Thursday, 9 October 2014

Analisis Data Kualitatif Model Strauss dan Corbin (Grounded Theory)

Analisis Data Kualitatif Model Strauss dan Corbin (Grounded Theory)

Strauss dan Corbin (Emzir, 2010) menjelaskan bahwa analisis data kualitatif khususnya dalam penelitian Grounded Theory terdiri atas tiga jenis pengodean, yaitu pengodean tebuka (open coding); pengodean berporos (axial coding); dan pengodean selektif (selective coding). Pengumpulan dan analisis data merupakan proses antarjaringan yang erat, dan harus terjadi secara bergantian karena analisis mengarahkan pengambilan sampel data. Empat pemikiran penting yang harus dilakukan sebelum melakukan analisis data yaitu:
1.      Melakukan analisis data, secara fakta yaitu membuat interpretasi dan argument yang kuat untuk analasis tersebut.
2.      Mengatur prosedur-prosedur dan teknik-teknik yang fleksibel sesuai dengan keadaan, berurut secara bervariasi, dan pilihan-pilihan tersedia di setiap langkah.
3.      Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk membantu memudahkan prosedur-prosedur yang telah dibuat.
4.      Mempelajari kembali bagian pengodean secara detail.

A.    Pengodean Terbuka (Open Coding)
Pengodean terbuka adalah bagian analisis yang berhubungan khususnya dengan penamaan dan pengategorian fenomena melalui pengujian data secara teliti. Selama proses pengodean terbuka, data dipecah ke dalam bagian-bagian yang terpisah, diuji secara cermat, dibandingkan untuk persamaan dan perbedaannya, dan pertanyaan-pertanyaan diajukan tentang fenomena sebagaimana tercermin dalam data. Prosedur analosis dasar untuk proses pengodean terbagi menjadi dua, yaitu pertama, berhubungan dengan membuat perbandingan, yang lain mengajukan pertanyaan-pertanyaan; kedua, membantu dalam memberikan konsep-konsep dalam grounded theory kepersisan dan kespesifikasiannya. Pengodean terbuka dilakukan dengan cara:
1.      Memberikan pelabelan fenomena; pemisahan dan konseptualisasi pengambilan bagian suatu observasi, sebuah kalimat, paragraph, dan pemberian setiap insiden, idea, atau peristiwa terpisah sebuah nama, sesuatu yang mewakili fenomena.
2.      Menemukan kategori-kategori; setelah mengidentifikais fenomena tertentu dalam data, peneliti mulai mengelompokkan konsep-konsep di sekitarnya, ini dilakukan untuk mereduksi sejumlah unit yang dikerjakan. Proses pengelompokan konsep-konsep yang dianggap berhubugan dengan fenomena yang sama.
3.      Memberikan nama sebuah kategori; penamaan sebuah kategori diberikan oleh peneliti itu sendiri. Nama yang dipilih sebaiknya nama yang paling logis berhubungan dengan data yang mewakilinya, dan harus menjadi tulisan yang cukup untuk mengingatkan pada referensi.
4.      Mengembangan kategori-kategori dalam istilah properti dan dimensinya; properti dan dimensi penting untuk mengenali dan mengembangkan secara sistematis karena keduanya membentuk dasar-dasar untuk membuat hubungan antara kategori dan subkategori.
5.      Melakukan pengodean terbuka secara bervariasi; peneliti dapat memulai analisis wawancara dan observasi dengan: 1) suatu analisis baris demi baris; 2) melakukan pengodean dengan kalimat atau paragraf; 3) mengambil seluruh dokumen, observasi dan wawancara.
6.      Menulis catatan kode; kategori-kategori dan konsep-konsep yang berhubungan dengan wawancara, catatan lapangan, maupun dokumen lain, diambil dari halaman dan tulisan sebagai catatan kode.

B.     Pengodean Berporos (Axial coding)
Pengodean berporos adalah pelacakan hubungan diantara elemen-elemen data yang terkodekan. Teori substantif muncul melalui pengujian adanya persamaan dan perbedaan dalam tata hubungan, diantara kategori atau subkategori, dan diantara kategori dan propertisnya. Pengodean berporos harus menguji elemen seperti keadaan kalimat, interaksi diantara subyek, strategi, taktik dan konsekuensi. Strauss and Corbin (Emzir, 2010) menyamakan proses ini untuk mencocokkan bagian-bagian dari pola yang masih teka-teki. Mereka beragumentasi bahwa dengan menjawab konsekuensi dari “Who, When, Where, Why, How and With”, peneliti dapat menceritakan struktur ke proses.
Model paradigma pengodean berporos yaitu menghubungkan subkategori dengan sebuah kategori dalam suatu ser hubungan yang menukkan kondisi kausal, fenomena, konteks, kondisi perantara, strategi tindakan/interaksional, dan konsekuensi. Penggunaan model ini memungkinkan individu berpikir secara sistematis tentang data dan menghubungkannya dalam cara-cara yang sangat kompleks.
Pengodean berporos umumnya lebih terfokus dan diarahkan pada menemukan dan menghubungkan kategori-kategori dalam istilah model paradigm, yaitu mengembangkan setiap kategori (fenomena) dalam istilah kondisi kasual yang menyebabkan munculnya lokasi dimensional khusus dari fenomena ini dalam istilah properties, konteks, strategi tindakan/interaksional yang digunakan untuk menangani, merespon fenomena berdasarkan konteks tersebut dan konsekuensi-konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil. Selanjutnya dalam pengodean berporos, peneliti terus mencari properti tambahan dari setiap kategori, dan mencatat lokasi dimensional dari setiap insiden, kejadian atau peristiwa.

C.     Pengodean Selektif (Selective coding)
Pengodean selektif adalah proses mengintegrasikan dan menyaring kategori sehingga semua kategori terkait dengan kategori inti, sebagai dasar GT. Kategori inti yaitu kategori yang dikembangkan dan mencoba variasi terbanyak dari pola perilaku. Beberapa langkah yang digunakan dalam pengodean selektif:
1.      Melibatkan penjelasan alur cerita (story line).
2.      Menghubungkan kategori-kategori tambahan di sekitar kategori inti dengan menggunakan paradigma.
3.      Melibatkan menghubungkan kategori-kategori pada level dimensional.
4.      Menyertakan validasi hubungan-hubungan ini dengan data.
5.      Memasukkan ke dalam kategori-kategori yang mungkin memerlukan pembersihan dan/atau pengembangan lebih lanjut.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengodean selektif (Emzir, 2010):
1.      Menguraikan alur cerita; untuk memperoleh integrasi adalah penting pertama merumuskan dan mengikat diri pada sebuah alur cerita. Hal ini merupakan konseptualisasi tentang sebuah cerita deskriptif mengenai fenomena sentral dari studi.
2.      Mengidentifikasi cerita; satu cara untuk mulai pengintegrasian adalah duduk pada pengolah kata atau dengan pensil dan kertas, dan menulis dlaam beberapa kalimat esensi dari cerita.
3.      Bergerak dari deskripsi ke konseptualisasi alur cerita; adalah bermanfaat dan mungkin perlu untuk menggunakan deksripsi cerita untuk menuangkan pemikiran peneliti di atas kertas.
4.      Membuat pilihan antara dua atau lebih fenomena yang menonjol; cara untuk menangani masalah ini adalah memilih satu fenomena, menghubungkannya dengan kategori yang lain sebagai suatu kategori subsider, kemudian menulisnya sebagai suatu teori tunggal.
5.      Mendefinisikan alur cerita; ketika peneliti tidak mampu mendefinisikan alur cerita maka dapat memperoleh konsultasi dari peneliti lain (senior), guru/dosen, atau kolega yang lebih berpengalaman; seseorang dapat mendengar dan membantu memecahkannya.
6.      Menentukan properti dan dimensi dari yang inti; sama seperti kategori-kategori yang lain, kategori inti harus dikembangkan dalam istilah propertinya. Jika peneliti membicarakan properti cerita, sebagai tambahan untuk memperlihatkan kategori inti tersebut, cerita akan juga mengindikasikan propertinya.
7.      Menghubungkan kategori lain dengan kategori inti; hubungan kategori lain dengan kategori init dilakukan dengan cara paradigm kondisi, konteks, strategi, konsekuensi.
8.      Kembali ke cerita; dilakukan ketika kategori-kategori disusun kembali dalam istilah hubungan paradigmatiknya kemudian secara memadai disempurnakan menjadi alur cerita.
9.      Kesulitan dalam pengurutan kategori; terjadi ketika dalam mengintegrasikan dan mengimplikasikan bahwa terjadi sesuatu yang salah atau hilang dalam logika cerita peneliti.
10.  Validasi hubungan; peneliti dapat menulis sebuah pernyataan hipotesis mengenai hubungan antara kategori-kategori.
11.  Ketidakterungkapan pola-pola; selama pengodean berporos, peneliti mulai mencatat pola-pola tertentu (hubungan yang berulang antara properti dan dimensi dari kategori-kategori.
12.  Sistematisasi dan penguatan koneksi; menggunakan suatu kombinasi berpikir deduktif dan induktif, dimana peneliti secara konstan bergerak di antara mengajukan pertanyaan, menghasilkan hipotesis, dan membuat perbandingan.
13.  Cara-cara menemukan kombinasi; kombinasi dapat ditemukan secara sederhana yaitu dengan muncul selama analisis.
14.  Pengelompokan kategori; memiliki perbedaan yang telah diidentifikasikan dalam konteks, peneliti dapat memulai secara sistematis untuk mengelompokkan kategori-kategori.
15.  Melandaskan teori (grounding the theory); pemvalidasian teori seseorang melawan data melengkapi landasannya.


Referensi:

Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: Raja Grafindo.

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang