Monday, 31 March 2014

Gadis Umbrella II

Jam tanganku menunjukkan pukul 09.22, aku masih setia dalam sebuah angkutan umum kegemaran mahasiswi sepertiku. seperti biasa, hari ini begitu terik hingga menyengat kulitku dari balik kaca mobil, namun nanti sore akan terjadi badai hujan lagi. ya... Desember....
Tiba-tiba sesuatu bergetar dari saku tasku, sebuah pesan singkat dari Nadia sahabatku mengingatkan bahwa kelas akan dimulai. Seketika terpajang foto cantik Bunda di walpaper handphone. aku menatapnya dalam-dalam. Genap sebulan kepergian Bunda masih menyisahkan kerindungan yang begitu mendalam bagi kami. terutama Aku, yang boleh dikata telah mengambil 70% posisinya di rumah.
"Kiri Pak..." kataku menghentikan angkot ketika kulihat gedung kampusku di ujung jalan. kubuka lebar payung merah muda kebanggaanku setelah membayar ongkos angkot dan bergegas lari menuju kelas. Hari ini aku lumayan rempong, tangan kiriku memegang payung merah mudaku, tangan kananku menenteng kantong kain berisikan perlengkapan praktikumku nanti sore, dan sebuah tas ransel warna cokelas menggelantung indah di kedua pundakku.
Mataku terus menatap gedung berlantai lima diseberang taman, tujuanku ada di lantai empat bangunan tersebut. Sekilas terlintas wajah killer dosenku yang siap memangsaku dengan segudang teori yang sungguh tak kutahu dari mana asal muasalnya. Aku menggelengkan kepala, membuyarkan semua lamunan burukku pagi ini, kupercepat langkahku ketika kusadari jam tanganku sudah menunjukkan 09.33. "Sial, aku telat 3 menit!" gumamku.
Tiba-tiba sebuah sosok berperawakan besar menabrakku dari depan, aku terjatuh begitu juga dengan semua tentangan keremponganku hari ini. Aku sedikit meringis menahan luka goresan di pergelangan tanganku, namun seketika aku bangkit dan mengambil tentenganku ketika mataku secara eksplisit menantap jam tanganku. Aku berlari ke tempat tujuanku sedari tadi, memasuki gedung berlantai lima dan tergopoh-gopoh menaiki tangga ke lantai empat.
09.45 aku tiba di tempat tujuan. kubuka dengan perlahan gerendel pintu, mata kiriku menatap masuk ke dalam kelas, kusaksikan suasana yang bising oleh teman-temanku, sungguh tak seperti dugaan. kubuka lebar pintu kelas dan tak kutemukan sosok manusia yang sedari tadi memenuhi lamunanku.
Aku berjalan gontai ke arah Nadia, ia menyambutku dengan senyum pagi bahagianya "Hey Arinda, kok kamu dateng? padahal aku kan udah kamu bilang kalau dosennya gak masuk". Aku mengambil posisi duduk di samping Nadia, merebahkan badanku ke sandaran kursi dan bersiap untuk terisak. Nadia dan teman-teman sekelasku menatapku heran "Arin gak usah nagis keles, kita semua juga rugi waktu kok" kata Nadia berusaha membujukku, aku tetap terisak, menutup kedua wajahku dengan tangan, "Payungku Nad, payungku hilang...." kataku masih tetap terisak.

More:
Gadis Umbrella I

1 comments:

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang