Friday, 14 November 2014

I Called You "LOVE" (Part 1)

Namaku Dira, mahasiswa tingkat akhir di salah satu PTN di kotaku. Saat ini aku sedang dalam tahap penyelesaian skripsiku, bahkan sekarang pun aku sedang bergulat dengannya hingga aku kehabisan semangat dan akhirnya memutuskan untuk menuliskan kisahku. Iya, kisah indah cinta pertamaku dulu. Fauzan!

Waktu itu adalah hari pertamaku di bangku SMA. Seragam putih abu-abu yang sejak lama kudamba-dambakan akhirnya melekat di tubuhku. Aku begitu bersemangat pagi itu, mengarungi jalan yang tidak terlalu ramai bersama Bang Tiyas dan sepeda motornya. bang Tiyas adalah kakak angkatku, entah bagaimana kami menjadi saudara angkat, yang kutahu sejak aku terlahir ke dunia 21 tahun silam, dia selalu menganggapku adiknya, bahkan Bang Tiyas lebih seperti kakak kandungku sendiri dibanding Bang Adam. Rumah Bang Tiyas tepat di hadapan rumahku, memiliki seorang adik yang juga sudah menjadi adik angkatku bernama Rey, seorang pelajar kelas 5 SD dan menjadi lelaki paling tampan di lingkungan kami! Sedangkan bang Adam adalah saudaraku satu-satunya, saudara kandung. Dia lebih tua setahun dari Bang Tiyas namun terpaut usia 3 tahun denganku. Saat itu Bang Adam telah menyelesaikan sekolahnya di SMA dan menyandang gelar mahasiswa baru, sementara Bang Tiyas kini berada di kelas 3 sekolahku. Satu hal kompak yang selalu mereka lakukan terhadapku yaitu selalu memberikanku batasan bergaul dengan para lelaki, berlagak seperti Bapak yang siap menerkam setiap kawan lelaki yang kukenal, itulah sebabnya hingga saat itu aku belum pernah merasakan jatuh cinta!

Masa SMA memang semenyenangkan yang kubayangkan sebelumnya, aku memiliki teman-teman yang baik dan begitu peduli padaku, terlebih lagi aku mendapatkan perlakuan khusus dari para kakak kelas karna statusku sebagai adik bang Tiyas dan Bang Adam yang kebetulan mantan ketua OSIS sekolahku dulu. Reputasiku cukup baik di kalangan teman-teman maupun guru-guru, namun aku bukan salah satu dari perempuan modis nan cantik di angkatanku. Aku yakin, tanpa kedua abangku, aku bukanlah siapa-siapa. Tapi, itulah yang membuatku bangga!

***

Suatu hari, tepatnya hari jumat, mata pelajaran biologi. Aku dan teman-temanku bergegas ke lab biologi yang kelasnya berada di depan kelas Bang Tiyas. Tiba-tiba sebelum memasuk lab, seorang lelaki berteriak ke arahku sambil melambai-lambaikan tangannya seraya menyuruhku untuk mendekat. Kuperhatikan wajahnya lekat-lekat, dia bukan Bang Tiyas. Aku tak bergerak, hanya melihat ke arahnya yang terus memanggil dan melambaikan tangan. hingga kulihat seorang pria berdiri di sampingnya sambil tertawa ke arahku, dia Bang Tiyas. Aku pun mendekat ke arahnya, namun lelaki yang meneriakiku dari tadi tiba-tiba menarik tanganku dengan kasar, aku hanya meringis.
"Lo Dira?" tanyanya.
"Iya kak", kataku.
"Oke, kita pacaran ya"
"Hah?", aku terbelalak, kuperhatikan lelaki itu baik-baik. Penampilannya cukup urakan dibanding Bang Tiyas, tampangnya belagu, dan sedikit kasar! Aku merasa risih dengan lelaki ini, sepertinya dia orang yang kejam yang dapat menyakitiku kapan saja.
"Iya, lo jadi cewek gue, titik!"
"Iiiih apaan sih", aku berusaha melepaskan tangannya dari lenganku, namun tangannya semakin mencekam sehingga membuatku merasa sakit. prediksiku benar, dia orang yang kejam!
"Lo bilang iya dulu baru gue lepesin kesana", jawabnya memaksa. Aku melihat ke arah Bang Tiyas dengan mata berkaca-kaca, aku hampir menangis karna tak ada seorang pun yang menyelamatkanku, Bang Tiyas hanya tersenyum seperti sedang menahan tawa. Mungkin aku sedang dikerjain, gumamku.
"Iya deh iya, saya masuk kelas dulu", jawabku kemudian yang dibalas dengan "Gitu dong, tuh kan dia mau". Aku tak peduli lagi dengan lelaki itu, aku buru-buru masuk lab, meskipun kepergianku menjadi sorotan puluhan pasang mata dari kakak kelas tiga, termasuk Bang Tiyas juga yang telah kuputuskan untuk ngambek padanya!

Setelah kelas berakhir, aku buru-buru ke parkiran mencari Bang Tiyas, biasanya ketika hari jumat dia akan bergegas pulang karena harus siap-siap untuk menunaikan sholat jumat. Kucari motor Bang Tiyas di tempat kami parkir sebelumnya namun tak ada, kuperiksa di gerbang sekolah namun tidak kutemukan juga sosoknya. aku mengeluarkan hpku dan menelfon Bang Tiyas, belum sempat Bang Tiyas menjawab, sebuah motor besar berwarna merah polos berhenti tepat di hadapanku, menjulurkan helm. aku tak bergerak, hanya menatapnya tak mengerti sambil tanganku masih memegang hp menunggu jawaban dari Bang Tiyas. "Lo nunggu Tiyas?", tanyanya yang tak kujawab, "Si Tiyas udah balik tuh. udah gue suruh pulang duluan". "Loh kok gitu?", kataku tak terima, "Iya lah. Lo pulang sama gue, kan gue cowo lo. mulai sekarang gue yang bakal boncengin lo kemanapun" balasnya sambil menyumbingkan bibir. aku makin kesal!
Aku bersiap-siap pergi dari tempatku berdiri tadi, berharap akan ada teman yang menawarkan diri untuk mengantarku pulang, atau mungkin aku akan pulang dengan menggunakan angkot kali ini. namun tiba-tiba, sebuah tangan menarik lenganku lagi, dengan gerakan cepat tangan satunya memakaikan helm di kepalaku. Aku terperangah oleh lelaki itu, "Udah ah buruan naiknya, entar abang lo marah-marah lagi kalo lo pulangnya telat". Aku tak dapat lagi berkata-kata waktu itu, masih belum percaya dengan apa yang terjadi padaku, masih belum terima dengan perlakuan kasar yang kuterima seharian ini. Aku ingin menangis, sungguh! tapi aku malu!

****

Sesampai di rumah, aku langsung masuk tanpa berkata apa-apa padanya, bahkan melirik pun aku tak sudi, helm yang kukenakan tak aku lepaskan, aku betul-betul marah. marah pada lelaki yang belum keketahui namanya itu, marah pada Bang Tiyas yang tega membiarkanku diperlakukan seperti itu! Tega kamu Bang!!! Aku langsung menyeberang ke rumah Bang Tiyas setelah berganti baju, kuketuk pintu kamarnya dengan menggebu meneriakkan namanya, Bang Tiyas keluar dengan setelan baju koko sambil tersenyum menahan tawa, aku makin murka! "Bang, tadi itu maksudnya apa sih? Tega banget Bang sama Dira, tegaaaaa!" kataku sambil memberikan hantaman di lengan Bang Tiyas. Ia tak melawan, namun hanya tertawa terbahak-bahak yang membuatku menaikkan level penyerangan, "Emang kenapa dek? Marah dikenalin sama cowok? Atau malu kali ya? Malu sama cowok yang menyatakan cinta gitu? hahahahahaha" jawabnya meledek. Aku langsung melototi Bang Tiyas, malu? mengapa harus malu coba. Bang Tiyas masih tertawa melihatku, hingga akhirnya ia harus bergegas ke mesjid untuk menunjukkan kelaki-lakiannya.

Aku kembali ke rumah, masuk kamar dan berusaha menenangkan diri. Sebenarnya dalam situasi ini aku sangat kebingungan, mengapa bisa Bang Tiyas mengizinkan temannya untuk mendekatiku? Apa karna dia temannya? Ah, kemarin-kemarin teman Bang Tiyas juga banyak yang berusaha mendekatiku, tapi Bang Tiyas marah. Atau karna dia berandalan? Iya mungkin saja. Mungkin saja dia mengancam Bang Tiyas dan Bang Tiyas takut padanya sehingga Bang Tiyas tidak berbuat apa-apa. Tapi mengapa Bang Tiyas tertawa? Oh iya, aku hanya siswa baru yang dikerjain oleh kakak kelas, iya mungkin. Tapi mengapa lelaki itu menyuruh Bang Tiyas pulang dan ingin mengantarkanku? mengatakan bahwa akan mengantarkanku kemana saja karna dia adalah pacarku? Apa maksud semua ini? Apa??? Siapa lelaki itu? Ada apa dengan Bang Tiyas? Bang Adam, aku merindukanmu Bang, ada yang menyakitiku, Bang...

****

Handphoneku tiba-tiba berbunyi ketika sedang mengerjakan PR Fisika di ruang tamu. Sebuah panggilan dari nomor baru, aku mengangkatnya.
"Haloo, Assalamualaikum", sapaku.
"Waalaikumsalam"
"Siapa ni?"
"Fauzan"
"Fauzan?"
"Iya, cowok lo"
"Maksudnya?"
"Iya gue Fauzan, cowok yang nembak lo di sekolah tadi, yang anterin lo pulang juga. Oia kita belum kenalan ya"
"Apaan sih kak, berhenti deh bercandain aku"
"Bercanda? Apa sih maksud lo? Siapa yang bercanda?"
"Udah ah, aku tutup yaa"
"Eh jangan, kita kan pacaran"
"Please deh kak Fauzan.. jangan ganggu aku lagi, entar aku aduin sama Bang Adam baru tau rasa"
"Hahahahaha Bang Adam? Aduin aja, silakan... Bang Adam sih temen gue juga kali"
"Terserah kamu deh kak, aku tutup yaa, Assalamualaikum". Aku langsung menutup telepon tanpa menunggunya menjawab salam.
beberapa saat kemudian sebuah sms darinya lagi-lagi membuatku terperangah
"Besok gue jemput di rumah, jangan berani-berani maksa Tiyas buat nganterin! sebenarnya gue udah bilang ke Tiyas juga sih. Jangan minta dianterin sama bokap, jangan minta dijemputin sama orang lain! Ingat, gue cowo lo"

0 comments:

Post a Comment

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang