke Makassar dengan cepat, agar aku mampu mengurangi sedikit keterlambatanku menyandang gelar S.T., ya dia lebih cepat setahun dibandingkan aku.

Dan tibalah saatnya, saat yang begitu kudambakan dan kutunggu-tunggu dalam hidupku, kembali ke Makassar dengan gelar sarjana dan koper-koper besarku. Dua tahun sudah kami tak bertemu, rinduku kini begitu menggebu. Langsung kutelfon dia setelah berhasil mencapatkan charger di rumah, dan kami sepakat untuk bertemu malam ini.

Suasana tahun baru kini menghiasi Makassar malam, aku telah setia menunggu di tempat biasa kami bertemu sebelumnya. Malam ini aku sengaja datang lebih awal. Hampir setengah jam, dan tiba-tiba sebuah tepukan di pundak membuyarkanku. Aku menoleh, ia tersenyum begitu manis, kerudung merahnya tertata rapi di kepalanya. Sesaat kuperhatikan seorang pria berdiri di belakangnya, pria yang tentunya tidak kukenal, aku menatapnya heran. Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya padaku, memperkenalkan namanya dengan begitu ramah, kusambut tangannya dengan masih penuh tanda tanya. Lelaki itu kemudian menyampaikan sebuah kalimat yang bagaikan halilintas menghancurkan segala impian, cita-cita, dan masa depanku, “Saya calon suaminya, sekarang kami sudah tunangan dan bulan depan kami akan menikah”, katanya begitu enteng. Pandanganku sontak megarah ke wanita yang kini duduk di hadapanku, ia hanya tertunduk mengalihkan pandangannya dari tatap mataku. Aku beranjak dari kursiku, kulangkahkan kaki dari tempat itu, tak kuhiraukan suara-suara yang memanggil namaku.

Aku tersungkur ke tempat tidurku, mencoba menelaah kata per kata yang dilontarkan lelaki tadi “Saya calon suaminya, sekarang kami sudah tunangan dan bulan depan kami akan menikah”. Kurasakan tetesan air kini mengalir dengan indah di kedua pipiku, aku kini menangis untuk yang pertama kalinya. Hancur, remuk, depresi dan stress! Hpku kemudian berbunyi, sebuah pesan dari wanita yang kunanti selama tujuh tahun….
“Maafkan Aku, aku tidak seharusnya membawa dia dalam pertemuan pertama kita selama dua tahun kita terpisah. Aku hanya tidak tahu cara untuk menyampaikan hal itu kepadamu. Dia adalah lelaki yang baik. Kebetulan kami satu fakultas dan sempat bersama-sama menjalankan organisasi fakultas, dia seniorku. Sebenarnya dia mengisi hatiku sudah cukup lama, sekitar satu tahun lalu ketika aku dalam proses penyelesaian skripsiku. Dia yang selalu ada di sampingku ketika aku butuh seseorang untuk membantu, ketika aku butuh seseorang untuk bercerita, ketika aku butuh seseorang untuk menghilangkan stresku. Iya dia, bukan kamu. Maaf! Sejujurnya dialah lelaki idaman yang kuimpikan selama ini, seperti dialah sosok yang kudambakan. Jangan pernah berpikir bahwa dia adalah perusak hubungan kita, karna dia hadir ketika hubungan kita memang telah berakhir, aku hanya tidak tahu cara menyampaikannya padamu. Terima kasih untuk semuanya, terima kasih untuk segala cinta dan waktu yang kamu korbankan untuk mencintaiku. Aku selalu bahagia pernah menjalin hubungan dan menjadi tokoh utama dalam setiap tulisanmu, Aku tak akan pernah melupakan itu. Dan untuk cinta yang sempat kuberikan untukmu, itu murni cinta, aku tak tahu mengapa aku mencintaimu. Tapi itu dulu, maafkan aku. Terima kasih, kamu lelaki yang baik J

Malam pergantian tahun….
Malam pergantian tahun ini telah sukses merubah hidupku. Malam ini menjadi saksi bisu hilangnya semua harapan yang tertanam dalam hatiku. Lagi-lagi Aku berusaha keras untuk mengerti kata per kata yang dikirimkannya melalui pesan itu, sangat sulit untuk paham ternyata.
Sekarang aku sendiri, benar-benar sendiri dalam kelamnya malam, dalam pengkhianatan cinta pertama, pengkhiatan waktu dan penantian. Ya aku sendiri, sendiri untuk bangkin menghadapi hari esokku…
***


Hikmah yang dapat dipelajari dari cerita di atas adalah:
1. Kalau mau menunggu, jangan menunggu sampai bodoh. Menanti sebulan cukuplah.
2. Jangan mau LDR-an :P
3. Jangan menyatakan cinta pas kelulusan SMA -.-
4. Kalau LDR harus punya cadangan *abaikan kalimat ini*
5. Jangan ketemuan di malam pergantian tahun (?)
6. Kalau mau ketemuan sama mantan, harus bawa Saudara supaya bisa dipamer sebagai pacar pft!
7.  Jangan tersinggung kalau ada kesamaan nasib sama cerita di atas, semuanya hanya fiksi belaka :) 

Terima kasih sudah berkunjung, kalau ada typo, salah kata atau kalimat harap dimaklumi karena tulisan ini berakhir pukul 03.12 WITA hehe


Wassalam!

1 comments:

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang