Thursday, 9 October 2014

Contoh Kasus Neurotisme dalam Big Five Personality

Contoh Kasus Neurotisme dalam Big Five Personality

Sinopsis
Lagi-lagi kasus pembunuhan terjadi didasari masalah percintaan. Kali ini korbannya Desi Ekasari, 19 tahun, yang dibunuh oleh kenalannya dari dunia maya, Senin, 3 Maret 2014. Pelaku bernama Irwan Alexandria, 23 tahun. Ia baru pertama kali bertemu Desi sebelum membunuhnya. Sebelumnya mereka berdua lama berkenalan dan saling suka via jejaring sosial Facebook. Pekan lalu, keduanya pun sepakat bertemu di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
"Pelaku ingin berhubungan badan dengan korban, tapi korban menolak," ujar juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, Sabtu, 8 Maret 2014. Tak terima penolakan itu, Irwan lalu memerkosa Desi. Tak hanya memerkosa. Karena kesal, pelaku juga mencekik korban dan sempat menusuk lehernya. Desi tewas di tempat akibat perbuatan Irwan. Mayatnya ditemukan di sebuah got di kawasan Kamal Muara, Penjaringan.
Setelah membunuh Desi, aksi Irwan tak berhenti. Ia mengontak orang tua Desi di Pemalang dan mengabari bahwa ia menculik putri mereka. Polisi lalu melacak korban dari sambungan telepon tersebut. Irwan ditangkap di tempat kerjanya wilayah Kampung Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Ia ditangkap tanpa perlawanan ketika sedang lelap tertidur. Atas perbuatannya, polisi mengancam Irwan dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Ia terancam hukuman mati karena melenyapkan nyawa Desi. (Tempo.co)

Analisis Kasus
Berdasarkan kasus di atas, Iwan yang merupakan tersangka pembunuhan Dewi Ekasari yang dikenal melalui jejaring sosial Facebook disimpulkan memiliki neurotisme yang tinggi. Teori Big Five Personality menjelaskan neurotisme mengukur penyesuaian VS ketidakstabilan emosi, mengidentifikasi kecendrungan individu akan distress psikologi, ide-ide yang tidak realistis, kebutuhan/keinginan yang berlebihan, dan respon coping yang tidak sesuai. Individu yang neurotisme tinggi memiliki karakteristik selalu kuatir, cemas, emosional, merasa tidak nyaman, kurang penyesuaian, kesedihan yang tak beralasan (Pervin, 2000). Irwan tergolong ke dalam individu yang memiliki neurotisme tinggi karena Irwan dianggap tidak bias mengatur emosional sehingga melakukan perbuatan anarkis seperti memerkosa lalu membunuh demi memenuhi kebutuhan yang dimilikinya.
Selain itu, Ohorella (2009) mengemukakan bahwa teknologi berbasis internet sangat disukai oleh individu neurotisme. Kepribadian neurotisme ditandai dengan kecenderungan untuk merasa mudah kecewa, marah, depresi sehingga seringkali mengganggu keharmonisan hubungan individu dengan orang lain. Dengan adanya media internet, individu tidak perlu berhadapan langsung (face to face) dengan orang lain saat berkomunikasi, mereka dapat menyembunyikan posisi sosial dan emosionalnya di hadapan orang lain. Individu cenderung menggunakan media internet untuk melarikan diri dari masalah yang dihadapi.
Hal ini dapat dilihat ketika Irwan dan Eka menjalin hubungan pertama kali melalui media jejaring sosial Facebook. Ketika Irwan menjalin hubungan melalui Facebook, Irwan dapat menyembunyikan kekhawatiran, posisi sosial dan emosionalnya terhadap Eka. Namun pada saat mereka bertemu, Irwan tidak dapat lagi mengontrol diri, Irwan langsung merasa kecewa dan kesal kepada Eka ketika keinginannya tidak dipenuhi sehingga melakukan tindak kriminal.


Sumber:
Pervin.A.L. & Oliver P.J. (2000). Personality Theory & Research (8th edition). New York: John Wiley & Sons Inc.

Ohorella, R. A. (2009). “Big Five Personality Dengan Kecanduan Internet”. Skripsi diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Muslim Indonesia.

Perdana, M. A. “Bunuh Kenalan Facebook, Irwan Terancam Hukuman Mati”. Online. http://www.tempo.co/read/news/2014/03/08/064560512/Bunuh-Kenalan-Facebook-Irwan-Terancam-Hukuman-Mati. Diakses: Senin, 31 April 2014.

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang