Wednesday, 19 February 2014

Gadis Umbrella

Langit mulai bergemuruh lagi di penghujung November tahun ini. Gerombolan orang-orang berbusana hitam masih setia membentuk lingkaran mengelilingi calon peristirahatan terakhir Bunda. Aku masih tak bergerak dalam dekapan Kak Arial, membatu dan kaku dalam pelukannya. Tak lama, kusaksikan jasad Bunda telah bersiap untuk diturunkan ke liang lahat, aku meronta! Kurasakan badan Kak Arial juga bergetar, rambutku kemudian terasa basah namun bukan karena hujan. Ya, hujan belum turun, itu air mata Kak Arial, lelaki kesayanganku nomor dua di dunia ini. Aku makin tak kuasa. Disampingku kulihat Ayah juga tersungkur kaku menyaksikan ritual terakhir Bunda. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari dari kejauhan sembari menangis dan berteriak memanggil nama Bunda, dia adikku Afrian. Afrian meraung-raung tak terima jasad Bunda ditimbun oleh tanah, tak terima Bunda ditinggal sendiri dalam tanah. Suara tangisan makin terpecah, bukan hanya Aku, Ayah dan Kak Arial, namun semua orang yang ada disana dan menyaksikan Afrian yang begitu iba, dia masih lima tahun.
Langit bergemuruh lagi, namun kini menyambut datangnya gerimis. Aku masih tak bisa bergerak, tersungkur memandang nama indah Bunda di batu nisan, masih tak bisa percaya kepergiaan Bunda yang begitu cepat. Kak Arial juga tak bergerak di sampingku, masih setia menemaniku. “Kak, Bunda beneran ninggalin kita?” tanyaku. Kak Arial tidak menjawab pertanyaanku, namun kemudian menangis dan menarikku dalam pelukannya. Hanya kami berdua, hanya kami yang tinggal, hanya kami yang menangis di bawah hujan sore di akhir November. Aku makin tak kuasa menahan tangis, aku meraung-raung memanggil nama Bunda, badanku terasa begitu lemas, hingga akhirnya aku tak sadarkan diri dalam pelukan Kak Arial.

Aku membuka mata, kusaksikan langit-langit kamarku yang berwarna merah muda, jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 04.58. Kepalaku masih terasa pusing, dan kulihat kini Afrian telah berada di sampingku tertidur pulas. Aku memerhatikan wajah adikku dalam-dalam, memerhatikan bengkak mata karena tangisannya. Kuusap kepala Afrian, dan seketika kurasakan air mataku kembali meleleh. Aku berusaha menahan tangisku agar tak bersuara, takut jika adik kesayanganku terbangun dari tidur lelapnya. Aku menarik nafas dalam-dalam, kuusap air mataku dan bangkit dari tempat tidur, segera aku berwudhu. Kini yang ada dalam fikiranku hanya Allah dan Bunda. Bunda yang selalu menegur jika aku dengan sengaja melewatkan shalat, Bunda yang selalu setia membangunkanku dengan paksa setiap pukul 05.00 subuh, dan Allah yang selalu setia mendengarkan seluruh keluh kesahku ketika aku berada dalam keadaan terpuruk seperti saat ini.
Kulihat jam sudah hampir setengah enam pagi, cukup lama aku bercerita kepada-Nya subuh tadi. Aku keluar dari kamar, tak ada siapa-siapa di ruang keluarga namun pintu rumah terbuka sedikit. Aku berjalan ke arah pintu, penasaran akan penghuni rumah yang bangun lebih pagi dariku. Kulihat sosok Ayah sedang berdiri dengan tangan sepertinya dilipat ke depan sambil menatap jalan. Aku memperhatikannya dari belakang, penasaran dengan apa yang sedang dilakukannya. Beberapa saat kuliah tangan kanannya bergerak ke atas ke bagian wajahnya. Cukup lama Ayah melakukan gerakan itu, dan kupastikan kini Ayah masih menangisi kepergiaan Ibu. Tiba-tiba sebuah tangan mungil kurasakan menggenggam tanganku, aku menoleh ke bawah dan kulihat Afrian kini menatapku, “Kakak, hari ini aku harus sekolah ya?” tanyanya polos. Ayah kemudian menoleh ke arah kami sebelum mengusap kedua matanya yang telah penuh dengan linangan air mata. Aku tersenyum mendengar pertanyaan Afrian, aku menunduk dan memegang pipinya, “Emang kamu udah mau sekolah?”, Ia hanya mengangguk, “Yuk kalau gitu mandi dulu, entar minta Kak Arial anterin kamu ya”, kataku kemudian menggiring adikku masuk ke rumah. Aku menoleh ke arah Ayah, ia tersenyum lebar, senyum yang kuyakini senyum haru menyaksikan anak-anaknya.

Kini Bunda benar-benar telah tiada, menyisakan aku sebagai penghuni wanita satu-satunya di rumah kami. Selamat datang dunia baruku…

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang