Tuesday, 10 May 2016

Metode Pembelajaran PAKEM

2.1  Pengetian PAKEM
Rusman (2013:321) mengemukakan bahwa PAKEM berasal dari konsep pembelajaran yang harus berpusat pada anak (student-centre learning) dan pembelajaran harus bersifat menyenangkan (learning is fun), agar mereka termotivasi untuk terus belajar sendiri tanpa diperintah dan agar mereka tidak merasa terbebani maupun takut. Untuk itu, maka aspek learning is fun menjadi salah satu aspek dalam pembelajaran PAKEM, disamping upaya untuk terus memotivasi anak agar mereka mengadakan eksplorasi, kreatif, dan bereksperimen terus dalam pembelajaran.
Asmani (2011:59) menambahkan bahwa PAKEM adalah sebuah pendekatan yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap, dan pemahaman dengan penekanan belajar sambil bekerja (learning by doing). Sementara, guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar, termasuk pemanfaatan lingkungan, supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.
Uno (2012:10) mendefinisikan PAKEM sebagai salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Karena bidang garapannya tertuju pada bagaimana cara: (1) pengorganisasian materi pembelajajaran, (2) menyampaikan atau menggunakan metode pembelajaran, (3) mengelola pembelajaran sebagaimana yang dikehendaki oleh ilmuan pembelajaran selama ini, seperti Reigeluth dan Merill yang telah meletakkan dasar-dasar intruksional yang mengoptimalkan proses pembelajaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa PAKEM merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan pemahaman dengan mengutamakan belajar sambil bekerja, guru menggunakan berbagai sumber belajar dan alat bantu termasuk pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar agar pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.

2.2  Ciri-ciri Pembelajaran PAKEM
Sebagaimana telah diketahui, PAKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAKEM mempunyai ciri-ciri (Rusman, 2013:323-328) yang dijelaskan sebagai berikut:
a.       Partisipatif
Ciri pembelajaran partisipatif yaitu memungkinkan siswa terlibat dalam pembelajaran secara optimal, menitikberatkan pada keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran (child centre/student centre) bukan pada dominasi guru dalam menyampaikan materi pelajaran (teacher centre).
b.      Aktif
Ciri aktif dalam PAKEM berarti dalam pembelajaran memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif dengan lingkungan, memanipulasi objek-objek yang ada di dalamnya serta mengamati pengaruh dari manipulasi yang sudah dilakukan. Guru terlibat secara aktif dalam merancang, melaksanakan maupun mengevaluasi proses pembelajarannya. Guru diharapkan dapembpat menciptakan suasana yang mendukung (kondusif) sehingga siswa aktif bertanya.
c.       Kreatif
Kreatif merupakan ciri kedua dari PAKEM yang artinya pembelajaran yang membangun kreativitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan, bahan ajar serta sesama siswa lainnya terutama dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajarannya. Guru pun dituntut untuk kreatif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Guru diharapkan mampu menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.



d.      Efektif
Ciri ketiga pembelajaran PAKEM adalah efektif . Maksudnya pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
e.       Menyenangkan
Menyenangkan merupakan ciri keempat dari PAKEM dengan maksud pembelajaran dirancang untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Menyenangkan berarti tidak membelenggu, sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada pembelajaran, dengan demikian waktu untuk mencurahkan perhatian (time of task) siswa menjadi tinggi. Dengan demikian diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Secara garis besar, ciri-ciri PAIKEM menurut pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (Asmani, 2011:83) adalah sebagai berikut:
a.       Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
b.      Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
c.       Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’.
d.      Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
e.       Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.



Rose dan Nocholl (2003; Asmani, 2011:84) mengemukakan bahwa ciri-ciri pembelajaran yang menyenangkan adalah sebagai berikut:
a.       Menciptakan lingkungan tanpa stres (rileks), yaitu lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan, namun dengan harapan akan mendapatkan kesuksesan yang lebih tinggi.
b.      Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan.
c.       Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif. Pada umumnya, hal tersebut dapat terjadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain, ketika ada humor dan dorongan semangat, waktu rehat dan jeda yang teratur, serta dukungan antusias.
d.      Melibatkan secara sadar semua indra dan otak kiri maupun kanan.
e.       Menentang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan apa yang sedang dipelajari, dan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar.
PAKEM merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).
Pelaksanaan Pakem harus memperhatikan bakat, minat dan modalitas belajar siswa, dan bukan semata potensi akademiknya. Adapun ciri-ciri model pembelajaran PAKEM adala multi metode dan multi media; raktik dan bekerja dalam satu tim memanfaatkan lingkungsn sekitar; dilakukan di dalam dan luar kelas; serta multi aspek (logika, praktik dan etika).

2.3  Prinsip-prinsip Pembelajaran PAKEM
Pelaksanaan pembelajaran yang mengutamakan aspek keaktifan, kreatifitas dan inovatif, sehingga membuat pembelajaran menjadi efektif dan menyenangkan, menuntut guru untuk menguasai berbagai metode mengajar serta keterampilan dasar mengajar. Penguasaan berbagai metode mengajar tersebut akan memberi keleluasaan untuk memilih metode yang sesuai dengan metode yang sesuai dengan tujuan, materi, peserta didik dan aspek-aspek lainnya, sehingga prinsip-prinsip PAKEM dapat diterapkan secara optimal.
Rusman (2013:327) menjelaskan empat aspek yang memengaruhi model pembelajaran PAKEM, yaitu:
1.      Pengalaman; Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional. Melalui pengalaman langsung pembelajaran akan lebih memberi makna kepada sisa dari pada hanya mendengarkan.
2.      Komunikasi; Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik.
3.      Interaksi; Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah.
4.      Refleksi; Kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan. Proses refleksi sangat perlu dilakukan untuk mengetahui sejauhmana ketercapaian proses pembelajaran.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa indikator dan prinsip-prinsip penerapan PAKEM adalah sebagai berikut.

Indikator dan Prinsip-prinsip Penerapan PAKEM
No.
Indikator Proses
Penjelasan
Metode
1.
Pekerjaan Peserta Didik
(Diungkapkan dengan bahasa/kata-kata peserta didik sendiri)
PAKEM sangat mengutamakan agar peserta didik mampu berpikir, berkata-kata, dan mengungkap sendiri.
Guru membimbing peserta didik dan memajang hasil karyanya agar dapat saling belajar.
2.
Kegiatan Peserta Didik (peserta didik banyak diberi kesempatan untuk mengalami atau melakukan sendiri)
Bila peserta didik mengalami atau mengerjakan sendiri, mereka belajar meneliti tentang apa saja.
Guru dan peserta didik interaktif dan hasil pekerjaan peserta didik dipajang untuk meningkatkan motivasi.
3.
Ruangan Kelas
(penuh pajangan hasil karya peserta didik dan alt peraga sederhana buatan guru dan peserta didik)
Banyak yang dipajang di kelas dan dari pajangan hasil itu peserta didik saling belajar. Alat peraga yang sering dipergunakan diletakkan strategis.
Pengamatan ruangan kelas dan dilihat apa saja yang dibutuhkan untuk dipajang, di mana, dan bagaimana memajangnya.
4.
Penataan Meja dan Kursi
(Meja dan kursi tempat belajar peserta didik dapat diatur  secara fleksibel)
Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan berbagai cara/metode/teknik, misalnya melalui kerja kelompok, diskusi, atau aktivitas peserta didik secara individual.
Diskusi, kerja kelompok, kerja mandiri, pendekatan individual guru kepada murid yang prestasinya kurang baik, dan lain sebagainya.
5.
Suasana bebas (Peserta didik memiliki dukungan suasana bebas untuk menyampaikan atau mengungkapkan pendapat).
Peserta didik dilatih untuk mengungkapkan pendapat secara bebas, baik dalam diskusi, tulisan, maupun kegiatan lain.
Guru dan sesama peserta didik mendengarkan dan menghargai pendapat peserta didik lain, diskusi, dan kerja individual.
6.
Umpan Balik Guru
(guru memberi tugas yang bervariasi dan secara langsung memberi umpan balik agar peserta didik segera memperbaiki kesalahan).
Guru memberikan tugas yang mendorong peserta didik bereksplorasi; dan guru memberikan bimbingan individual atau pun kelompok dalam hal penyelesaian masalah.
Penugasan individual atau kelompok; bimbingan langsung; dan penyelesaian masalah.
7.
Sudut Baca
(Sudut kelas sangat baik bila diciptakan sebagai sudut baca untuk peserta didik)
Sawah, lapangan, pohon, sungai, kantor Pos, Puskesmas, stasiun dan lain-lain dioptimalkan pemanfaatannya untuk pembelajaran.
Observasi kelas, diskusi, dan pendekatan terhadap orangtua.
8.
Lingkungan Sekitar
(Lingkungan sekitar sekolah dijadikan media pembelajaran)
Sawah, lapangan, pohon, sungai, Kantor Pos, Puskesmas, stasiun dan lain-lain dioptimalkan pemanfaatannya untuk pembelajaran.
Observasi lapangan, eksplorasi, diskusi kelompok, tugas individual, dan lain-lain.


2.4  Penerapan Metode Pembelajaran PAKEM
2.4.1        Langkah-Langkah Pembelajarn PAKEM
Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan PAKEM perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP, kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA/SMK terdiri dari 45 menit, SMP terdiri dari 40 menit, dan untuk SD terdiri dari 35 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. Dalam hal ini guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri.
a.       Kegiatan Tatap Muka
Kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi. Tapi jika sudah ada sekolah yang menerapkan sistem SKS, maka kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi.
b.      Kegiatan Tugas terstruktur
Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek. Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi.
c.       Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur
Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.

2.5  Model Pembelajaran yang Berorientasi pada PAKEM
2.5.1  Examples Non Examples
Langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah:
a.       Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
b.      Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
c.       Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
d.      Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
e.       Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
f.       Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
g.      Kesimpulan

2.5.2 Picture And Picture
Langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah:
a.       Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
b.      Menyajikan materi sebagai pengantar
c.       Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
d.      Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
e.       Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
f.       Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
g.      Kesimpulan/rangkuman

2.5.3 Numered Head Together
Langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah:
a.       Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
b.      Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
c.       Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
d.      Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
e.       Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
f.       Kesimpulan

2.5.4 Cooperative script
Cooperative script merupakan metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. (Dansereau, 1985). Langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah:
a.       Guru membagi siswa untuk berpasangan
b.      Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
c.       Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
d.      Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap, membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya, bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya.
e.       Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru.
f.       Penutup

2.5.5 Kepala Bernomor Struktur
Langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah:
a.       Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
b.      Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya, siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka.
c.       Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain.
d.      Kesimpulan

2.5.6 Student Teams-Achievement Divisions (STAD)
Langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah:
a.       Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll).
b.      Guru menyajikan pelajaran
c.       Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d.      Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
e.       Memberi evaluasi
f.       Kesimpulan

2.5.7 Jigsaw (Model Tim Ahli)
Langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah:
a.       Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
b.      Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
c.       Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
d.      Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
e.       Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
f.       Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
g.      Guru memberi evaluasi
h.      Penutup

2.6.8 Problem Based Introductuon (PBI)
Langkah-langkah yang dilakukan dalam model pembelajaran ini adalah:
a.       Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
b.      Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
c.       Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
d.      Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
e.       Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

2.6  Kendala dan Saran dalam Penerapan PAKEM
Menurut Asmani (2011:191) beberapa kendala dalam aplikasi pembelajaran PAKEM yaitu:
a.       SDM Guru
Dalam penerapan PAKEM, dibutuhkan guru yang kreatif, yaitu guru yang mampu mencari celah ditengah keterbatasan, kepenatan dan kejenuhan siswa. Guru kreatif mampu menyegarkan suasana, membangkitkan semangat dan memompa potensi siswa. Guru kreatif mampu menyuguhkan variasi pendekatan strategi yang dinamis, kontekstual dan produktif. Ironisnya, mayoritas guru masih banyak yang jauh dari kategori kreatif ini. Mereka lebih suka menempatkan siswa sebagai objek, tidak memberikan ruang diskusi interaktif dan hamya berpikir menuntaskan target kurikulum, tanpa melihat daya serap anak didik.
b.      Siswa Pasif
PAKEM membutuhkan mentalitas siswa yang aktif, kritis, analitis dan responsif. Dengan mentalitas seperti ini, pembelajaran akan berjalan dengan lancar, berkualitas dan penuh makna. Siswa semakin kaya akan pengetahuan, wacana dan informasi. Kedewasaan dan kematangan akan tumbuh dalam berdiskusi. Mayoritas siswa di negeri ini masih termasuk kategori pasif. Mereka belum terbiasa untuk bertanya, berdiskusi dan berdebat. Ini tidak lepas dari fakta bahwa sekolah bukan lembaga yang menyamai berpikir kritis, analitis dan solutif.
c.       Sarana dan Prasarana
PAKEM membutuhkan sarana prasarana yang representatif. Pengaturan ruang mempunyai pengaruh besar dalam menciptakan animo dan antusiasme guru dan siswa. Dengan ruangan yang dikondisikan, secara psikologis guru dan siswa akan bergerak dan termotivasi untuk mempraktikannya. Tanpa sarana dan prasarana sebenarnya PAKEM bisa dilaksanakan, tergantung kreativitas guru, namun hasilnya lebih memuaskan apabila ada sarana prasarana yang mendukung.
d.      Lemahnya Pengawasan
Guru membutuhkan pengawasan dalam pengajarannya. Dalam aplikasi PAKEM, pengawasan harus lebih ditingkatkan. Dengan adanya pengawasan langsung, guru akan terdorong untuk menerapkan PAKEM dengan baik.
e.       Manajemen kurang mendukung
Manajemen tertutup, sentralistik dan diktator sudah harus dihilangkan dalam model manajemen modern sekarang ini. Karena tidak mampu mengembangkan kretativitas dan menghambat lahirnya inovasi spektakuler yang lainnya.


f.       Anggaran
Memang harus diakui, anggaran menjadi masalah klasik di dunia pendidikan, khususnya kalangan negeri yang tidak kreatif dan inovatif dalam mencari trobosan dana. Berbeda halnya dengan kalangan swasta yang progresif dalam mengembangkan aspek ekonomi. Mereka dengan leluasa merespon setiap perkembangan dan perubahan dengan cepat dan akurat.
Asmani (2011:191) menambahkan beberapa saran dalam aplikasi metode pembelajaran PAKEM, yaitu:
a.       Memprioritaskan Pelatihan Guru; Ujung tombak PAKEM adalah guru. Ditangan gurulah terletak efektif tidaknya PAKEM. Oleh sebab itu, langkah yang pertama dan utama untuk meyukseskan program ini adalah mengadakan pelatihan guru secara intensif dan ektensif.
b.      Optimalisasi Microteaching; Microteaching menjadi trobosan progresif dalam pengajaran. Microteaching ini bisa dijadikan eksperimentasi PAKEM.
c.       Mencoba Team teaching; Team teaching adalah sisten mengajar yang diasuh oleh beberapa guru yang mempunyai keahlian mendalam (tim). Misalnya IPA diasuh oleh 2 guru, yang satu menerangkan dan yang lainnya mengamati dalam kelas untuk melihat respons siswa dan berusaha menggugah semangat belajar siswa.
d.      Menerapkan Moving Class; Moving class adalah sistem pembelajaran di mana siswa harus berpindah-pindah kelas, sesuai pelajaran yang diajarkan. Siswa perlu suasana, tempat dan kondisi baru sehingga tidak jenuh.
e.       Berlatih Membuat Ice Breaker; Salah satu cirri PAKEM adalah menyenangkan. Oleh karena itu, guru harus mampu membuat suasana gembira, misalnya dengan membuat ice breaker (pemecah kebekuan) agar suasana menjadi cair, humoris dan tidak tegang.
f.       Membuat Diktat Praktis; Ketika menyusun diktat, guru harus menulisnya dengan gaya PAKEM, yaitu diktat yang bisa menjadi panduan pembelajran interaktif, menyenangkan dan mempunyai kualitas tinggi.

g.      Sedikit Bicara Banyak Diam; Guru yang baik adalah guru yang sedikit bicara banyak diam. Sedangkan siswa yang baik adalah yang banyak bicara, sedikit diam. Artinya, guru berusaha menahan diri untuk tidak banyak berbicara. Biarkan siswa-siswa mengekspresikan gagasan dan pemikirannya secara leluasa.



DAFTAR PUSTAKA
Asmani, J.M. (2011). 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Yogyakarta: Diva Press.

Rusman. (2013). Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Uno, H. (2012). Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara.

2 comments:

 

Menulis selalu lebih menyenangkan daripada kerja tugas! Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang